TEROBOSAN : Yamaha Sekarang Bisa Pakai Alumunium Daur Ulang jadi SILINDER DIASIL

TMCBlog.com – Bro sekalian, Yamaha Motor kembali bikin gebrakan menarik dalam ranah manufaktur dan komitmen ramah lingkungan. Yup, produsen berlambang garpu tala ini secara resmi mengumumkan bakal beralih memakai material Recycled Aluminium Alloy (alunium daur ulang) untuk pembuatan teknologi silinder andalannya, DiASil Cylinder (Die-casting Aluminium Silicon Cylinder).

Langkah ini dilakukan secara bertahap dan ditargetkan rampung total pada tahun 2030 di seluruh lini produk yang menggunakan teknologi DiASil. Saat transisi ini selesai 100%, Yamaha mengestimasi mampu menekan emisi CO₂ hingga sekitar 47.000 ton per tahun!

Indonesia Jadi Yang Pertama!

Menariknya nih bro, transisi penggunaan aluminium daur ulang untuk silinder DiASil ini akan dimulai pertama kali dari model-model commuter (sepeda motor harian) yang diproduksi di Indonesia! Baru setelah itu disusul secara bertahap untuk pasar global di masa depan.

Kenapa Baru Sekarang Pake Aluminium Daur Ulang?

Seperti yang kita tahu, selama ini Yamaha menggunakan virgin aluminium alloy (murni) untuk silinder DiASil. Alasannya simpel tapi krusial: bahan daur ulang konvensional biasanya mengandung sedikit pengotor (impurities). Kandungan pengotor ini dulunya bikin material daur ulang susah memenuhi standar kualitas DiASil—terutama soal struktur mikro logam, sifat permukaan, hingga ketahanan korosinya.

Seperti bro ketahui, DiASil Cylinder adalah teknologi silinder full-aluminium buatan Yamaha (pertama di dunia sejak 2002) yang nggak butuh iron sleeve (buring besi) maupun lapisan plating. Keunggulannya banyak banget:

  • Sangat tahan aus & tahan macet (seizure resistance)

  • Pelepasan panas jauh lebih cepat & efisien

  • Bobot mesin jauh lebih ringan

  • Biaya produksi lebih efisien & lebih mudah didaur ulang

Inovasi Teknologi Material Yamaha

Untuk mengatasi masalah impurities pada bahan daur ulang, insinyur Yamaha melakukan riset mendalam. Menggunakan pendekatan desain material berdasarkan kalkulasi termodinamika, Yamaha berhasil mengembangkan recycled aluminium alloy yang kualitas serta kinerjanya setara dengan virgin aluminium.

Setelah melalui serangkaian pengujian bench test di laboratorium hingga evaluasi jalanan pada unit kendaraan (vehicle evaluation), material daur ulang ini terbukti memenuhi seluruh standar fungsi dan performa yang ketat.

Target Carbon Neutral 2050

Langkah ini merupakan bagian dari Yamaha Motor Group Environmental Plan 2050, di mana Yamaha menargetkan carbon neutrality di seluruh rantai pasoknya pada tahun 2050. Sebagai target perantara, Yamaha ingin 100% bahan baku aluminium yang digunakan dalam proses manufaktur internal beralih ke bahan yang ramah lingkungan pada tahun 2030. Langkah mantap nih dari Yamaha, apalagi pabrik Indonesia dipercaya jadi pioneer transisinya!

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

16 COMMENTS

  1. Karakter material vampir oli,karena alumunium memiliki karakter logam mudah bersuhu sangat tinggi

  2. artikel ini kalau terbit 10 tahun lalu bakal rame bakar2an gak sih? nunggu komentator2 jadul muncul lagi (lupa lagi nama2nya), missing those years

  3. Market Indonesia duluan, buat cek ombak, buat test riset berjalan, buat trial and error. Klo udah sempurna baru di lempar ke market global. Udah biasa, market Indo jadi bahan kelinci percobaan, Nanti bahan ini akan di buat gradenya, buat global dpt grade tertinggi, buat market lokal dpt bahan daur ulang dgn grade terendah, alias sampah.Kemarin Hodna kasih sampah kerangka lipat, jgn sampe besok Yamaha kasih silinder head sampah jg.

    Dan harusnya karena menggunakan bahan recycle ♻️ ini harusnya ada penyesuaian harga, harus di jual lebih murah. Virgin material dgn recycling material tentu beda jauh harganya. Jgn sampe aja yaa harga jualnya malah lebih tinggi dgn gimmick bodoh menggunakan “Teknologi Terbaru” seperti biasanya, untuk mencari margin cuan lebih tinggi.

    • Harga dasar kan emang ga sbgitu mahal. Pajak untuk membesarkan gerombolan perut penjahat berseragam saja yg bikin harga jual baru jadi meroket

      Males pake istilah oknumm mereka terlalu banyak jumlahnya untuk sekedar disebut oknum

  4. sebenarnya secara teori bagus, saya ingin tahu secara kajian aplikasi di lapangan apa lebih bagus daripada tanpa lapisan ini?? penasaran side by side perbandingan nya sudah pernah ada ujikah, selain dari internal pabrikan, karena kan teori dan mass production itu biasa nya ada deviasi toh??

    • dari ai:
      Faktor Toleransi Mesin Cetak Massal (Die-Casting Deviaiton)

      Di laboratorium, pengujian silinder dilakukan dengan mesin casting berkompresi tinggi yang dikontrol sangat lambat dan presisi untuk memastikan tidak ada gelembung udara mikro (porosity).
      • Di Lapangan (Mass Pro): Pabrik harus mengejar target ribuan blok mesin per hari. Perubahan suhu pada mesin cetak (molding) yang bekerja nonstop, kelembapan udara pabrik, hingga kecepatan injeksi logam cair yang sangat tinggi sering kali memicu deviasi mikro. Cukup dengan adanya sedikit rongga udara tak kasat mata di dalam silinder, kemampuan blok tersebut dalam melepas panas akan langsung berkurang drastis di titik tersebut (hotspot)

  5. Ini ujian buat kominukasi marketing terhadap selera konsumen di Indonesia.
    Salah pilih kata atau cara penyampaian pesan, kelar deh urusan dagang.

    Literasi masyarakat disini masih berat diajak ngunyah istilah “daur ulang” utk komponen sepeda motor baru gres

  6. bisa jadi bahan kampanya hitam lawan sebelah “pakai barang bekas”
    ini alumunium bekas maksudnya bisa bekas wajan tukang nasi goreng ?

  7. kalau kualitasnya sama dengan superbikenya okelah. kalau belum bisa, masih lebih baik iron sleeve buat motor kecil. untuk perbaikan jauuh lebih murah. biaya jasa, korter, piston set, oli, packing lebih ramah dikantong dibanding ganti silinder dan piston set diasil. kenapa daur ulang? karena Ymh sendiri yang produksi barangnya. kalau riject mau diapain, ya daur ulang lah. masak mau jadi limbah aja.

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP