TMCBLOG.com – Halo Sob, Kali ini kita akan membedah hasil interview mendalam Media AS dengan sosok yang sangat krusial dalam sejarah karir seorang Marc Marquez, yaitu Emilio Alzamora. Pria berusia 52 tahun asal Lleida ini adalah “otak” di balik layar yang menemani Marc selama 18 musim dan meraih 8 gelar juara dunia.
Setelah cukup lama tidak terdengar suaranya pasca berpisah dengan Marc, Alzamora memberikan pandangan yang sangat menarik mengenai kondisi Marc saat ini, keputusannya meninggalkan Honda, hingga proyek barunya mencari “The Next Marc Marquez”. Cekidot ulasannya!
Keputusan Meninggalkan Honda: “Sebuah Keharusan”
Salah satu poin paling kuat dalam wawancara ini adalah kutipan Alzamora yang menyebutkan bahwa Marc mengambil keputusan yang “obligadas” atau wajib/terpaksa dilakukan.
Meskipun Alzamora mengakui keberanian Marc meninggalkan zona nyaman di Honda (beserta gaji besar dan tim teknis yang loyal) untuk pindah ke tim satelit, ia melihat itu bukan sekadar pilihan, melainkan jalan keluar terakhir. Menurut Alzamora, dengan performa Honda yang tidak kompetitif dan risiko kecelakaan yang terus menghantui, Marc tidak punya pilihan lain jika ingin tetap bertahan di level tertinggi.
“Márquez mengambil keputusan yang memang harus diambil (obligadas). Itu adalah keputusan yang sulit tapi definitif setelah begitu banyak kecelakaan dengan motor yang tidak kompetitif,” ungkap Alzamora.
Analisis “Binomio” (Rider + Motor) di MotoGP Modern
Alzamora memberikan perspektif menarik mengenai peta kekuatan MotoGP saat ini. Baginya, MotoGP zaman sekarang bukan lagi soal siapa pembalap tercepat saja, melainkan hasil dari Binomio—kombinasi antara pembalap dan mesin, serta kerja keras tim teknis.
-
Dominasi Ducati: Alzamora menyebut kombinasi Marc dan Ducati saat ini sangat sulit dikalahkan.
-
Gap Pabrikan: Ia secara jujur menyebut merek lain (Honda, Yamaha, KTM) belum berada di level yang sama dengan Ducati, dan hal ini membuat kompetisi menjadi kurang seimbang bagi pabrikan Jepang.
-
Sentuhan Magis Marc: Meski motor sangat berpengaruh, Alzamora menegaskan bahwa Marc tetaplah pembalap yang mampu membuat perbedaan (make the difference) di saat-saat krusial.
Mencari “The Next Marc Marquez” di SeventyTwo Motorsports
Kini, Alzamora sedang fokus dengan proyek barunya, SeventyTwo Motorsports, yang bertujuan mencetak talenta baru. Menariknya, ia membandingkan generasi Marc dengan generasi anak muda zaman sekarang seperti Guido Pini, Brian Uriarte, dan Carlitos Cano.
Ada beberapa observasi menarik dari Alzamora:
-
Fisik & Teknik Lebih Siap: Anak-anak usia 13-14 tahun zaman sekarang sudah berlatih dengan motor 600cc di sirkuit besar seperti Valencia atau Albacete. Ini jauh lebih maju dibanding zaman Marc dulu.
-
Tantangan Teknologi: Berbeda dengan era sebelumnya, tantangan terbesar talenta muda sekarang adalah teknologi (smartphone). Alzamora menekankan bahwa ia harus bekerja keras menanamkan nilai-nilai pengorbanan dan fokus agar mereka tidak terdistraksi oleh gadget.
Apakah Ada yang Bisa Menyamai Marc?
Alzamora mengakui bahwa menemukan bakat seperti Marc Marquez adalah hal yang sangat sulit—mungkin hanya muncul 10 atau 20 tahun sekali. Marc sudah menunjukkan kedewasaan luar biasa sejak usia 12 tahun.
Namun, ia tetap optimis bahwa setiap era akan melahirkan ikonnya sendiri, sebagaimana dulu ada Rossi, Stoner, Lorenzo, dan Pedrosa. Target Alzamora sekarang jelas: menggunakan seluruh pengalamannya mengawal Marc untuk mengantar pembalap muda dari sekolahnya menuju tangga juara dunia MotoGP.
Dari pernyataan Alzamora, kita bisa melihat bahwa hubungan antara dirinya dan Marc tetap baik secara profesional meski sudah tidak bekerja sama. Analisisnya mengenai keputusan Marc meninggalkan Honda menegaskan bahwa bagi seorang juara sejati, passion untuk menang jauh lebih tinggi harganya daripada loyalitas pada satu pabrikan yang tengah terpuruk.
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog






Kapan akan ada lagi yang seperti marc yah?
Mestinya sih Alzamora bidik Veda Ega jadi anak didiknya jika ingin mengulang sukses scouting talent. Grafik Veda tahun pertama balap adaptasi sejak di ATC, tahun kedua Champions, RBRC demikian, JGP terkendala cedera dan masih adaptasi musim debut.
Dipoles lagi Veda bisa sukses dengan skill attitude nya. Veda kalah dari cedera kalo kita lihat sepak terjangnya, nah butuh pendamping macam Alzamora yang profesional dan kapan instruksi push kapan defense.
Bahaya’ Veda saat ini ditempel sponsor money loundry ngaku ngaku paling berjasa, takutnya fokus Veda hilang karena yang butuh jadi bintang endorse.
Gak usah nyangkal udah jelas didepan mata
Siapa tau nanti ada semacam mou antara vertical group dan seventytwo motorsports