TMCBLOG.com- Mari kita gelar tiker dan seduh kopi hangat, karena ada kabar super menarik dan beraroma nostalgia yang datang langsung dari paddock MotoGP Assen. Siapa lagi kalau bukan sang juara dunia bertahan, Marc Marquez. Baru-baru ini, setelah Ducati secara resmi mengumumkan perpanjangan kontrak berdurasi dua tahun (hingga 2028) bersama tim pabrikan Ducati, sebuah fakta mengejutkan terungkap.
Kepada DAZN, pembalap bernomor start #93 ini mengakui secara blak-blakan bahwa dirinya sempat melakukan komunikasi informal dengan pihak Honda (HRC) sebelum dirinya resmi menandatangani kontrak baru dengan pabrikan Borgo Panigale. Hal ini mengkonfirmasi informasi tmcblog beberapa hari yang lalu tentunya.
Obrolan Santai di Truk HRC
Persis Menurut informasi yang beredar, pertemuan rahasia tapi santai ini sebenarnya terjadi pada hari Jumat di seri penutup Valencia tahun lalu. Bertempat di dalam salah satu truk hospitality milik HRC, Marc yang kala itu sedang dalam masa pemulihan, sempat mengobrol dengan para bos Honda. Pihak Honda kabarnya mencoba menjajaki kemungkinan alias checking wave untuk melihat apakah ada peluang membawa pulang sang “anak hilang” ke pabrikan sayap mengepak tersebut.
Namun, Marc menegaskan bahwa obrolan tersebut murni sebatas obrolan ramah tamah tanpa ada sodoran proposal kontrak formal atau pembahasan angka-angka nominal.
“Ada percakapan informal, tetapi saya sudah jelas bahwa sebelum melangkah, saya ingin mendengarkan komitmen dari Ducati terlebih dahulu. Jika saya merasa bahagia di sini, saya tidak akan ikut dalam ‘permainan’ spekulasi pindah ke sana kemari. Dan dengan Ducati, kami duduk bersama lalu langsung saling memahami sejak awal,” ungkap Marc Marquez.
Rasionalitas Mengalahkan Romantisme
Mas bro tentu ingat betul bagaimana emosionalnya perpisahan Marc dengan Honda di akhir musim 2023 lalu. Marc rela melepas kontrak bernilai sekitar 20 juta Euro demi membalap secara ‘gratis’ di tim satelit Gresini Racing demi membuktikan bahwa dirinya masih kompetitif di atas Desmosedici.
Marc mengakui kalau menuruti kata hati, kembali ke pelukan Honda akan menjadi cerita yang sangat indah layaknya sebuah film drama romantis. Honda adalah keluarga balapnya, tempat di mana ia merengkuh 6 dari 7 gelar juara dunia kelas premiernya. Namun, Marc memilih untuk berpikir logis.
“Kembali ke Honda tentu akan sangat romantis, dan jelas saya memiliki keinginan besar untuk itu. Namun, saya sudah mengambil terlalu banyak risiko di atas lintasan. Ada kalanya kita harus menilai sesuatu dengan kepala (logika), bukan dengan hati, sama seperti keputusan terakhir yang saya ambil (saat meninggalkan Honda). Dan terbukti, keputusan itu membuahkan hasil manis,” lanjut Marc.
Efek Domino ke Quartararo dan Regulasi Baru
Nah, karena Honda akhirnya menyadari bahwa pintu untuk memulangkan Marc Marquez sudah tertutup rapat karena Marc lebih memilih bertahan di Ducati, pabrikan Jepang itu langsung mengalihkan target mereka. Hasilnya? HRC langsung bergerak cepat mengamankan tanda tangan Fabio Quartararo di awal tahun untuk memimpin proyek masa depan mereka, terutama dalam menyambut regulasi mesin baru 850cc di musim 2027 nanti.
Menariknya, saat ditanya mengenai peta kekuatan menjelang perubahan regulasi besar-besaran di tahun 2027, Marc Marquez memprediksi bahwa dominasi tidak akan langsung bergeser drastis. Menurut analisisnya, Ducati dan Aprilia masih tetap akan menjadi acuan utama di grid MotoGP.
Sambil bercanda, Marc juga mengatakan bahwa para pembalap top saat ini sebenarnya kurang memanfaatkan situasi bursa transfer untuk menuntut lebih kepada pabrikan. Mengapa? Karena dengan adanya perubahan regulasi besar di depan mata, pabrikan pun tidak bisa menjamin 100% bisa memberikan motor terbaik. Kebalikannya, tim lah yang diuntungkan karena mereka tahu mereka mendapatkan pembalap yang sudah terbukti cepat.
Dari kacamata TMCBLOG, apa yang dilakukan Marc Marquez ini sangatlah dewasa dan profesional. Marc menghormati sejarah besarnya bersama Honda, namun di fase karirnya saat ini, paket motor yang kompetitif dan jaminan juara adalah prioritas utama—sesuatu yang saat ini baru bisa dijamin oleh Ducati.
Keputusan Marc untuk langsung deal dengan Ducati begitu ada kesepahaman menunjukkan bahwa doi gak mau main-main atau sekadar menaikkan nilai tawar (bargaining power) menggunakan nama Honda. Di sisi lain, Honda juga bergerak realistis dengan mengunci Quartararo. Silakan dikunyah-kunyah sob, Apakah keputusan Marc menolak “romantisme” Honda ini sudah paling tepat untuk karirnya ke depan?
Taufik of BuitenZorg | @TMCBLOG





untuk 2 tahun ke depan sudah sangat logi MM mengambil ducati sebagai labuhan karirnya… gak tau kalo nanti Honda sudah bebenah dan kompetitif tidak menutup kemungkinan MM akan gabung kembali dengan Honda,, kalo belum pensiun… Time will tell..
Tahun depan semua mulai dari nol lagi, tapi skillbdan pengalaman tetap akan menentukan.
Adaptasi dg motor baru palingan cuman beberapa seri, lepas itu sudah seperti biasa lagi. CMIIW
Ga da yang namanya dari nol
Tahun kemarin hingga tahun skrg siapa yg kompetitif dia yg paham pengembangan paket mutlak.. tahun depan (2027) tinggal setel sana sini dengan ritme dan arah pengembangan yg jelas
Malah bisa jadi hongda yg justru tertinggal dr ymh yg makin mateng dgn v4 nya
Ban dan pembalap akan jadi faktor utama penentu kekuatan di 2027.
Yamaha punya Toprak, ducati di vr46 (akan) punya bulega.
Harusnya 2 pabrikan ini yg bisa langsung bertaji.
Dan hrece asking, ok…KL ngga mau..menurutmu siapa yg harus kami jemput…?
Mm93 pun menjawab: jemput fq20
Ya gimana ya
Westalah intie : duit dan duit gede.
Wes titik.
target real MM adalah title ke 10. lanjut dgn Ducati adalah pilihan logis yg sudah diperhitungkan. Baru setelahnya mungkin MM lebih fleksibel memilih warna wearpacknya