TMCBLOG.com – Balapan seri terakhir musim 2025 di Sirkuit Ricardo Tormo – Valencia bukan hanya berlaku sebagai penutup musim, namun juga berlaku sebagai salah satu jndela penentuan kelas konsesi untuk setengah musim berikutnya yang akan dimulai di awal musim MotoGP 2026.
Seperti kita ketahui di era MotoGP modern saat ini, jenis kelas konsesi pabrikan/konstruktor diurutkan berdasarkan persentase poin yang dicetak dalam kejuaraan konstruktor. Maksudnya, poin yang dicetak akan dibagi dengan poin maksimum yang diberikan (25 x jumlah balapan GP yang diadakan, ditambah 12 x jumlah Sprint yang diadakan).
Peringkat berdasarkan persentase poin dalam kejuaraan konstruktor akan ditetapkan sebagai berikut;
- Peringkat A : 85% atau lebih
- Peringkat B : 60% atau lebih, tetapi kurang dari 85%
- Peringkat C : 35% atau lebih, tetapi kurang dari 60%
- Peringkat D : kurang dari 35%.
Nah, MotoGP Valencia yang balalapan utamanya dimenangkan oleh Marco Bezzecchi adalah titik dimana status konsesi koridor paruh pertama musim 2026 ditentukan. Posisi perhitungan poin manufakturnya adalah sebagai berikut.
- Ducati : 768
- Aprilia : 418
- KTM : 372
- Honda : 285
- Yamaha : 247
Sejak dari Thailand 2025 sampai Valencia 2025 sendiri telah berlangsung 22 seri yang artinya 22 x 37 poin atau sudah ada 814 poin maksimum yang sudah digelar. Dan setelah perhitungan persentase poin musim 2025 yang dihitung mulai dari seri pembuka GP Thailand 2025 sampai seri ke-22 di GP Valencia 2025 diperoleh :
- Ducati : 768/814 = 94,3%
- Aprilia : 418 /814 = 51,3 %
- KTM : 372/814 = 45,7%
- Honda : 285/814 = 35%
- Yamaha : 247/814 = 30,3%
Dari hasil final di atas terlihat bahwa Ducati masih di konsesi kelas A, KTM dan Aprilia masih berada di zona konsesi Kelas C, Honda dengan 9 poin terakhir yang diperoleh Luca Marini akhirnya naik ke konsesi Kelas C, dan Yamaha masih di zona konsesi Kelas D.
Honda yang baru naik dari Grade D ke Grade C dalam perhitungan konsesi yang diatur dalam regulasi akan mengalami perubahan sebagai berikut mulai di awal musim 2026 nanti
📌 Pengujian tidak lagi bebas, pembalap tidak boleh ikut test privat dimana dikhususkan hanya untuk pembalap penguji;
📌 Pengujian hanya dialokasikan maksimal 220 ban dapat digunakan, bukan 260 seperti saat di kelas Konsesi D;
📌 Pengujian hanya dapat dilakukan di tiga sirkuit pada kalender yang ditetapkan di awal tahun, sehingga tidak lagi bebas di trek mana pun;
📌 Hanya satu pembaruan aerodinamis per-musim;
📌 Mesin akan dihomologasi lebih ketat;
📌 Hanya dialokasikan 7 (atau 8 berdasarkan jumlah acara di kalender) mesin per pembalap per-musim, alih-alih 9 (atau 10) unit;
📌 Enam wildcard akan tetap ada (tiga di paruh pertama musim, tiga di paruh kedua setelah jeda musim panas).
Honda jelas unggul dalam persaingan dengan Sesama pabrikan Jepang. Meskipun mereka akan memiliki lebih sedikit kebebasan untuk melakukan pengujian di masa mendatang, tim Jepang tersebut senang dengan pencapaian ini.
“Ini bukan kerugian bagi saya, melainkan langkah besar,” komentar Marini setelah Grand Prix terakhir MotoGP musim 2025. Promosi ke kelas yang lebih tinggi membawa kepuasan besar bagi HRC. “Itu adalah target yang kami tetapkan untuk diri kami sendiri di awal musim. Sungguh fantastis bahwa kami mampu mencapai target ini di balapan terakhir musim ini. Saya sangat senang karenanya.”
“Semua orang di garasi sangat senang, baik kru Joan, maupun LCR dan tim saya. Namun, tim penguji juga senang. Tim Jepang sangat senang. Sungguh luar biasa kami dapat mencapai target ini,” komentar Marini, yang memainkan peran kunci dalam promosi Honda ke Konsesi Kelas C ini.
Kebebasan yang hilang terutama memengaruhi pengujian. Namun menurut Marini, hal ini bukan masalah dan justru mengurangi tekanan pada staf HRC: “Beberapa orang sekarang dapat menghabiskan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga mereka. Kami sekarang sangat dekat dengan aksi balapan dan perlu fokus untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia dengan lebih baik.”
Marini berharap Honda dapat meningkatkan performa motornya lebih lanjut selama akhir pekan balapan tahun depan dan membutuhkan lebih sedikit pengujian. Pembalap Italia itu sangat puas dengan finis di posisi ketujuh. Marini “sangat senang” dengan hasil tersebut setelah awal akhir pekan yang penuh tantangan.






Sudah Siapkah ?
Harapan terbesar pada rookie dari Moto2 yang naik ke LCR.
Yamaha semangat
Yamaja nanti nya dari D langsung ke B
Bang, tidur bang 😁
Kemungkinan itu syulit karena semua rider yamha harus adaptasi ke motor baru m1v4 yg masih dlm tahap awal pengembangan.
Lebih kuatir kalau Yamaha dibuatkan kelas baru oleh Dorna di tahun 2027. Konsesi E aka Error.
Pabrikan sultan begitu dikasih kelonggaran pengembangan dalam bentuk konsesi ya pasti gampang banget naik kelas, apalagi bos2 jepang di hrc mau berkompromi dgn metode kerja cara jepang di kombinasi dgn metode eropa utk mengakselerasi proses pengembangan
Wajar sih. Secara pabrikan wing sudah sejak awal pakai mesin V. Lah ymh berkutat dengan 2 mesin berbeda. Dan yang mesin v ibarat telur baru netes yang masih harus diurus.
disini pride hon da diatas yamaha. haha. mending yamaha ikut lepas FQ buat tambahan dana riset dah.
Mir marini ga bisa ngetes rc214v berarti,
soal ban mah kayaknya ga terlalu dipusingin soalnya bakal ganti minarelli jadi udah ga relevant datanya kalo pake Michelin
Salah bang, yg bener ban pelleri
Salah bang, yg bener aquarelli
ECU Pirelli 😹
Darmorelli
Mungkin ban adalah jawaban honda mau naik di D.
Jika yamama v4 sudah bisa perform,barisan depan paling diisi Marquez SM quartararo LG , sisanya cm pelengkap