Jorge Martín: “Dengan Ducati, Saya Yakin Bisa Bertarung dengan Marc Márquez Sampai Akhir!”

TMCBLOG.com – Lama tak terdengar kabarnya, nama Jorge Martín kembali mencuat dengan pernyataan yang cukup menggegerkan jagat MotoGP. Setelah musim 2025 yang benar-benar penuh prahara, ‘Martinator’ – julukan yang melekat padanya – mencoba menguak kembali lembaran-lembaran kelam dan terang di balik nomor 89 yang kini kembali ia pakai. Dari puncak dunia di akhir 2024 hingga terjun bebas ke jurang cedera dan ketidakberuntungan, kisah Martín adalah roller coaster emosi yang patut disimak. Mari kita bedah satu per satu sob !

Dari Juara Dunia ke Rentetan Cedera: Musim 2025 yang Penuh Derita

Mungkin kita semua masih ingat euforia Jorge Martín saat berhasil mengunci gelar Juara Dunia MotoGP 2024. Sebuah capaian fantastis bersama tim satelit Pramac Ducati. Namun, siapa sangka, musim 2025 menjadi antitesis total dari kemegahan itu.

“Dari langit ke neraka,” begitulah deskripsi yang tepat untuk perjalanan Martín. Empat cedera, empat kali meja operasi, dan sederet Grand Prix yang terpaksa ia lewatkan. Sebuah neraka bagi seorang juara dunia yang berniat mempertahankan gelarnya. Keputusannya meninggalkan Pramac Ducati dan bergabung dengan Aprilia, yang saat itu menjadi sorotan, ternyata tak berjalan mulus.

Bayangkan saja deh : Martín hanya sanggup tampil di delapan Grand Prix, ambil bagian dalam tujuh balapan, dan hanya empat kali melintasi garis finis. Sebuah rekor yang memilukan bagi seorang pembalap sekelas dirinya.

Cedera pertama muncul di awal pramusim Sepang. Belum sempat debut di GP Thailand, ia kembali cedera saat mencoba motor supermotard. Tiga balapan awal pun melayang.

Kembali di Qatar, lagi-lagi nasib buruk menimpa. Ia tergulung oleh pembalap lain dalam insiden serius. Ini mungkin cedera terparah yang sangat memengaruhi seluruh musimnya. Tujuh Grand Prix ia lewatkan, baru kembali di pertengahan musim, tepatnya di GP Republik Ceko.

Tak berhenti di situ sob, Setelah lima kali penampilan, di Jepang ia terjatuh di awal balapan Sprint, menyeret serta rekan setimnya, Marco Bezzecchi, dan kembali mengalami cedera. Alhasil, seluruh tur Asia pun terpaksa ia lewatkan.

‘Martinator’ akhirnya kembali di seri terakhir di Valencia, namun memutuskan retired karena minimnya aktivitas balap dan demi menyimpan energi untuk tes pramusim 2026 yang hanya berselang 48 jam. Benar-benar musim yang berat!

“Saya Adalah Salah Satu dari Lima Pembalap Referensi MotoGP”

Meskipun dihantam badai cedera dan sempat keluar dari sorotan media, Jorge Martín menunjukkan mental baja. Dalam wawancara eksklusif dengan Motorsport.com di Misano, ia membahas banyak hal, termasuk bagaimana rasanya berpindah dari puncak ketenaran ke bayang-bayang.

“Itu sama sekali tidak memengaruhi saya, saya merasa selalu menjadi sorotan. Saya selalu mengatakannya, karena satu atau lain hal, nama saya selalu muncul di mana-mana. Baik itu wawancara di ‘El Hormiguero’, ‘La Resistencia’, tentang (keinginan saya pergi dari) Aprilia, cedera saya, atau kembalinya saya. Saya merasa saya adalah salah satu pembalap referensi, bersama dengan Marc (Márquez), Fabio (Quartararo), Pecco (Bagnaia), dan Pedro (Acosta). Kami berlima adalah pembalap yang selalu ada di sana, dan saya harap saya akan terus seperti itu. Bukan karena ego, saya tidak peduli apakah orang membicarakan saya atau tidak, tetapi saya merasa memang begitu, kami (berlima) adalah ujung tombak,” tegas Martín dengan penuh keyakinan.

Andai Tetap di Ducati: Sebuah Penyesalan dan Keyakinan Kuat

Ini dia, Brosis, poin paling menarik dari pernyataan Martín! Pada Juni 2024, saat Ducati memutuskan memilih Marc Márquez untuk tim pabrikan, mereka sebenarnya menawarkan Martín untuk tetap di Pramac dengan material identik dengan motor #93. Namun, ia menolak dan memilih hijrah ke Aprilia.

Tentu, ini adalah ranah fiksi ilmiah untuk membayangkan apa yang akan terjadi jika ia tetap bersama DesmosediciGP. Namun, Martín memiliki pandangan kuat.

“Kita tidak akan pernah tahu. Tetapi melihat musim Alex Márquez (di Gresini Ducati) dan melihat catatan waktu balapan tahun ini dibandingkan dengan 2024, saya rasa saya bisa bertarung (untuk gelar),” nilai Martín, merujuk pada perebutan gelar juara dunia.

