TMCBLOG.com – Pernahkah sobat memperhatikan saat-saat krusial di starting grid MotoGP? Di antara kebisingan mesin, kepungan media, dan crew grid, kita sering melihat interaksi intim antara pembalap dan Crew Chief mereka. Mereka berbisik, memberikan instruksi terakhir, atau sekadar menepuk pundak. Kali ini, kita akan mengulik apa yang dibisikkan oleh Paul Trevathan, orang kepercayaan sekaligus “bayangan” dari Pedro Acosta di garasi KTM, sesaat sebelum si “Ikan Hiu” (Iberian Shark) ini melesat di lintasan.
Bagi seorang pembalap, momen di grid adalah momen paling stres. Ada risiko kecelakaan di tikungan pertama, tekanan untuk memperbaiki posisi, dan sorotan jutaan pasang mata. Paul Trevathan mengungkapkan bahwa tugasnya di grid bukan lagi soal strategi besar—karena itu sudah dibahas di garasi—melainkan soal ketenangan dan kepastian.
Trevathan melakukan dua hal utama:
-
Checklist Terakhir: Mengulang prosedur warm-up lap dan detail teknis untuk start yang sesungguhnya.
-
Pesan Psikologis: Memberitahu Acosta bahwa dia tidak sendirian menghadapi tekanan tersebut.
“Di atas grid, saya mengulangi prosedur yang harus dilakukan sebelum warm-up lap dan start yang sebenarnya. Ini adalah momen yang intens, namun sangat berguna untuk memberi tahu Pedro bahwa saya ada di sana untuknya,” ujar Trevathan dalam wawancaranya.
Pesan “Kamu Tidak Sendirian”
Trevathan sangat memahami beban berat yang dipikul pembalap muda seperti Acosta. Harus membuktikan diri dalam 22 seri balapan setahun, menghadapi media setelah hari yang buruk, dan menjaga ekspektasi tim adalah hal yang bisa menjatuhkan mental siapa pun.

Red Bull KTM Factory Racing
KTM
MotoGP
GP Qatar 2025 (circuit Lusai) 11-13/04/2025


photo: MICHELIN
Trevathan menekankan bahwa elemen paling relevan bagi seorang Crew Chief adalah kehadiran secara emosional. Ia ingin Acosta merasa didukung sepenuhnya, baik saat menang maupun saat terpuruk. Orang sering lupa betapa sulitnya menjadi pembalap profesional di level ini.
Ddari informasi ini kita bisa melihat bahwa hubungan antara pembalap dan Crew Chief sudah melampaui batas teknisi dan atlet. Mereka adalah partner hidup di lintasan. Bagi pembalap debutan atau pembalap muda seperti Acosta, ketenangan batin jauh lebih penting daripada data teknis yang sudah “kenyang” mereka lahap sejak sesi latihan bebas.
KTM tampaknya cukup jeli menempatkan Trevathan di sisi Acosta untuk menjaga stabilitas emosi sang wonderkid agar tetap fokus tanpa merasa terbebani sendirian. – @tmcblog



Jangan seperti Hohe
walach dani gak pake arai lagi
Wonderkid?
Overrated saja itu.
Peran yg mirip dari orang Jepang di HRC dulu ya wak (lupa namanya siapa), yg berusaha nenangin dan support Marc di race terakhir Valencia 2017, dengan bilang: You are Marc Marquez
Mirip Pere Riba saat dng Rea. Sempat terdengar di kamera, mau start wet race, Rea terlihat agak ragu dan sempat ngeluh pandangan terganggu disampingnya. Ditanggapi Riba, jng lupa klo rider lain jg menghadapi hal yg sama. Dan klo ttp di paling depan, maka pandanganmu lebih baik dibanding yg dibelakangmu..
Terlihat Rea seperti baru sadar ucapan Riba benar.