TMCBlog.com – Bro sekalian, persaingan menuju mahkota tertinggi MotoGP 2026 kian memanas setelah berlalunya seri Motegi, Jepang. Di tengah tensi tinggi balapan, sang Si Hiu Mazarron, Pedro Acosta, melontarkan pandangan menarik terkait peta persaingan perebutan gelar juara dunia musim ini. Menurut pebalap muda berbakat asal Spanyol tersebut, perebutan takhta dunia saat ini secara praktis hanya menyisakan duel head-to-head antara dua nama top: Jorge Martin dan Marc Marquez!
Usai menyelesaikan balapan GP Jepang di posisi ketujuh setelah terlibat aksi overtake seru melawan dua pebalap satelit Aprilia (Raul Fernandez dan Ai Ogura), Acosta dimintai pendapatnya mengenai selisih poin di klasemen yang makin tipis—di mana Marc Marquez kini hanya berjarak 2 poin saja dari Jorge Martin.
Ketika ditanya apakah peta perburuan gelar juara dunia sekarang sudah mengerucut menjadi pertarungan dua orang saja, Acosta tanpa ragu mengiyakannya.
“Saya rasa begitu (tinggal urusan dua pebalap). Pada akhirnya, harus ada sangat banyak kesalahan yang terjadi agar Marco (Bezzecchi) bisa mendekat lagi saat ini,” ungkap Acosta dalam wawancaranya kepada media Spanyol, AS.
Lebih lanjut, Acosta memprediksi bahwa kejelasan mengenai arah angin perebutan gelar juara ini akan makin terlihat terang setelah seri selanjutnya di Sirkuit Mandalika, Indonesia.
“Saya pikir semuanya akan makin terlihat jelas setelah kita keluar dari Indonesia. Karena bagaimanapun juga, Mandalika bakal jadi salah satu sirkuit paling krusial bagi Marc sejak sirkuit itu masuk kalender. Kita harus lihat bagaimana dia keluar dari sana, dan berapa banyak sirkuit bagus yang tersisa untuknya. Tapi yang pasti, di trek di mana dia tidak boleh gagal, dia memang tidak pernah gagal,” tambah pebalap KTM tersebut.
Misteri Performa Ban dan Kejutan dari Bastianini
Selain bicara perburuan gelar juara dunia, Acosta juga mencermati jalannya balapan di Motegi yang terbilang berat baginya. Acosta mengaku cukup kesulitan menemukan grip—baik saat melakukan braking maupun saat acceleration keluar tikungan—terutama setelah adanya perubahan kompon ban belakang ke pilihan hard.
“Jujur saja, ini balapan yang sangat menyiksa. Saya tidak punya grip saat pengereman maupun saat akselerasi, jadi mekanismenya cuma bertahan sejauh yang kami bisa,” tutur Acosta.
Namun, yang membuat Acosta dan timnya geleng-geleng kepala adalah performa luar biasa dari rekan sesama penunggang RC16, Enea Bastianini, yang tampil sangat kencang menggunakan ban hard di lap-lap akhir.
“Bastianini tampil luar biasa gila! Saya lihat data empat lap terakhirnya, kalau saja balapan tersisa empat lap lagi, dia bisa menang. Saya senang untuk dia dan KTM. Namun, sekarang tugas kami adalah menganalisis kenapa kami justru sangat kesulitan, padahal masalah sedrastis ini sudah lama tidak terjadi pada kami,” tuntas Acosta.
Menarik melihat sudut pandang Acosta, sob. Seri GP Indonesia di Sirkuit Mandalika pekan depan memang kerap menyajikan twist dan dinamika iklim/karakter trek yang sangat berpengaruh pada manuver perebutan poin di tabel klasemen. Apakah pertarungan Martin vs Marquez akan semakin memanas di Mandalika sesuai prediksi Acosta? Kita tunggu saja aksi mereka di lintasan!
Taufik of BuitenZorg / @TMCBlog




marc bakal podium di mandalika. soalnya motor 2026 khusus didevelop untuk mandalika, makanya di trek2 lain performa gp26 so so aja wkwkwkkwk. teori konspirasi
Klu marc bisa menang di mandalika, fix juara dunia 2026 milik beliau.
Kenyataannya marc belum pernah finis di balapan utama Mandalika 🥴
Motogp hadir di mandalika sejak 2022, dari 2022 – 2025 marc tidak pernah finish race. Di 2022 dan 2025 bahkan mendapatkan cedera yang memaksa tidak bisa ikut beberapa seri setelah mandalika.
Penggemarnya sah2 saja halu dengan berbagai ekspektasi, tapi kalau main aman marc bisa sekedar ambil poin atau malah absen di seri ini jelas masuk akal.
Yang saya takutkan jika di sini crash malah bisa memaksa marc pensiun lebih cepat.
Hiu of macaron bisa kali berebut p3.