“Jelas, saya akan memberikan 100% saya, dan saya pikir 100% itu akan cukup untuk bertarung, saya tidak mengatakan untuk mengalahkan Marc, karena itu tidak mungkin diketahui sekarang, mungkin kita akan tahu nanti. Karena apa yang telah dilakukan Marc tahun ini sangat luar biasa. Tapi saya menganggap diri saya kuat dan saya percaya bahwa, dengan mempertahankan motor yang sama untuk satu tahun lagi dan dengan lebih banyak pengalaman, saya pasti bisa bertarung. Tapi itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kita ketahui,” ungkapnya dengan nada sedikit penyesalan.

Marc Márquez: Rival Kuat di Trek dan di Mata Media

Marc Márquez memang tak terbantahkan di trek pada musim 2025, dan ia juga tak kalah kuat di media sosial. Pernyataan Martín ini pasti akan memancing reaksi dari para penggemar setia Márquez.

“Di media sosial, saya tidak tahu, karena saya tidak terlalu sering melihat akun pembalap lain, sejujurnya. Bahkan, banyak dari mereka yang saya senyapkan karena saya tidak ingin melihat postingan mereka,” aku Martín.

Namun, ia mengakui kekuatan Marc sebagai rival. “Tapi saya pikir Marc adalah lawan yang lebih sulit di trek, dia adalah binatang kompetitif dan selalu mencoba mengalahkan Anda, bahkan jika itu berisiko jatuh dan kehilangan gelar dunia. Dia akan selalu berusaha memenangkan balapan,” pujinya.

21 COMMENTS

  1. Gimana ya, kecelakaan besar karena latihan kan. Jangan pernah ambil keputusan saat marah atau cidera, jika terlanjur ambil keputusan saat kecewa, ya mau gak mau terima hasil-nya.

  2. Lagian, siapa juga yg ngide pindah pabrikan. Bertahan sama mantan tim kemarin kan lumayan, minimal bisa P3-P4. Sabar gitu lho tin, ngaca, pembalap di factory tuh punya lebih banyak gelar.

  3. Boleh boleh aja sih pemikirannya itu namun dengan syarat dia pake GP 24nya.. kalo GP 25 belum tentu juga.

  4. Ego lu kegedean tin..tin!
    Dia lupa dia sendiri sempet ngotot buat putusin kontrak dr Aprilia,kalo bukan karena performa bezz dia ga bakal balik badan,tapi gak dia sebut sebagai salah satu rider referensi

    Bersaing ama teammate nya aja belum teruji,kok ngimpi bersaing ama marc

  5. Sangat ga yakin bisa bersaing karena jika masih di Duc martin pake GP25 yang jelas berbeda di banding GP24 ……martin dan peco itu sejenis akan kesulitan pakai GP25 …di apri saja bez lebih bisa adaptasi malah hasilnya bagus

  6. Saya saya saya dan saya, sekali lagi saya.
    Sombong sekali orang ini.
    Jurdun paling gak respek.

    Seandainya gak pindah pun, masih di Ducati dengan senjata motor yang sama, gak yakin dia bakal ngerecoki Marc.

  7. Jelas kondisi dia bakal sama kayak Pecco misalkan tetep bertahan di Duc, gausah ngayal ketinggian Tin anda tuh selevel ama Pecco.

  8. Referensinya dengan alex yg pakai GP24 ya gk sesuai karena tawarannya kan pakai motor identik dengan marc yg di 2025 pakai GP25 yg bikin pembalap lain kesulitan menyesuaikan setelah dimanjakan oleh performa GP24 di tahun sebelumnya, referensinya harusnya temen setim dia di aprilia sekarang yg juga sebelumnya pakai ducati yaitu bezzechi dimana bezz bisa terbilang sukses menyesuaikan diri dengan karakter RSGP sedangkan martin gagal total, artinya kemampuan dia dengan bezz itu mungkin masih lebih bagus bezz dalam faktor adaptasi jadi pembalap mantan pengguna GP24 yg ditahun 2025 masih gk bisa move on dari GP24 ya gk bisa dibilang pembalap referensi karena hanya sebatas itu aja kemampuannya

  9. Apakah Martin lupa,Marquez adalah generasi alien angkatan terakhir bersama lorenzo,Rossi wkwk,jika Martin ada diera mereka bakalan cuma remah2 pembalap

  10. ini orang kebanyakan berandai-andai, tidak bisa menerima apa yang terjadi, bahkan karena ulahnya sendiri. poor you

  11. demi gengsi “pebalap factory”
    padahal lebih bergengsi lagi kalau bisa ngalahin MM dari tim satelit dengan paket yang sama. Persis apa yg dia lakukan thd Pecco.

    • Lho dulu waktu mau pindah ke april bayangannya bisa kencang dan bisa menyaingi duca + marquez, eh malah bezz yang bisa mewujudkan walaupun telat.

  12. dengan mengeluarkan statement seperti ini, dia makin terlihat memalukan.

    udahlah, harusnya fokus ke depan aja buat berkembang dengan jalan yang dia pilih sendiri.

    Dan kalo saya jadi bos aprilia, tanpa pikir panjang putus kontrak si martin. ngga ada etikanya banget, itu kan sama aja ngatain aprilia ngga becus ngeracik motor.

  13. Marc:jika Honda adalah motor seperti Ducati maka tidak ada juara dunia sepertimu tin. Sono lanjut main sama madun aja

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP