TMCBLOG.com – Penampilan Yamaha YZR-M1 inline-4 benar-benar sangat berat di Austria yang sirkuitnya berkarakter stop and go dan dengan badan trek yang tidak lebar. Mungkinkah ini dapat membuat Yamaha memutuskan untuk kembali mengakselerasi pengembangan mesin V4 baik 1.000cc maupun 850cc? Selain rumor penampilan perdana mesin Yamaha di Catalunya via penampilan wildcard test rider, akhirnya ada kejelasan mengenai kapan pembalap reguler mereka mulai menguji mesin Yamaha M1 V4 1.000 cc.
Patut dicatat, sama seperti pabrikan lain, Yamaha belum diperbolehkan menguji secara terbuka mesin 850cc di sepanjang musim 2025 ini. Dan kembali mengenai mesin V4 1.000cc, adalah Fabio Quartararo yang mengungkapkan bahwa Ia akan menguji motor baru ini pada tes satu hari pasca-race weekend MotoGP Misano 2025 bulan September nanti.
“Di Misano saya akan menguji V4… pada hari Senin,” kata Quartararo saat akhir pekan MotoGP Austria. “Senang rasanya melihat potensi motor baru ini. Augusto dan Dovi adalah pembalap yang sangat berpengalaman, dan tentu saja, saya percaya diri dengan mereka. Namun sampai saya mencoba motornya, saya tidak ingin berasumsi apa pun.”
“Saya tahu mesinnya masih lambat,” aku Quartararo. “Tapi ini adalah titik krusial untuk masa depan, untuk tidak hanya memiliki motor yang cepat, tetapi juga cepat di lintasan lurus. Kami tidak bisa balapan lagi dengan mesin empat silinder segaris, kami sudah terlalu jauh, dan kami belum banyak berkembang dengan motor itu.”
“Jadi, cukup yakin kami akan balapan dengan mesin V4. Saya tak sabar untuk menguji motornya, karena saya pikir kami benar-benar butuh perubahan.”
Meski begitu, Fabio tidak mengesampingkan kinerja dari test rider pabrikan Yamaha – Augusto Fernandez dan Andrea Dovizioso – namun Fabio masih harus merasakan motornya secara langsung untuk mengetahui seberapa besar potensinya. Augusto Fernandez baru-baru ini mengungkapkan bahwa Yamaha menahan output V4, karena pihak factory mengambil pendekatan bertahap untuk meningkatkan performa.
Peningkatan kinerja pengereman, dengan memanfaatkan ban belakang lebih banyak untuk deselerasi, adalah area kunci lain di mana Yamaha berharap V4 dapat bersinar. Quartararo dan Yamaha memang mengalami race weekend terburuk mereka musim ini di Red Bull Ring Austria kemarin. Bermasalah dengan grip ban belakang yang terus berlanjut semakin parah akibat penggunaan ban belakang khusus dengan konstruksi yang lebih kaku, membuat Yamaha hanya mampu meraih 1 poin [lewat Fabio yang finish di posisi 15], dan semua motor M1 mengisi empat posisi terakhir di klasemen Grand Prix Austria. – @tmcblog


Percaya proses nice bro
kalo liat dari sisi Fabio sptnya penderitaan Pecco gak begitu buruk.. bukan mengadu nasib, tp setidaknya Fabio tampak lebih optimis, walo kemarin sunmori di belakang.. :'(
tp gajinya gede sih hehe.. ngeeeenggg~
pecco malah miripmirip jm kmren
rada rada star syndrome
berpikir optimis biar mental juga ikut sehat..klo berpikir negatif..bisa digeber2 macam vina jilid 2
bersiaplah kengerian itu segera datang
kayaknya kata2 ini dulu sering banget keluar dari fans … wkwkkw
Bersiap mesin kompressor itu segera datang
jika sudah pakai v4 tapi msh di barisan belakang trus gimana ?
Keep trying or keep crying wkwk
Bisa berkaca ke era awal-awal lahirnya M1, ga langsung kompetitif di musim perdananya.
M1 crossplane langsung juara dunia
jaman mbah oci lansung jurdun 2004 karena ada 4 mesin bebeda mana yang cocok ya cocoknya i4/cp4
coba aja dlu..pake yg sekarang juga gabisa didepan nothing to lose aja lah..juga ga perebutin jurdun
Yang kocak kan pindah ke V4 salah satunya krn lbh bgs dlm hal bobot ke belakang. Michelin kuat grip belakang. I4 sering spin ban blkg krn lbh condong berat di depan. Tapi kan 2027 pindah jd Pirelli?
meanwhile r1 juga bapuk sekarang. Mungkin karna setelah ditelisik, masalahnya sama walau pake pirelli ?
Masih suka komen aja, ga kerasa loh dari zaman 2009 pas pertempuran Empu Gandring, sekarang Tahun 2025.
Masih lama min 1 dekade tuh lihat KTM ja susah payah buat mesin motogp..
Bangun mesin dr nol brarti mengutamakan grip baik alselerasi maupun deselerasinya..
Settingannya berangkat dr crankshaft lbh berat, flywheel lbh ringan..
Dgn settingan begitu denyut torsi akan sangat terasa, jd feedback pebalap jg akan mudah ddapat..
Namun settingan sperti itu mesin akan kasar, top speed kurang (makanya inlet dgedein buat kail topspeed), mesin gampang overheat, alhasil umur mesin akan pendek, makanya regulasi menambah jatah mesin buat pengembangan yg baru
Seiring waktu engineer akan memahami bagaimana motor bekerja, trus mesin akan upgrade lg dgn crankshaft sedikit lbh ringan lg, flywheel sedikit lbh berat lg, yg dmn nantinya mesin akan lbh halus, umur panjang, top speed tinggi, bbm lbh efisien tp tantangannya cari grip akan makin sulit krn denyutan torsi jg makin halus
Susah bgt komennya
Penonton MotoGP era 2000 an :
>Yamaha jago ditikungan
> Duc2 jago straight
Penonton MotoGP jaman now :
>Duc2 jago ditikungan dan straight
Terus keunggulan yamama sekarang apa dong?
Keunggulan Ondah apa?
lord luca lah