Menembus Tembok “0,1 Detik”: Cerita di Balik Kebangkitan HRC Menuju MotoGP 2026

TMCBLOG.com – Halo sobat sekalian, Kali ini TMCBlog mau ajak sobat semua menengok sedikit ke dapur pacu HRC (Honda Racing Corporation). Banyak yang bertanya, “Kapan sih Honda balik lagi ke barisan depan?”. Nah, menarik banget menyimak obrolan mendalam antara Direktur HGRX, Atsushi Ogawa, bos pengembangan roda dua Honda, Hikaru Tsukamoto, dan tentu saja Test Rider HRC, Takaaki Nakagami, yang baru-baru ini dirilis di platform Note.

Ternyata, di balik layar, Honda bukan cuma ganti sasis atau mesin, tapi sedang melakukan “reset” besar-besaran terhadap nilai dan cara kerja mereka. Yuk, kita bedah poin-poin menariknya!

1. Keluar dari “Masa Kelam” dan Menemukan Momentum

Sobat sekalian, Tsukamoto-san mengakui bahwa sebelumnya Honda sempat berada di masa yang beliau sebut sebagai “Era Kebingungan”. Dulu, sering banget terjadi data simulasi bilang motornya bagus, tapi pas dicoba rider di lintasan, hasilnya zonk. Rider sering bilang, “Motor ini nggak bisa dikendarai!”.

Tapi sekarang, angin segar mulai berhembus. Feedback dari Nakagami-san menjadi kunci. Sekarang, apa yang direncanakan oleh engineer mulai sejalan dengan apa yang dirasakan rider di atas motor. Inilah yang mereka sebut sebagai “Momentum”. Ketika tim mulai merasa “eh, part baru ini beneran bikin lebih kencang!“, semangat satu tim langsung meledak lagi.

2. Dari “Putus Asa” Menjadi “Gregetan” (Frustrasi yang Positif)

Ada cerita menarik dari seri Indonesia tahun lalu, sob. Saat itu, Luca Marini sempat berada di posisi ke-2 dan akhirnya finis ke-5. Kalau tahun-tahun sebelumnya, finis ke-5 mungkin sudah bikin tim syukuran. Tapi tahun ini? Tim malah merasa kecewa dan menyesal.

Menurut Tsukamoto-san, rasa kecewa itu adalah tanda positif. Artinya, mereka sudah kembali menjadi “Fighting Group”. Mereka kecewa karena mereka tahu sebenarnya mereka punya pace untuk podium. Mentalitas “berani bertarung” ini sudah kembali ke pit box HRC Honda maupun LCR.

3. Komunikasi adalah Kunci: Luca Marini Belajar Bahasa Jepang!

 

Nah, ini sisi uniknya, sob. Ternyata Luca Marini rajin menyapa kru dengan “Konnichiwa”. Meskipun sederhana, upaya Marini memahami budaya Jepang ini bikin komunikasi dengan para engineer di HRC jadi lebih cair. Nggak ada lagi tembok antara engineer Jepang yang kaku dengan rider Eropa. Semuanya melebur demi kemajuan RC213V.

4. Menembus Tembok 0,1 Detik dengan Teknologi F1

Sobat sekalian pasti tahu kalau Honda punya divisi F1 yang sangat sukses. Sekarang, HRC MotoGP mulai mencoba menyuntikkan standar presisi ala F1 ke motor RCV mereka. Tsukamoto-san sempat kaget melihat bagaimana tim F1 bekerja di Suzuka—presisi hingga hitungan sub-milimeter, pengukuran tiap part yang super ketat, dan manajemen engineer yang sangat spesifik.

Targetnya jelas: Mengejar 0,1 hingga 0,2 detik per lap. Di MotoGP zaman sekarang, selisih segitu bisa mengubah posisi grid dari baris kelima ke baris depan! Fokus utama mereka sekarang ada pada:

  • Akselerasi: Bagaimana tenaga mesin tersalurkan sempurna ke ban belakang.

  • Wheelie Control: Mengendalikan ban depan agar tetap nempel di aspal tanpa memangkas tenaga terlalu banyak.

5. Menatap Regulasi 2027

Meski fokus ke 2025 dan 2026, Honda sadar bahwa tahun 2027 adalah “reset” total buat semua pabrikan dengan mesin 850cc dan aerodinamika yang lebih simpel. Namun, Tsukamoto-san menegaskan bahwa keberhasilan di 2027 sangat bergantung pada apa yang mereka bangun hari ini. Jika siklus pengembangan (tes, simulasi, evaluasi) sudah berjalan benar sekarang, maka saat regulasi baru datang, Honda sudah siap tancap gas.

Melihat apa yang diceritakan di atas, Honda sepertinya sudah mulai menemukan “obat” yang pas. Bukan cuma soal part teknis, tapi soal manajemen manusia dan data. Perjalanan memang masih panjang untuk mengejar dominasi Ducati, tapi seperti kata Ogawa-san: “Honda masih akan terus berkembang. Pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai!”

Gimana menurut sobat sekalian? Apakah tahun 2025 ini kita bakal sering melihat motor RWB atau motor Castrol-LCR nangkring di podium lagi? Silahkan tulis pendapat sobat di kolom komentar ya! Semoga bermanfaat!

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

11 COMMENTS

  1. “coba dari dulu bisa dikasitau kaya gini mah gw bisa podium berapa kali”

    -Nakagami 😂😂

  2. Sekarang mesin f1 nya yg kelihatan kurang,soalnya rpmnya masih dilimit lebih rendah dan top speednya masih tertinggal dr yg lain

    • Gara-gara mau pamit tapi pas ada hasil eh batal mundur tapi para insinyur dan mesin udah terlanjur “diakuisisi” sama redmbull resing. Sekarang bangun mesin dari nol lagi tapi yang bangun bukan insinyur terbaik yg telah pergi itu. Dilema f1onda 😀
      Tapi kalo divisi motogp sih bakal beda cerita kayanya.

  3. motor sudah ok, makanya tinggal nyari pembalap LEVEL 1 atau AAA+++
    ngga kebayang kalau MM balik lagi, pasti bisa overlap pembalap ke urutan ke 2 🤣

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP