TMCBLOG.com – Halo sobat TMCBlog sekalian, kita baru saja disuguhkan sebuah balapan Moto3 yang luar biasa ketat, penuh intrik taktik, dan menguras limit performa mesin maupun fisik di Mobility Resort Motegi Jepang 2026. Balapan sepanjang 17 lap ini benar-benar menyajikan drama slipstream khas Moto3 hingga meter terakhir menjelang garis finis.
Berdasarkan data resmi dari dokumentasi balap, David Almansa dari tim Liqui Moly Dynavolt Intact GP yang membesut motor KTM berhasil keluar sebagai pemenang dengan total waktu balap 32 menit 45,544 detik. Kemenangan ini diraih dengan jarak yang sangat tipis dari Maximo Quiles (CFMOTO Gaviota Aspar Team) di posisi kedua, yakni hanya 0,046 detik!
Quiles sudah berusaha habis-habisan memaksimalkan manuver slipstream di trek lurus panjang Motegi, namun Almansa sukses menutup celah dengan rapi dan mempertahankan posisi terdepannya. Kemenangan yang sungguh menguras jantung.
Sekarang, mari kita alihkan fokus ke garasi Honda Team Asia, secara spesifik ke penampilan pebalap kebanggaan Indonesia, Veda Ega Pratama. Memulai balapan dari grid ke-16 tentu menjadi tantangan tersendiri dan menuntut kerja keras ekstra agar tidak kehilangan kontak dengan rombongan terdepan di lap-lap awal.
Namun, Veda membuktikan kematangannya dengan finis di posisi ke-11, berjarak 21,120 detik dari pimpinan balapan, dan berhak mengamankan 5 poin kejuaraan. Hal yang paling menarik untuk kita kunyah-kunyah dari performa Veda kali ini adalah soal keputusan teknis pada strategi pemilihan ban.
Berdasarkan pantauan teknis di grid, Veda memutuskan untuk menggunakan kombinasi ban Pirelli depan SC1 (kompon Soft) dan ban belakang SC2 (kompon Medium). Pilihan ban belakang SC2 ini sangat krusial dan jenius. Mengapa? Mayoritas barisan pebalap Honda lainnya memilih bermain agresif di awal dengan kombinasi ban SC1-SC1 (Soft-Soft).
Kita tahu bersama, karakter sirkuit Motegi adalah stop-and-go, dengan zona pengereman keras yang dilanjutkan dengan akselerasi brutal dari gigi rendah. Karakter ini sangat menyiksa kompon ban belakang. Kompon Soft (SC1) memang akan memberikan traksi maksimal secara instan, namun ancaman degradasi grip ban di lima lap terakhir sangatlah nyata.
Menariknya, strategi SC1-SC2 yang dipakai Veda ini ternyata identik dengan strategi sang pemenang, David Almansa. Keputusan memakai ban belakang medium SC2 menunjukkan bahwa Veda dan tim Honda Team Asia memproyeksikan target race pace yang lebih konsisten hingga lap penutup. Mereka rela mengorbankan sedikit traksi eksplosif di awal lap demi menjaga keawetan grip saat ban para pesaingnya sudah mulai aus di akhir balapan.
Dan taktik long game ini terbukti sangat jitu! Tercatat Veda membukukan Top Speed yang kompetitif di angka 225,9 km/jam, membuktikan bahwa Honda NSF250RW miliknya sanggup menjaga momentum keluar tikungan berkat traksi ban belakang yang jauh lebih stabil.
Veda sama sekali tidak terbawa arus menggunakan ban belakang Soft, melainkan membaca kondisi trek 17 lap secara lebih cerdas. Hasilnya, ia mampu memenangkan pertarungan melawan sesama penunggang Honda yang kehabisan ban, seperti Adrian Fernandez yang mundur ke posisi 13 dan Casey O’Gorman di posisi 15.
Kesimpulannya, finis ke-11 dari posisi 16 dan berhasil menjadi pebalap Honda terdepan di race ini berkat eksekusi manajemen ban yang brilian adalah sebuah progres teknis yang sangat positif bagi Veda Ega Pratama. Manajemen balapnya semakin dewasa.
Kita tentu berharap di seri-seri selanjutnya, Veda bisa mengamankan hasil kualifikasi yang lebih di depan, sehingga taktik race pace yang sudah terbukti apik ini bisa membawanya merangsek ke pertarungan 5 besar. Pastikan kalian terus memantau update artikel dan analisis teknis mendalam lainnya dikunyah-kunyah hanya di tmcblog.com. Sampai jumpa di seri selanjutnya!
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog




