The Fallen Soldier: Benarkah Dorna Sengaja ‘Mengekang’ WSBK Demi Menjaga Gengsi MotoGP?

TMCBLOG.com – Selamat datang kembali di TMCBlog, kali ini kami ada satu topik yang lagi anget-anget kuku dan cukup kontroversial di jagat balap motor dunia. Bukan soal spek mesin baru atau winglet aero yang makin lebar, tapi soal politik dapur sang promotor, Dorna Sports.

Baru-baru ini, sebuah opini tajam dirilis oleh pengamat motorsport, Dario De Wet, melalui akun media sosialnya. Isinya cukup membuat telinga para petinggi di Madrid memerah, Sob! Dario secara terang-terangan menyebut bahwa Dorna sengaja “menekan” atau membatasi potensi WorldSBK (WSBK) demi menjaga dan memaksimalkan nilai merek MotoGP. Mari kita  coba bedah sob,

WSBK: “The Fallen Soldier” atau Sekadar Korban Strategi?

Sobat mungkin ingat tahun 2012, saat Dorna mengakuisisi WSBK dari Flammini bersaudara. Saat itu, ekspektasinya adalah WSBK akan semakin mendunia karena punya infrastruktur promotor yang sama dengan MotoGP. Tapi menurut analisis Dario De Wet, yang terjadi justru sebaliknya.

Dario menyebut WSBK sebagai “The Fallen Soldier”. Ada beberapa poin kunci yang dia garis bawahi:

  • Investasi yang “Setengah Hati”: Dibandingkan dengan MotoGP yang dicitrakan sebagai pinnacle of motorcycle racing, WSBK seolah dibiarkan berjalan di tempat dalam hal promosi global dan engagement fans.

  • Segmentasi Pasar: Dorna diduga sengaja membuat garis pemisah yang sangat tebal antara motor prototype dan motor produksi massal agar tidak terjadi kanibalisme sponsor dan penonton.

  • Efek Liberty Media: Dengan masuknya Liberty Media sebagai pemilik baru Dorna per 2024-2025, fokus utama memang diarahkan untuk memoles MotoGP menjadi “F1 versi roda dua”. Imbasnya? WSBK makin tergeser ke latar belakang.

Kenapa Dorna Melakukan Ini? (Sudut Pandang Brand Value)

Secara ekonomi, langkah ini sebenarnya masuk akal bagi sebuah korporasi. Jika WSBK dibiarkan terlalu kencang dan terlalu populer. Ingat era 90-an akhir? Nah, nantinya nilai jual MotoGP sebagai kasta tertinggi bisa-bisa jadi terancam.

Berikut adalah beberapa cara “halus” bagaimana penekanan ini terjadi menurut opini yang berkembang:

  1. Regulasi Teknis yang Membatasi: Setiap kali ada motor produksi massal yang terlalu dominan atau terlalu kencang mendekati lap time MotoGP (seperti Ducati Panigale V4R), regulasi RPM limit atau concession langsung bermain. Tujuannya? Menjaga jarak performa agar MotoGP tetap terlihat sebagai “alien”.

  2. Jadwal dan Hak Siar: Penempatan jadwal WSBK seringkali tidak se-strategis MotoGP. Begitu juga dengan penetrasi ke media-media mainstream yang jauh lebih masif untuk kelas Grand Prix.

  3. Narasi Pembalap: Ada kesan bahwa WSBK adalah tempat “pembuangan” atau “pensiun” bagi pembalap MotoGP. Dorna jarang sekali membangun narasi sebaliknya—bahwa pembalap hebat bisa lahir dan besar di WSBK (kecuali kasus langka seperti Toprak Razgatlioglu).

Apakah Ini Sehat Buat Motorsport?

Jujur saja Sob, kalau kita lihat dari kacamata penggemar murni, ini terasa kurang adil. WSBK punya ruh balap yang sangat dekat dengan konsumen karena motor yang dipakai bisa kita beli di dealer (meski dengan spek berbeda).

Namun, dari kacamata bisnis, Dorna harus memastikan Return on Investment (ROI) mereka di MotoGP tetap tinggi. MotoGP adalah aset triliunan Rupiah. Jika WSBK menjadi terlalu kompetitif secara komersial, maka harga jual hak siar MotoGP bisa goyang.

“Dorna tidak ingin membunuh WSBK, mereka hanya ingin WSBK tetap berada di ‘kotaknya’ sebagai kompetisi kelas dua yang mendukung ekosistem kelas satu.”

Analisis Dario De Wet ini menjadi pengingat bagi kita bahwa balapan bukan cuma soal siapa yang paling cepat di lintasan, tapi juga soal siapa yang paling pintar mengelola angka di laporan keuangan. Dengan dominasi Ducati di kedua kejuaraan saat ini, tantangan Dorna ke depan adalah bagaimana menjaga agar WSBK tetap menarik tanpa harus “mengalahkan” taman bunga MotoGP.

Gimana menurut Sobat TMCBlog sekalian? Apakah Sobat setuju kalau WSBK selama ini sengaja dianaktirikan oleh Dorna? Atau menurut Sobat ini memang langkah logis yang harus diambil? Silahkan tuangkan komentar cerdas Sobat di kolom komentar bawah ya!

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

15 COMMENTS

  1. yang bisa kasih perlawanan ya pabrikan, kalo pabrikan cabut dari kompetisi yaa kelar juga tuh kompetisi

    • nah ini bener, seperti yang terjadi di FIA WEC, alhasil promotor putak otak buat bikin regulasi yang bisa narik banyak pabrikan.

  2. Ujung tombak bisnisnya di MotoGP, perhatian pasti lebih besar.
    Utk WSBK sendiri rsnya butuh waktu lebih utk menentukan regulasi yg tepat yg dpt mengakomodir secara imbang motor2 yg beredar di pasar. Formula limiter rpm, debit bbm, bobot, rsnya msh blm cukup manjur.

  3. Ada benarnya. Regulasi motogp 2027 dibuat untuk menggoda pabrikan besar.

    Harapannya shizuka kembali.
    Kalo bisa bmw join.
    Syukur-syukur, ZXRR diriset lagi sama kaoskaki.

  4. Klo saya lbh k mslh keadilan regulasi yg condong k D
    Masak harga maksimum dmentokin harga D
    Alokasi mesin maksimum jg dsesuaikn durabilitas D

    • Kalo ini emang, tiba2 harga motor dinaikin pas sebelum Panigale 2023 rilis. Mana harganya mepet banget sama harga panigale nya.

  5. Ya kali WSBK mau melewati motogp, tim pabrikan juga gk akan melakukan itu dan investasi pabrikan di tim motogp pasti jauh lebih besar daripada untuk balap wsbk yg memang motor yg digunakan adalah produks massal meskipun dalam jumlah terbatas seperti ducati V4R

    • masalahnya beberapa pabrikan jadi gak serius2 banget karena ini adalah ajang kedua, seperti Yamaha yang gak bikin motor baru, Suzuki yang gak mau ikutan. Honda juga antara hidup dan mati. Kawasaki milih lebih ngangkat nama Bimota, meski tahun 2026 mereka pake motor ZX 10RR baru di tim Pucetti. Hanya Ducati yang bergairah dengan WSBK, BMW aja entah nanti gimana, karena kontrak Petrucci dan Oliveira keknya cuma setahun

  6. Sebenarnya dari dulu kan WSBK emang lebih seperti tempat pembuangan pembalap dari MotoGP, hehehe. Hanya saja ada beberapa kasus lain dan kasus pembalap yang bisa bertahan lama di MotoGP setelah dari WSBK, sebut saja seperti Cal Crutchlow dan Colin Edwards, tapi ya mereka berdua ini tetep aja gak sukses di MotoGP. Bahkan Colin Edwards menyandang 2 gelar WSBK waktu itu. Troy Bayliss pun cuma sebentar di MotoGP. Bahkan James Toseland juga cuma sebentar di MotoGP, padahal jurdun dengan 2 pabrikan berbeda. Makanya wajar kalo banyak yang menganggap remeh Toprak karena selain performa motor yang jomplang antara kedua ajang, juga karena berada di pabrikan atau motor yang belum kompetitif saat ini yaitu Yamaha.

  7. Banyak pengamat bilang, level rider wsbk jauh broo dgn motogp
    Gw sebagai pengamat abal2 menilai rider motogp tidak sedewa itu
    Jika toprak mampu konsisten dibarisan depan atau bahkan juara.. tambah naik lagi pamor wsbk

    • Kenapa acuannya mesti Toprak,lalu Ben spies,troy baylis,carl Crutchlow, Edward, toseland,dianggap apa wkwk,tetap sj pamor WSBK balap kelas 2

    • Toprak mau konsisten didepan,,,😅😅😅,,,bisa finish rutin 10 besar aja hebat dia,,,pembalap moto GP gak sedewa itu??bautista buangan tua moto GP bisa mendominasi wsbk,trus Biaggi udh tua Bangka buangan moto GP bisa jurdun Dengan Aprilia yg saat itu bukan yg terkuat dan banyak contoh lain

  8. Masalahnya ada di kualitas Pebalap Wssp300, wss, WSBK yang memang juga alakadarnya…

    Coba sebut juara wssp300 yang bisa hebat di WSBK?

    Sebaliknya juara moto3 bisa juara Moto2, bahkan MotoGP. Kualitas berbicara, cara hidup, latihan keras,…

    WSBK dan keturunannya masih lebih mirip balap hobi, yang tua tua juga masih bisa jadi kontestan dan poin

  9. wsbk sekarang udah setengah prototipe, coba dibuat “murni” motor jalanan yg buat balap, mungkin lebih rame

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP