Hervé Poncharal : Pecco Bagnaia ‘Kena Mental’ !

TMCBLOG.com – Bro sekalian, musim MotoGP 2025 memang menyajikan drama yang luar biasa, terutama di garasi tim pabrikan Ducati. Sementara Marc Márquez berhasil mengamankan gelar dunianya yang ketujuh dengan dominasi yang hampir tak terbantahkan, sang Juara Dunia 2 kali, Francesco ‘Pecco’ Bagnaia, justru mengalami musim yang sangat sulit.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Pecco? Motor yang sama, tim yang sama, namun hasilnya berbalik 180 derajat.

Menurut pandangan seorang veteran paddock yang sangat dihormati, Hervé Poncharal—yang baru-baru ini menyerahkan kepemimpinan tim KTM Tech 3 kepada Günther Steiner—masalah Bagnaia di tahun 2025 bukanlah soal throttle atau chassis, melainkan tentang psikologis.

🧠 Pertarungan Terbesar Ada di Kepala

Poncharal, saat berbicara di podcast resmi MotoGP.com, menyatakan dengan tegas, “Banyak hal terjadi di kepalanya”.

Musim 2025 seharusnya menjadi duel epik yang sangat dinantikan: Bagnaia melawan Márquez, yang menjadi rekan setimnya di tim merah. Namun, duel itu tak pernah benar-benar terjadi.

  • Dominasi Márquez: 11 kemenangan dari 18 balapan dan merebut gelar.

  • Jatuhnya Bagnaia: Terpuruk di posisi kelima klasemen akhir, bahkan gagal meraih poin di lima GP terakhir.

Pecco sendiri berulang kali menyebutkan bahwa krisisnya disebabkan oleh hilangnya feeling antara gaya membalapnya dengan motor GP25. Memang, ia sempat memberikan secercah harapan dengan kemenangan telak di Jepang, tetapi itu hanyalah satu kilatan di tengah kegelapan.

Fenomena ‘Kecepatan Yang Tak Terbendung’

Dengan segudang pengalamannya bekerja bersama para top rider, Poncharal yakin bahwa tidak ada alasan teknis yang mendasarinya.

“Pecco masih tahu cara mengemudi, Ducati tetap motor yang luar biasa, tim mengenalnya. Tidak ada alasan teknis yang nyata,” jelas manajer asal Prancis itu. Lalu, apa faktor penentu yang membuat sang juara seolah kehilangan sentuhannya?

Poncharal menunjuk satu hal: kecepatan Márquez yang benar-benar tak terhentikan di atas motor yang sama.

Ini adalah skenario yang pernah kita lihat sebelumnya, seperti saat Valentino Rossi mendominasi di Yamaha dan para rider lain (bahkan rekan setimnya) kesulitan meniru gayanya, yang berujung pada tekanan psikologis.

Tekanan Rekan Setim

Kehadiran seorang pembalap yang mendominasi di garasi yang sama bisa menjadi shock yang luar biasa. Poncharal menyimpulkan dinamika yang terjadi:

“Ketika rekan setim Anda memenangkan segalanya dan Anda kesulitan, setiap keraguan menjadi lebih berat. Memiliki rekan setim seperti Márquez adalah kejutan. Tidak lagi menjadi nomor satu sepenuhnya mengubah dinamika.”

Intinya, menurut Poncharal, kemunduran musim 2025 yang dialami Bagnaia bukan karena settingan motor yang salah, melainkan ‘korsleting mental’ yang diciptakan oleh tekanan tak terhindarkan dan perbandingan langsung dengan salah satu pembalap paling dominan dalam sejarah MotoGP.

Tampaknya, dalam balapan kelas premier ini, kecepatan saja tidak cukup. Dibutuhkan mental yang sekuat baja untuk menghadapi kompetisi, terutama ketika kompetisi terberat Anda berada tepat di sebelah Anda! – @tmcblog

11 COMMENTS

  1. Itu benar adanya pak de harve…pecco kena mental dn smbuhnya lama mlebihi oprasi patah ligamen, smoga sj musim depan pecco bner2 sudah bs sadar dn bner2 bs mngelola mental psikologinya,klo msih tetep ga bs silahkan pndah tim, dgn bgitu mental bs smbuh mski mngkin ga lngsung menang,sungguh berkompetisi dgn mental yg sngat tertekan itu sngt syusah fokus

    • dulu paduka jorge berhasil mengatasi tekanan mental dan juara dunia 3x walau berbagi garasi dengan sang legenda, jadi sebaiknya pecco ikutin saran paduka

  2. Saatnya pakai sekat dan tutup semua pertukaran data
    Hasilnya ada dua kemungkinan antara lebih membaik atau makin nyusruk

  3. Bener sih ada faktor psikologis tapi keknya gak 100%. Rider gp25 selain marc juga kesulitan, klu emang gp25 masih mudah dikendarai semua rider harusnya tiap race bisalah masuk 3 besar. Tapi nyatanya syulit.

    • Fakta yang terjadi adalah Diggia ngalami finish di race yang lebih baik ketimbang pecco sejak seri Assen keknya, sedangkan Pecco di awal musim sebenarnya gak buruk, bahkan Pecco di Mugello juga kenceng, cuma emang Duo Marquez lebih kenceng. Meski Diggia finishnya gak konsisten tapi keknya gak separah Pecco, ibarat kata Pecco di klasemen lebih baik karena di awal musim dia sering finish di baris depan, sedangkan Diggia malah di awal musim masih beradaptasi.

    • Sebapuk2nya Ducati,selevel x jurdun MotoGP 2kali,kok bisa finis dibawah gp24 ,Aprilia dan KTM ,peco berarti emang benar Kena mental

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP