TMCBLOG.com – Setelah kita dibuat heboh dengan kemenangan dramatis Luciano Benavides di Dakar 2026, kali ini kita geser radar ke aspal panas MotoGP. Ada kabar teknis yang sangat menarik dari jurnalis senior Alessio Piana mengenai kelanjutan implementasi Sistem Komunikasi Radio untuk pebalap MotoGP.
Kabarnya, Dorna mulai menyeriusi fase transisi besar di musim 2025 dan 2026 ini. Gimana sih jeroan teknisnya? Mari kita bedah bareng-bareng dari meja redaksi TMCBlog. Cekidot!
Teknologi Bone Conduction: Suara Lewat Getaran Tulang!
Salah satu tantangan terbesar memasang radio di helm MotoGP adalah kebisingan. Bayangkan, Sob, mesin 1.000cc MotoGP itu teriak sampai 130 desibel lebih! Belum lagi suara angin (wind noise) saat pebalap melaju 350 km/jam. Kalau pakai earpiece biasa seperti di F1, telinga pebalap bisa sakit dan mereka kehilangan “feeling” terhadap suara mesin mereka sendiri.
Nah, solusi teknis yang sedang dimatangkan adalah sistem Bone Conduction (konduksi tulang). Perangkat ini tidak dimasukkan ke dalam lubang telinga, melainkan ditempelkan pada tulang pelipis atau di belakang telinga dekat earlobe.
-
Cara Kerja: Suara dikirim dalam bentuk getaran langsung ke tulang tengkorak menuju telinga dalam.
-
Kelebihan: Pebalap tetap bisa memakai earplug standar untuk melindungi pendengaran dari suara mesin, tapi tetap bisa mendengar instruksi radio dengan sangat jelas karena jalurnya berbeda.
Roadmap Implementasi: Tiga Fase Krusial
Berdasarkan info yang beredar, Dorna nggak mau gegabah. Ada tiga fase yang direncanakan:
-
Fase 1 (Sudah Mulai 2025): Komunikasi searah dari Race Direction ke pebalap. Isinya murni soal keamanan (safety), seperti notifikasi bendera merah, kecelakaan di depan, atau penalti. Pesannya dibuat sangat pendek dan padat agar tidak memecah konsentrasi.
-
Fase 2 (Musim 2026): Komunikasi dua arah antara pebalap dan Race Direction. Di sini pebalap mulai bisa memberikan feedback balik ke pusat kontrol balap.
-
Fase 3 (Target Masa Depan/2027): Komunikasi penuh antara pebalap dan tim (Pitwall), mirip banget sama F1. Ini yang paling ditunggu untuk kebutuhan strategi dan drama di TV!
Tantangan Teknis: Aerodinamika & G-Force
Banyak pebalap, termasuk Pecco Bagnaia dan Alex Marquez, sempat memberikan masukan pedas saat tes. Masalah utamanya bukan cuma suara, tapi kenyamanan di dalam helm. Pada kecepatan tinggi, helm MotoGP mengalami tekanan aerodinamika yang luar biasa. Adanya perangkat tambahan di dalam helm bisa menyebabkan titik tekan (pressure point) yang bikin kepala pusing kalau dipakai balapan 40 menit. Selain itu, kabel atau baterai kecil yang disematkan harus dipastikan tidak berbahaya jika terjadi benturan keras (crash).
Secara teknis, ini adalah langkah revolusioner. MotoGP selama ini adalah olahraga yang sangat “kesepian” bagi pebalap begitu lampu start padam. Mereka hanya mengandalkan dashboard dan pit board. Dengan adanya radio, strategi flag-to-flag atau kondisi cuaca yang berubah-ubah bakal jadi jauh lebih dinamis.
Namun, TMCBlog setuju dengan beberapa pebalap yang bilang jangan sampai radio ini malah merusak pure racing. Jangan sampai instruksi tim terlalu mendikte gaya balap mereka. Biarlah radio jadi alat pendukung keselamatan dan strategi, bukan “remote control” yang bisa mengendalika semua perilaku si pebalap.
Gimana menurut Sobat sekalian? Apakah setuju MotoGP pakai radio ala-ala F1 begini? Silahkan tulis pendapatmu di kolom komentar ya!
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog



Saya ga suka drama berlebihan… Karena motor harus 100% focus, sebab di situ full keseimbangan antara motor, pembalap, gravitasi,sirkuit,tekanan angin,felling tentang menyalip atau mengerem dsb itu sangat butuh konsentrasi
sy ngga setuju pakai radio komunikasi, via dashboard dan pitboard sudah cukup, ini balapan motor bukan rally
Bukannya masa depan tidak perlu pembalap, motor bisa jalan otonom