TMCBLOG.com – Umumnya sistem throttle dari sepeda motor produksi massal di Indonesia menggunakan kabel sling baja yang menghubungkan grip gas ke katup atau TPS dari throttle body, atau ke skep karburator. Ada beberapa motor yang sudah menggunakan sistem Ride By Wire seperti misalnya ZX25R dan CBR250RR. Sistem RBW sendiri menggunakan umumnya tidak menggunakan kabel sling baja lagi untuk menggerakkan katup throttle body.
RBW/TBW sudah tidak menggunakan kabel kawat baja, melainkan sistem elektrik. Jadi pada bagian setang kanan ada yang namanya APS atau Accelerator Position Sensor yang membaca putaran bukaan gas. Ketika tuas gas semakin dipuntir, sensor APS akan membaca sudut putaran kemudian perintah akan diteruskan ke Electronic Control Module (ECM). Setelah sampai ke ECM, ECM ini akan memerintahkan motor listrik yang berada di throttle body untuk membuka katup kupu-kupu atau nama lainnya throttle valve.
Untuk motor modern, umumnya TBW ini jauh lebih akurat ketimbang yang masih menggunakan kabel baja konvensional. Akselerasi jadi lebih responsif karena minim potensi terjadinya latensi. Namun pada sistem ride by wire, putaran gas enggak bisa langsung dipelintir habis, harus mengikuti putaran mesin, berbeda dengan sistem mekanis atau tali. Juga feel-nya jauh lebih linear.
Dapat satu foto update dari Honda RC213V 2025 terbaru yang difoto oleh jurnalis Peter Bom terlihat bahwa dari puntiran throttle gas pembalap Honda kembali terhubung dengan kabel baja. Apakah ini berarti RC213V tidak lagi Ride By Wire?
Kalau saja Honda tersebut menghilangkan sistem elektronik Throttle By Wire/Ride By Wire dari RC213V yang mereka pakai, tentu ini adalah sebuah kemunduran. Efek paling jelas adalah mereka akan kesulitan memiliki beebrapa mode strategi seperti Power Mode, variasi Launch Control, Engine Brake Control, dan Manajemen Torsi. Namun ternyata tidak begitu sob.
Yang terjadi adalah koneksi throttle gas dengan kabel bajanya itu tidak langsung mengendalikan bukaan butterfly valve di throttle body, melainkan kabel bajanya dihubungkan ke sebuah potensiometer (yang dilingkari kuning) untuk kemudian mengendalikan sistem Ride By Wire lagi. Jadi pada dasarnya ini masih sistem Ride By Wire namun menggunakan kabel baja di antara throttle gas dan potensiometer.
Para pembalap Honda melakukan hal ini diperkirakan karena umpan balik (feedback) perasaan E-throttle pada sistem mainstream RBW tidak natural untuk otak pengendara, mereka butuh kabel sling baja untuk menjawab hal ini. Jadi ini masih sistem RBW namun sekarang dapat memberikan pengendara perasaan ngebejek gas yang lebih ‘alami’. – @tmcblog



Canggih ya demi feeling
Demi feedback yang lebih baik, sehingga rider bisa memberikan masukan atau mendapatkan informasi yang lebih akurat.
Contoh potensiometer paling umum adalah pengaturan volume pada sebuah speaker.
Analog to digital mirip dac tapi kebalikannya.
Dulu juga banyak pembalap yang pake setup begini, salah duanya Vale dan Lorenzo (cmiiw) karena feeling dan memori otot kebiasaan sama tarikan kabel baja.
Bahas part2 motogp terutama di bagian setang, atau pusat kendali nya kayanya seru wak. Seperti yg terlihat di foto yg sama, penggunaan selang bening itu unik kayanya.
Ternyata belum Ride by Optic
Ride by plastic? 🙂
Udah ada sejak jaman RC211V gak sih ?
Kayaknya dlu waktu pernah bkin 3D Modelnya untuk MotoGP Ignition pas trend NFT pernah nemu gambarnya mirip kayak alat itu.
Hybrid…
Rbw itu bisa error gak y sensornya,kejadian di Mandalika MRS , Nelson nya Hendriansyah crash katanya efek gasnya gak bisa kembali normal
apa ga delay tuh ?