Inilah Alasan Joan Mir Tak Menyesal Meski Sering DNF Bersama Honda

TMCBlog.com — Sobat sekalian, jika kita menengok tabel klasemen sementara MotoGP 2026 pasca seri COTA-Austin, posisi Joan Mir memang terlihat sangat mengkhawatirkan. Bayangkan, dari enam balapan yang sudah dijalankan, juara dunia 2020 ini mencatatkan lima kali skor nol alias DNF. Satu-satunya poin yang ia raih hanyalah 3 poin saat seri pembuka di Thailand.

Namun, di balik rentetan hasil “ndlosor” tersebut, Joan Mir justru mengeluarkan pernyataan yang cukup berani dan filosofis. Ia mengaku sama sekali tidak menyesali apa yang ia lakukan di lintasan, terutama setelah balapan di Austin kemarin. Apa alasannya? Mari kita kupas tuntas

Bukan Sekadar “Pelengkap” di Lintasan

Bagi seorang pembalap dengan kaliber juara dunia, membalap hanya untuk sekadar finis tanpa memberikan perlawanan adalah hal yang sulit diterima secara mental. Joan Mir menegaskan bahwa ia tidak ingin hanya menjadi sekadar penggembira di barisan belakang.

Di Austin, Mir sebenarnya menunjukkan sinyal positif dengan berhasil start dari posisi ke-5. Ambisinya adalah kembali bertarung di barisan depan seperti saat ia meraih podium di Jepang dan Malaysia musim lalu. “Saya harus mencobanya; saya tidak menyesali apa pun,” ungkapnya kepada rekan media. Bagi Mir, lebih baik terjatuh saat mencoba bertarung daripada finis di posisi belasan tanpa usaha ekstra.

Analisis Teknis: Kompensasi yang Berisiko Tinggi

Secara teknis, alasan di balik seringnya Mir terjatuh musim ini berakar pada karakteristik motor Honda RC213V yang belum sempurna, terutama pada area Rear End (bagian belakang).

  1. Masalah Grip Belakang: Mir menjelaskan bahwa motornya kehilangan banyak waktu saat keluar tikungan (exit corner) karena kurangnya daya cengkeram ban belakang.

  2. Kompensasi di Front End: Untuk mengejar ketertinggalan waktu tersebut, Mir terpaksa membalap dengan gaya “All-out” saat masuk tikungan (entry corner). Ia melakukan pengereman yang sangat dalam (late braking) untuk mengompensasi waktu yang hilang saat akselerasi.

  3. Ambruknya Limit Ban Depan: Ketika seorang pembalap terus-menerus memaksa front end untuk bekerja melampaui batasnya guna menutup kelemahan di sektor lain, risiko kehilangan kendali ban depan (lose the front) menjadi sangat tinggi. Inilah yang menjadi skenario umum jatuhnya Mir di banyak seri awal 2026.

Efek Slipstream di Zona Pengereman

Mir juga menyoroti satu detail teknis yang sering luput dari pengamatan awam: kesulitan mengerem saat berada di dalam slipstream (tekanan udara rendah di belakang pembalap lain).

Saat membalap sendirian, Mir merasa bisa melaju cukup cepat tanpa risiko yang terlalu besar. Namun, ketika harus bertarung dalam rombongan, ia harus mengambil risiko ganda saat mengerem di zona slipstream. Udara yang tidak stabil di belakang motor lawan membuat motor lebih sulit berhenti, memaksa Mir menekan rem lebih keras lagi yang akhirnya berujung pada hilangnya traksi ban depan.

Sobat sekalian, apa yang dilakukan Joan Mir saat ini adalah bentuk dedikasi untuk menemukan batas maksimal dari paket motor yang ada. Ia memilih untuk terus menekan (pushing) guna memberikan data kepada para insinyur HRC mengenai di mana letak kelemahan fatal motornya.

Meski lima kali skor nol sangat menyakitkan bagi tim, mentalitas “pantang menyerah” dari Mir ini diharapkan bisa menjadi pemicu bagi Honda untuk segera memperbaiki area rear end agar ia tidak perlu lagi mengambil risiko ganda hanya untuk sekadar bersaing di posisi sepuluh besar. Semoga di seri-seri Eropa mendatang, ada solusi teknis yang lebih konkret bagi Mir.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

11 COMMENTS

  1. Ndak tau juga gimana Honda menyikapi fenomena gagal jurdun stelah bertahun tahun mendominasi.mau ridernya mm versi cedera, atau bukan MM

  2. Yaaa… Blajar jglah mengenali batas limit motor dmna,sperti si hiu yg ttep bs di dpan tnpa trjatuh mski mtor blom smpurna, dlu kan doi sring jatuh jg,di situlah dia bljar mmgenali batas kritis,sprti halnya jg 93,lha klo cman gas pol ,jatuh urusan blkng… Hrus nya jatuhnya di posisi depan…kasian jg timnya yg slalu perbaiki motor tiap weekend…kt liat aja el diablo musim dpan msih sm apa ga

    • Ya kalo dikendarai dibawah limit terus, sunmori dibelakang dong. Kali ini kan mir mulai sering di depan. Masih tinggi daya juang nya.

  3. Kasian mekanik jg kali,masa tiap sesi harus lembur gara2 lu,mereka jg mau lihat hasil dr kerja keras mereka

  4. Ini mentalitas yang gak baik, seolah² dia hanya membalap untuk dirinya sendiri, bukan untuk team dan pabrikan. Kalau nyari limit ya cukup di practice aja, gak usah melampaui batas terus saat race. Misal gini terus ya value Mir jelas kalah ketimbang Marini

  5. Pabrikan tdk hanya butuh input saja dgn ride over limit, tapi juga butuh poin untuk kejuaraan

  6. Mir bisa saja race cari aman sekedar finish demi dapat poin,tapi apakah pilihan ini bisa diterima team dan HRC

  7. Balita pun nyari limit biar bisa berdiri dan gak jatuh lagi. Dan terbukti balita pun bisa memahami. Jangankan balita, hewan pun demikian.

    Lah yang ini piye ?
    Sebenarnya dia ini bisa di bilang paling tau limit hnda(itupun kalo memang belajar).

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP