TMCBLOG.com – Sob, Seperti yang kita ketahui bersama, MotoGP akan kembali menyambangi Brasil di akhir pekan ini, tepatnya di Sirkuit Goiânia (Autódromo Internacional Ayrton Senna). Namun, ada satu catatan merah besar dari pemasok ban tunggal MotoGP, Michelin. Piero Taramasso, sang bos Michelin Motorsport, secara terang-terangan menyebut bahwa Goiânia adalah trek paling sulit dan paling “kejam” bagi ban di seluruh kalender MotoGP 2026.
Mari kita bedah secara teknikal kenapa trek ini menjadi mimpi buruk bagi karet bundar asal Prancis tersebut.
Analisis Karakteristik Trek Goiânia: “The Tire Killer”
Menurut data yang dihimpun Michelin, Goiânia bukan sekadar sirkuit baru, melainkan sirkuit dengan tingkat stres termal (thermal stress) yang ekstrem. Berikut adalah beberapa faktor penyebabnya:
1. Tingkat Abrasi Aspal yang Tinggi Aspal di Goiânia dikenal memiliki karakter butiran yang sangat agresif. Gesekan antara permukaan ban dengan aspal di sini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata sirkuit di Eropa. Hal ini menyebabkan ban cepat terkikis (wear) jika kompon yang digunakan terlalu lunak.
2. Suhu Permukaan Trek yang Ekstrem Brasil di waktu balapan biasanya memiliki suhu lingkungan yang sangat panas. Suhu lintasan bisa dengan mudah menembus angka 50–60 derajat Celcius. Masalahnya, suhu panas ini bukan hanya dari matahari, tapi juga hasil dari kerja keras ban yang terus-menerus tergesek aspal agresif tadi.
3. Karakter Tikungan Panjang (High Lateral Force) Sirkuit ini memiliki beberapa tikungan panjang yang mengharuskan pebalap berada dalam posisi miring (lean angle) dalam waktu yang cukup lama. Hal ini menciptakan gaya lateral yang konstan, yang mana suhu ban di bagian pinggir (shoulder) akan meningkat drastis tanpa ada kesempatan untuk mendingin di trek lurus.
Strategi Michelin: Ban “Spesial” untuk Brasil
Menghadapi tantangan ini, Taramasso mengonfirmasi bahwa Michelin tidak bisa membawa ban standar yang biasa digunakan di Mandalika atau Buriram. Mereka harus menyiapkan alokasi ban yang lebih spesifik:
-
Carcass (Karkas) yang Diperkuat: Michelin kemungkinan besar akan menggunakan struktur karkas yang lebih kaku dan tahan panas untuk mencegah ban mengalami overheating di bagian dalam.
-
Kompon Asimetris Ekstrem: Mengingat jumlah tikungan kanan dan kiri yang mungkin tidak seimbang bebannya, ban belakang hampir dipastikan akan menggunakan teknologi asimetris dengan sisi yang lebih keras di bagian yang paling banyak menerima beban.
-
Hard Compound sebagai Menu Utama: Jangan kaget jika pebalap akan lebih banyak bermain dengan pilihan ban Hard atau Medium-Hard, karena ban Soft mungkin hanya akan bertahan beberapa lap saja untuk time attack.
Managemen Ban
Balapan di Brasil 2026 nanti bukan lagi soal siapa yang paling kencang di lintasan lurus, tapi siapa yang paling pintar mengelola suhu ban. Jika pebalap terlalu agresif di awal lap, risiko drop performa ban di akhir balapan akan sangat besar karena suhu ban yang “meledak” (thermal degradation).
Piero Taramasso sendiri menekankan bahwa data dari sesi latihan bebas (FP1) akan sangat krusial bagi mereka untuk menentukan apakah ban yang mereka bawa sudah cukup kuat untuk menahan siksaan aspal Goiânia.
Taufik of Buitenzorg | @tmcblog






Saking ganasnya, sirkuitnya sekarang terendam banjir 😂.