TMCBLOG.com – Bro Sekalian, Jorge Lorenzo akhirnnya sudah bisa bicara soal Honda setelah secara De facto kontraknya dengan Ducati berakhir. Mungkin awalnya Tidak ada yang pernah Menyangka Lorenzo akan menggunakan RC213V. Mungkin Lorenzo sendiri di awal Musim 2018 juga tidak menyangka garis kehidupannya akan melabuhkan dirinya Ke Repsol Honda. Ndilalah suasana Box Ducati saat itu tidak Kondusif dan HRC sedang butuh Pembalap baru pengganti Dani. Memang sudah jalan takdirnya begitu.

Jorge Lorenzo
Jorge Lorenzo HRC

Tinggal sekarang bagaimana Lorenzo di Honda. HRC dipastikan akan meneruskan model development Motor dengan dua jalur yang berbeda seperti yang mereka lakukan ke Dani Dan Marc. Atau seperti yang pernah yamaha Lakukan di era 60-an dengan Phil Read dan Bill Ivy. Seperti Giacomo Agostini dan Phil Read di MV Gusta pada tahun 1970-an. Mirip kasus Trisula Lawson, Wayne Gardner dan Mick Doohan di Rothmans Honda pada tahun 1980-an. Seperti kisah Lawson dan and Wayne Rainey di Team Roberts Marlboro Yamaha pada tahun 1990-an. Dan tentunya Kombinasi Lorenzo- Valentino Rossi di Yamaha tahun 2000-an.

Jorge Lorenzo honda

HRC sudah membuktikan bahwa mereka siap memperlakukan Marc dan Lorenzo dengan berbeda sesuai Permintaan masing masing pembalap. Yap Apa yang dilakukan Honda di Test Valencia dan Jerez adalah Fakta yang sudah terpapar ke kita. Lorenzo sendiri takjub akan tanggapnya HRC terhadap Permintaan teknis yang ia inginkan. Salah satunya soal Bentuk ( shape ) dari tangki bahan bakar. Mungkin agak nggak masuk di akal bagi kita bahwa HRC malah inginnya melakukan Hal yang berbeda utuk dua pembalapnya ketimbang menggunakan satu arah development. Kan Biayanya lebih tinggi ?

pendekatan Management Puig Memang Beda

Alberto Puig sendiri Yang memiliki gaya management Old School-menyentuh sisi racing dari dalam karena pengalamannya sebagai pembalap lebih suka mebenturkan Marquez dan Lorenzo dalam satu team. Puig tahu betapa Kuatnya dukungan dana HRC sehingga ia yakin walaupun melakukan dua arah development berbeda, Honda sanggup melakukannya. Ia melakukan apa yang kebanyakan Manager takut melakukan. Alberto tidak takut mega starnya ( Marc Marquez) berubah Mood karena karena merasa ‘ di duakan ‘ pabrikan. Puig tidak ingin ada pembalap Superstar yang cengeng, bikin bikin veto dan segala Macam.

Thesis Puig terhadap Marc Marquez adalah Jika anak Muda ini diberikan pressure  lebih maka akan ada upaya di bawah alam sadarnya Untuk melakukan sesuatu lebih keras lagi. Dan Sepertinya sih Marc Marquez termasuk Superstar yang Easy Going. Dalam sebuah Obrolan Marc sering bilang bahwa upaya memveto team akan kriteria team mate menandakan Pembalap itu takut. Sepertinya Marc Pun sudah tidak sabar meladeni Jorge Lorenzo karena ia Tahu menang dan Kalah kali ini akan lebih berarti. Sebab keduanya sekarang menggunakan Senjata yang sama.

Lorenzo adalah Hidden Agenda HRC

Thesis Lain seperti yang sudah tmcblog penah ceritakan sebelumnya dimana ada sinyalemen HRC Mempersiapkan Motor Yang lebih racer Friendly. Lorenzo memiliki riding style yang sangat berbeda dibandingkan dengan Marc Marquez. Namun Riding style Jorge tidak telalu banyak berbeda dibandingkan Dani Pedrosa. Tmcblog yakin HRC sangat paham akan hal ini. Oleh sebab itu Pula Ramon Aurin yang notabenenya Mantan Crew Chief Dani yang mendampingi Jorge di 2019. Butter Hammer Lorenzo akan meneruskan apa yang telah di-develop Dani -yang menurut Angel Nieto memiliki riding style seperti Malaikat.  Namun kali ini Barrier yang sebelumnya hadir karena kekurangan postur tubuh dani yang mungil akan sedikit terkurangi. Bagaimana Mengenai Motornya sendiri ?

Dua PR HRC untuk MotoGP 2019

Secara umum RC213V Model 2019 bersaha untuk menyelesaikan dua perkara yang selama 2018 menjadi Lubang kelemahan mereka. Perkara Yang pertama adalah soal kerasnya gaya tekan Front end sehinga membuat hampir semua pembalap Honda harus menggunakan Ban dengan spesifikasi Lebih keras dari umumnya pembalap. Marc Mengatakan bahwa ada dua Nilai Minus Ban kompon Keras. Yang pertama adalah mereka tidak lagi memiliki pilihan selanjutnya Jika berhadapan dengan kasus mudah tergerusnya Ban ( artinya mereka sudah tidak memiliki lagi pilihan ban yang lebih keras ).

Yang kedua adalah disebabkan Karakter dari ban kompon keras dimana Limit Gripnya tidak mengenal kata ‘ Kasih aba aba ‘ . . dari ngegrip miring rebah, langsung lost dan Crash. Di test Pramusim Valencia dan Jerez, HRC sudah membawa Sasis baru dan Menurut Marc titik Kritis RC213V agak berkurang. FYI Marc banyak Menggunakan ban medium di dua test yang lalu sebagai tanda Bahwa Memang Arah Riset HRC kesana.

Perkara Kedua adalah soal Performa dalam hal ini Power dari RC213V. Menurut mat Oxley beda Top Speed RC213V dan Desmosedici GP sudah mendekat. Dari awalnya berbeda 4 km/jam di tahun 2017 menjadi hanya 1,12 km/jam di Musim 2018. Namun di era di mana Perbedaan kecil performa MotoGP sangat berarti, maka 1,12 km/jam itu bisa jadi penentu menang atau Kalah. Honda sepertinya Nggak Mau main main diperforma.

Potensi Juara di 3 Pabrikan berbeda

Balik lagi, Mengenai Lorenzo. Ia sudah melakukan apa yang pernah Valentino Rossi Lakukan dan Secara Data Championship ia melakukan lebih baik dari Valentino Rossi. Ia sudah pernah jadi Juara seri dengan dua motor berbeda, dua sponsor minuman berbeda, dua crew chief berbeda, You name it .

Di Honda nanti dengan segala Kekuatan dan sumberdaya Jorge Lorenzo punya kesempatan menyandingkan diri dengan Lawson (Yamaha/Honda/Cagiva), Loris Capirossi (Yamaha/Honda/Ducati), Randy Mamola (Suzuki/Honda/Yamaha) dan Mike Hailwood (Norton/MV/Honda). Lorenzo berpotensi Menjuarai race di 3 Pabrikan berbeda. Dan Jika Jorge ia pun punya kesempatan menjadi pembalap yang rekornya sangat sulit disamakan yakni menjadi Juara dengan 4 pabrikan berbeda. Namun semua itu harus dilalui Mulai dari Test Pra musim Sepang di awal februari 2019 nanti . . sampai bertemu di Track Sepang sob !

taufik of BuitenZorg

107 COMMENTS

  1. sangat menarik untuk hidden agendanya hrc, mas. jl99 ini yg ke depannya akan jadi tandem sb06 untuk pengembangan motor dan hi-tech-nya honda. arah hrc sudah positip, dan memang “edan”

    Guest
    • desmodromik udah d patenkan ducati lek, klo mau pake harus bayar royalti dulu ke ducati
      makanya honda pake pneumatic yg payennya punya peugeot tp d free kan bwt siapa aja yg mo pake

      Guest
    • karena “karakter” honda belum menemukan kecocokan dg penggunaan sistem desmo-valve, mas. honda rc212v (2008) pernah uji coba keduanya, sistem pneumatic-valve dan sistem desmo-valve, keputusan ketok palu menggunakan sistem pneumatic.
      honda sendiri juga mengembangkan sistem desmo-valve dan sudah mengeluarkan hak patent-nya. desmo-valve versi honda.
      tidak menutup kemungkinan ke depannya juga menggunakan sistem desmo-valve juga

      Guest
      • termakasih pa bangun, diartikel tmc sebelumnya ttg desmodromic ducati, bawha penemu desmodromic bukanlah ducati. jadi sya cuma penasaran apa rcv pernah pake sistem valve tersebut apa belum.

        Guest
      • RC212V gak pernah pakai desmodromic, saya yakin karena saya paham sejarahnya desmodromic di Desmosedici GP. Yang saya tahu di tahun itu Hon da memang bikin 2 versi head, tapi itu cuma versi pneumatic sama versi perklep yang materialnya sudah mereka patenkan (pabrikan lain gak bisa pakai material itu). Kalau keluarin statement Ho nda pernah riset Desmodromic, silahkan cantumkan link atau apapun sumbernya. Biar gak jadi berita asbun. Soalnya mekanik lokal sendiri sempat ketakutan waktu sistem yang dia tiru dari desmodromic booming di media, padahal itu cuma motor bebek, roadrace kejurda jateng pula. Apalagi pabrikan yang sama-sama berkecimpung di MotoGP.

        Guest
      • honda hanya melakukan pengetesan, mas. keputusannya sampai musim inipun masih tetap menggunakan sistem pneumatic-valve. sistem desmo-valve sendiri bisa digunakan oleh pabrikan manapun karena memang bukan patent-nya ducati.
        sumber:
        – Honda Trying Both Pneumatic And Desmodromic Valves In ’08 RC212V-(MotoMattersdotcom).
        – desmo technology are wide-ranging, especially on the automotive side, and Desmo Story also features designs from Mercedes Benz, Ferrari, Peugeot, Audi, Toyota, Honda and more. (The Desmo Story Italy’s Museo Prunaro Deconstructs Desmodromics)
        – honda ada 11 patent untuk pengembangan sistem desmo-valve.
        – sistem desmo-valve tidak hanya dikembangkan oleh ducati, tapi ada mv agusta, suzuki, norton, bmw, dll.
        – mercedes benz salah satu pabrikan tersukses penggunaan sistem desmo-valve.
        sangat jelas ya honda pernah melakukan uji coba kedua sistem tsb. bahkan sempat jadi pembicaraan di forum motogp fans (tahun 2008/2009), rata2 pada penasaran dan menginginkan honda juga bertarung dg menggunakan sistem desmo-valve, termasuk saya. hehe..
        sistem desmo-valve saya yakin suatu saat honda pun akan menerapkannya, apalagi honda jg sudah memiliki ijin pengembangan patent sistem desmo-valve, bahkan pabrikan lain atau tim lain juga bisa ikut menggunakannya. permasalahannya, setelah nanti banyak tim yg menggunakan sistem desmo-valve, lantas bagaimanakah ducati mempertahankan “kekuatannya” ketika lawan juga menggunakan senjata yg sama? apakah oprek regulasi ke dorna lagi?

        Guest
    • Pneumatic valve punya hrc dikembangin dari mesin f1 nya, jd gw kira msh bisa bejaban sama desmodromic dalam hal kitir2 an

      Guest
      • Loh, kan ymh yg lebih dulu pake pneumatic valve. Makanya vr bisa kalahkan vs di 2008. Hrc 2009 baru pake pneumatic. Cmiiw

        Guest
      • Sistem desmo-valve banyak pabrikan yg memiliki ijin pengembangan patentnya, mas.
        rangkuman saya untuk ijin patent pengembangan sistem desmo-valve sebagai berikut:
        – F.H. Arnott the owner of the first desmo-patent (1910)
        – Ducati patent assigned to inventor Fabio Taglioni (1950an)
        – Fiat (1913)
        – Audi, Mercedes Benz, Ford, Honda, Mitsubishi, Nissan, General Motors, Jaguar Land Rover, Mazda, Volkswagen 1950an – 1990an
        – Mercedes Benz pabrikan tersukses untuk pengembangan sistem desmo-valve.
        referensi sangat panjang, ini saya rangkum poin2nya saja. mudah-mudahan bermanfaat

        Guest
      • bdt; ets betul mas. honda pabrikan terakhir yg menerapkan sistem pneumatic-valve, dan masih dipakai hingga saat ini

        Guest
    • Terus mesin Honda di F1 yang dipake BAR Honda sampe Honda F1 paket pneumatic siapa?
      Kalo punya info jangan setengah-setengah ya bro

      Guest
    • Sebelum HRC menurunkan RC212V paket pneumatic Valve dan Yamaha di M1, HRC sudah duluan nuruninnya di mesin F1 yang dipake Takuma Sato, Villeneuve, Button di BAR Honda F1 team maupun Honda F1 team
      Kalo tim pertama moto GP yg paket pneumatic Valve itu Aprilia di RSCUBE bukan Yamaha ati Honda

      Guest
      • betul mas. saat itu honda rc212v (2007) masih menggunakan spring-valve, di saat kompetitornya sudah menggunakan sistem valve yg lebih advance (pneumatic dan desmodromic), barulah di tahun 2008 honda melakukan ujicoba kedua sistem valve (pneumatic dan desmodromic) untuk mencari sistem valve manakah yg sesuai dg karakter honda. honda pabrikan terakhir yg mengganti sistem valve-nya ke pneumatic-valve.
        tidak mungkin honda secara langsung memutuskan menggunakan sistem pneumatic-valve daripada sistem desmo-valve tanpa melakukan ujicoba dan riset keduanya. tentunya dg pertimbangan “super ketat” yg akhirnya diputuskan dan disepakati untuk penggunaan sistem pneumatic-valve hingga musim ini.

        Guest
      • ironis y, buat pabrikan yang ongkos R&D berlimpah dan selalu bereksperiman gila-gilaan, seperti piston oval, body monocoque, tangki bahan bakar di bawah, mesin multi piston, dll. Dan g pernah peduli dengan masukan pembalap. Sampe si Erv Kanemoto kerjaannya tiap balapan g cuman setting mesin dan geometri, tp termasuk “drilling and epoxying”. Sampe Burgess ngomong “if your rider want a gold handlebar, you give them a gold handlebar”, dan Doohan berkata “I don’t want you touch my bike anymore than what I’ve already like.” HRC dr dl terkenal dengan “always turn an already good bike into a junk”, sampe akhirnya hadir pembalap atau mekanik yg memiliki karakter kuat seperti Doohan, atau Erv Kanemoto (yg menurut Lwason “I learned to be careful about what I said or the wrenches would be flying)……

        Guest
  2. HRC itu amat sangat peduli sama informasi dan pengetahuan meski cuma sedikit dan menurut pabrikan lain dianggap remeh. Masalah dana bukan hal yang signifikan, karena informasi lebih bernilai dibanding perkara uang. Makanya HRC lebih berminat mengembangkan teknologi sebanyak mungkin meski dana nya mahal. Tipikal Honda dari jaman dulu selalu memilih jalan yang susah.

    Nah kali ini babak baru dimana strategi jangka panjang HRC bikin motor yang defaultnya aja kenceng dan mudah di setting sama pembalap lain yang masih rookie misalnya. Karena tidak semua pembalap bisa se-gila MM dan Stoner ketika diatas motor.

    Jadi, jangan heran ketika 1 dekade kedepan HRC bisa mendominasi balapan. Bayangkan kedepannya rider rookie langsung bisa top 5 dengan motor yang secara default udah kenceng.

    Guest
  3. Comment: kembali ke era 2000an, dmna honda user friendly dbwa sembalap siapapun. Biaggi, sete g, makoto tamada, marco melandri, toni elias dll

    Guest
    • Se-user friendly-nya RC211V, tetep aj galak. Rossi sampe ngeri waktu pertama kali mencoba mesin V lima silinder tsb. Kl mau tau motor user friendly yang selalu jadi impian tiap pembalap yang naik ke kelas primer, paling pas y NSR-500 dengan mesin big-bangnya. Saking user friendly-nya, pembalap baru gampang banget adaptasi dan melaju cepat. Sampe Doohan akhirnya minta khusus buat motornya pk mesin Screamer yang tenaganya lebih galak tapi ky banteng yg hobi banget bikin ridernya high side.

      Guest
  4. Pertanyaannya akankah JL99 menjadi lebih manusiawi di box honda?
    Di yamaha crewnya suka mecucu kecut. Di ducati jg mesem asem.
    Kalau box Repsol lebih ekpretif.. Apa lagi kalau ada bapaké MM93, heboh banget dia.
    Biasanya JL dingin, wawancara aja engga lepas kacamata.
    Kalau MM susah mingkem dia.. :v

    Guest
    • Kita lihat nanti karakter lorenzo yg baperan apakahbakan muncul?? Di ducati dia sempet ngebantinv motor lho!

      Guest
  5. honda harus berambisi kejar performa ducati minimal tempel ketat aksel&topspeed desmo,
    thn 2016 rcv marc dipecundangi m1 lorenzo saat adu akselerasi keluar tikungan padahal kemenangan udah depan mata.

    2016 marc mengeluh soal akselerasi motor yg lambat

    Guest
  6. Kakek lejen udah bedol desa ke Ducati tetep zonk, padahal siapa sih yang meragukan kemampuan Jeremy Burgess sejak jaman GP500 sampai bisa bikin M1 klop sama Rossi? Juga kru dia yang dia “curi” dari HRC ke Yamaha, kemudian dia bawa ke Ducati. Dari sini seharusnya valeban sadar sama potensi asli kakek lejen, tapi yang terjadi justru mereka bikin skenario dan teori2 konspirasi.

    Guest
      • Yang dibahas memang Lorenzo, tapi saya komentari paragraf tentang juara di 3 pabrikan. Dan di paragraf itu gak disebutin effort Rossi buat sekedar juara di 3 pabrikan seperti apa, sementara Lorenzo datang ke pabrikan ketiganya gak bawa mekanik dan kru yang udah dia celup ke 2 pabrikan sebelumnya

        Guest
      • Nah itu loe tau
        Ya sudah faktanya ketika rossi menang bersama yamaha dan pindah keducati bawa burgess
        Sedangkan lorenzo pindah ke ducati dan honda tidak bawa siapa2
        Ngapain diperpanjang sij

        Guest
    • ngah..ngah, taun 2010 hnda jg bajak 2 senior engineer ymha dmn taun 2009 jurdunnya adlh rossi/ymha.. dn 2 insinyur tsb adlh ahli elektronik yg pnya basic magneti mereteli.. ad tuh d artikelnya tmc..

      Guest
    • ^ Ini beneran ada artikelnya? Dua engineer Yamaha yang paham Magneti Marelli? Tahun 2009? Lah tahun segitu emangnya Yamaha pakai MagMar? Gw minta tolong cariin artikelnya dong ehehehe

      Guest
      • AFAIK, dl Magnetti Marelli cuma desain ECU, sementara programnya yg ngembangin tetep Yamaha (dg Zugna-Battaglia sebagai motornya). Peran Zugna-Battaglia jg sebenernya lebih sbg developer, krn wlpun mereka yang bikin konsepnya, executornya tetep teknisi Yamaha.

        Kondisi berbeda ada d HRC. Baik ECU maupun jeroannya, mereka yg mengembangkan sendiri berdasarkan pengembangan ECU u/ mesin F1 mereka. Pendekatan ini merupakan ide Nakamoto yg sblmnya adalah Technical Director Honda F1. Dan d 2013, Nakamoto mengakui kl pendekatan yg dia pakai 100% salah. Karena rider-machine dynamic di F1 dan MotoGP berbeda 180 derajat. Para penunggang RC213V jg semua mengeluhkan ECU yg terlalu agressive. IMO, HRC merekrut Zugna-Battaglia (bonus Luzzi) untuk bisa mengembangkan program mapping yg tidak terlalu agresif dan sesuai dg rider-machine dynamic bagi pembalap mereka.

        Gayung bersambut, krn posisi Zugna-Battaglia d Yamaha pun jg udah mentok krn pengembangan sistem untuk M1 seluruhnya sudah diambil alih oleh pr teknisi Jepang.

        Dan, again IMO, sepemahaman sy dl semacam ad gentleman agreement antar manufaktur Jepang yg berlaga d kelas GP. Mereka tidak akan membajak teknisi satu sama lain, sebagai bentuk penghormatan atas kompetensi diantara mereka. Dan rasanya penghormatan atas kebijakan tersebut mulai menghilang sejak Rossi membawa teknisi inti HRC, yg memahami karakter mesin dan geometri RC211V k Yamaha. There’s no longer any honour among the thief……..

        Guest
      • Hmm menarik dan bikin penasaran juga ya udah dari 2009 HRC rekrut teknisi yg punya basis MagMar. Tapi agak aneh juga sih soalnya tahun segitu kan pada pakai ECU in house baik YFR maupun HRC….???
        Halo wak haji ada ulasan gak soal ini

        Guest
    • thn 2010 emg blm pk mgneti, tp bkn brarti mgneti blm ada.. dia pnya basis mgneti bs jd krn llusan univ itali.. dn wktu itu honda sngt brambisi nglahin rossi (dndam ksumat dr riwayat sblumnya), smpe dbelain bajak engineer dr rivalnya..

      Guest
    • taun 2010 emg blm pk mgnti mrelli, tp bkn brarti mgneti mrelli blm ada.. dia pny basis mgnti mrelli bs jd krn llusan univ d itali.. dia dbajak hrc untuk nglahin rossi krn dndam ksumat hrc sm rossi.. bajak mmbjak itu lumrah, cm eneg aj tiap kali dbilang rossi bdol desa bawa inilah..itulah..

      Guest
    • Koq kayaknya ada komen yg hilang. Terakhir saya baca artikel ini tadi sore, masih ada komen yg nyebut soal pembalap Superstar yang cengeng, bikin bikin veto dan segala Macam. Saya lupa nicknamenya, om darso inget gak? Atau itu cuma halusinasi saya saja ?

      Guest
      • yoi di apus coi wkwkwk, mungkin sensi yg punya warung
        but it’s okay
        Itu hak yg punya warung, wong gue cuma numpang komen.

        Guest
    • ngah ngah.. gentleman agrement? fakta ap opini? kl cm opini y susah.. kl emg g mau teknisinya pndah y ap yg bs dlkukan kek.. kyak hohe ke ducati mau ngjk focarda, tp focarda milih stay d ymha.. ntah krn focardanya sndri atau peran ymha, hsilnya focarda ttep d ymha..

      Guest
      • Fakta atau Opini? Mau dibilang fakta juga susah membuktikannya, namanya juga gentlement agreement, kesepakatan biasa yang mungkin tidak diucapkan tp menjadi semacam kode etis diantara mereka danotomatis tidak dituangkan dalam surat perjanjian. Masalah gentlemen agreement sudah rame jadi bahan obrolan di forum fans MotoGP dr jaman Burgess dan timnya pindah ke Yamaha diajak Rossi. Topik ini muncul lagi di tahun 2009 setelah tiga teknisi Yamaha pindah ke HRC (Banyak rekan diskusi di forum yg bilang “It’s a payback for what they did earlier”). Apakah itu bentuk Honda membajak teknisi Yamaha atau memang Zugna-Battaglia yang memang pingin pindah ke Honda untuk mencari tantangan yang lain, mengingat setelah mengembangkan electronics package untuk M1 mereka menyerahkan seluruh knowledge mereka kepada para teknisi Jepang yang mengambil alih proyek pengembangan electronic package (dampe Emmet smp menulis “Their success has probably been the cause of their own downfall”), cuma Honda, Zugna, Battaglia, dan Yamaha yang tahu.

        Untuk perspnelnya sendiri, mau dia pindah ato g, itu murni keputusan personel pribadi. Tapi, sesuai “kesepakatan”tersebut, antara Honda-Yamaha-Suzuki-Kawasaki tidak akan membajak teknisi masing-masing, terutama yang memahami jeroan senjata utama mereka. Dan kl dibilang opini, wajar kl banyak yang beropini seperti itu, mengingat karakter orang Jepang yang menjunjung kehormatan dan chivalry. Dulu wktu Freddie Spencer pindah dari Honda ke Yamaha juga g bawa Erv Kanemoto diam-diam, dan begitu juga sebaliknya saat Lawson pindah dr Team Roberts ke Honda. There’s still a honour, even amongs the thief, before they starts stealing it

        Guest
      • @AIM-1N kalau begitu saya jadi paham kenapa Shuhei Nakamoto begitu sensi terhadap Rossi, juga motor RC211V nomor 46 sempat gak di pajang di museum mereka. Di 2012 karir Rossi hampir end karena dia gak betah di Ducati, sementara balik ke Yamaha dia sama dengan jilat ludah sendiri karena waktu tinggalin Yamaha dia keluarin statement gak akan ke Yamaha lagi dan pengen pensiun di Ducati. Saat itu pabrikan cuma 3, Ducati gak betah, Yamaha dia sendiri yang kebanyakan tingkah waktu keluar, balik ke Honda? Saat itu Nakamoto bahkan bilang kurang lebih gini, “saat kami beri dia dukungan untuk juara, dia tidak mau mengakuinya dan kemudian menulis buku, apa sekarang dia berubah pikiran?” Nah untunglah ada Dorna yang bisa bikin lejen kembali ke Yamaha, juga statement2 dia waktu tinggalin Yamaha seolah angin lalu, padahal kalau mau jujur, harusnya siapapun udah hilang respect ke Rossi karena jilat ludah sendiri. Plus juga Lorenzo gak kasih dia tembok padahal wektu Lorenzo rookie sangat dibatasi interaksi dengan Rossi karena dia gak mau teammate nya suatu saat lebih kuat dari dia (dan sekarang terbukti, harus diakui mental JL baja)

        Guest
      • @AIM-1N kalau begitu saya jadi paham kenapa Shuhei Nakamoto begitu sensi terhadap Rossi, juga motor RC211V nomor 46 sempat gak di pajang di museum mereka. Di 2012 karir Rossi hampir end karena dia gak betah di Ducati, sementara balik ke Yamaha dia sama dengan jilat ludah sendiri karena waktu tinggalin Yamaha dia keluarin statement gak akan ke Yamaha lagi dan pengen pensiun di Ducati. Saat itu pabrikan cuma 3, Ducati gak betah, Yamaha dia sendiri yang kebanyakan tingkah waktu keluar, balik ke H onda? Saat itu Nakamoto bahkan bilang kurang lebih gini, “saat kami beri dia dukungan untuk juara, dia tidak mau mengakuinya dan kemudian menulis buku, apa sekarang dia berubah pikiran?” Nah untunglah ada Dorna yang bisa bikin lejen kembali ke Yamaha, juga statement2 dia waktu tinggalin Yamaha seolah angin lalu, padahal kalau mau jujur, harusnya siapapun udah hilang respect ke Rossi karena jilat ludah sendiri. Plus juga Lorenzo gak kasih dia tembok padahal waktu Lorenzo rookie sangat dibatasi interaksi dengan Rossi karena dia gak mau teammate nya suatu saat lebih kuat dari dia (dan sekarang terbukti, harus diakui mental JL baja)

        Guest
    • Okelah dari kasus Zugna-Bataglia ini kita jadi paham bahwa pada masa keemasannya dengan memperoleh gelar juara dunia berturut Yamaha punya elektronik yang paling advanced didukung engineer2 top notch. Semakin mentah aja konsep yang mereduksi peran signifikan motor (para engineer di belakangnya) dan pengkultusan Skill Rider sebagai sole factor kesuksesan di MotoGP. Transfer pembalap bisa bikin suatu team yang ditinggal puasa gelar. Tapi ternyata pindahnya teknisi juga bisa mereplikasi efek yang mirip. Bukti bahwa baik sisi teknis maupun sisi skill punya peran yang sama penting. Selama ini yang ramai dibicarakan kan transfer pembalap padahal bisa jadi transfer para teknisi ini juga berpengaruh besar contoh terakhir ya pindahnya Tosi ke HRC. CMIIW

      Guest
  7. menang 1x aja dgn honda akan mencetak rekor kemenangan dgn 3 pabrikan berbeda, mantapp ? rekor yg udah lama gak tercipta hehehh

    Guest
    • Dan kalau setelah itu dia iseng ke Suzuki atau ke KTM dan berhasil menang minimal sekali juga, bakalan jadi rekor sendiri 4 pabrikan? usia Lorenzo masih 32, kalau kontrak 2 tahunnya dengan HRC gak dia perpanjang dia masih punya waktu 6 tahun sebelum usia 40. Diliat sampai usia 31 masih bisa jadi title contender yang gatot karena faktor eksternal (belum klop dengan GP18 di awal musim dan dns di akhir musim) dan performa secara fisik gak ada penurunan, kecil kemungkinan dia senasib dengan Rossi (usia 39 udah gak mampu menang). Kalaupun dia dianggap bakalan senasib dengan Rossi secara fisik, maka dia masih bisa jadi title contender sampai usia 36 dan bisa menang race sampai usia 38.

      Intinya, dia masih punya banyak waktu kalau cuma sekedar iseng pindah2 pabrikan. Tapi kalau HRC memang tempat ternyaman, kayaknya sampai pensiun pun Lorenzo bakalan di HRC. Pedrosa aja pilih pensiun ketimbang pindah pabrikan lain, satelit pula.

      Guest
  8. hehehe dlu mpet banget ini sama pembalap pakai acara duduk2in kursi yellow….
    semenjak disebut man of stell jadi biasa…semenjak oknum valeban merajalela skrg pindah ke 99 malahan….hehe

    Guest
  9. Saya jadi penasaran dengan HRC…untuk 5th yg akan datang siapa pembalap yg ada di list moto3 yg akan masuk ke repsol honda?! Dengan melihat arah pengembangan ditangan 3 pembalap paling edan(marc,lor,cal)…siapa pembalap masa depan yg memiliki kriteria 3 alien diatas yang akan berlabuh ke repsol honda???

    Guest
    • bibit unggul honda banyak dikelas capung, nanti juga muncul. lagian pembalap yang ada di tim lain kalo pun digoda honda siapa sih yang gamau apalagi sekelas repsol honda yang menggoda wkwkwk ?
      inget kasus zarco vs manager vs repsol honda kan ? sampe mencak mencak itu zarco ?

      Guest
  10. Tanpa kasih aba-aba maksutnya tanpa peringatan dini diluar kemampuan sesitivitas TCS,Oom. Konsekuensinya Risiko crash saat push di atas limitasi.

    Guest
    • Soft dan Medium Compound, kl udah mencapai limitnya, dia akan kehilangan sedikit traksi. Tapi karena compoundnya lunak, sempat deforming untuk menyisakan sedikit traksi dan mulai sliding sebelum akhirnya hilang traksi total, sehingga ada semacam impuls yang sempat dirasakan oleh Rider. Akibatnya rider bisa segera melakukan tindakan koreksi.

      Sementara kl Hard Compound, begitu mencapai limitnya, dia langsung lost traction. Sehingga g ada kode alam tambahan sebagai tanda untuk ridernya.

      Guest
    • motogp mah menurut ane cocokan
      makanya kemampuan untuk cepat beradaptasi faktor penting
      sbg catatan
      jl pertama kali jurdu 2010 mengalahkan vr atw butuh lebih dr 2 tahun
      jl cuma 2 tahun diducati, dovi dr 2013 (cmiiw) sudah lebih lama mengikuti perkembangan ducati
      imho bisa aja jl ngalahin mm
      inget bro ban itu bundar, kalo kotak itu band

      Guest
  11. jika lorenzo berhasil mengalahkan marquez, percayalah valeban bakalan mendukung lorenzo. ngohahahaha prinsipnya kan asal bukan marquez

    Guest
  12. Salah satu hidden agendanya yach menghapus image honda menang karena mm.
    Karena sejak 2013 – now, image nya honda menang karena mm,

    Sedang kubu sebelah 2013 – now, kalau kalah karena motornya, menang karena ridernya.

    Kebalikan nya 2013 ke bawah, menang karena ridernya, kalah karena apes.

    Guest
  13. Menurut saya jika HRC mau buat motor user friendly harus pakai mesin 4 inline klo pke v4 ya nikmatin kelebihan dan kekurangannya dong. kekurangannya adalah fisik pembalap harus top tiap saat diatas motor dan tak ada cedera ya. klo sudah cedera, bakal gak bsa mudah pke tuh mesin. kuat tapi liar vs biasa biasa tapi stabil. Kembali ke pembalapnya

    Guest
    • miler, petruk, hohe, dovi di ducati, tersu sekarang rookie yg baru baek ke motogp juga lumayan kenceng untuk ukuran test pertamakali

      Guest
  14. Nah, benar tuh paragraf terakhir. Saya jg berpikir begitu.
    Melihat fisik dan situasi kompetisi skrng, mengejar bnyk titel juara dunia bukan hal yg realistis.
    Lbh baik jd legenda aja, cukup bisa juara seri dng bnyk merk motor. Di Honda cukup 3 thn aja, lalu loncat ke KTM, itung-itung selagi di Honda 3 thn, RC16 “dipermak” habis oleh Dani. Nanti gabung ke KTM tinggal poles dikit aja, seperti pas gabung ke Ducati dulu setelah Desmo “dipermak” Dovi, Pirro, dll.

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.