Sterlacchini Buka Kartu: Ini Alasan Mengapa MotoGP 2027 Harus Turun ke 850 cc dan Mengapa Bukan Batasi Bahan Bakar Saja

TMCBLOG.com – Sob, kali ini kita akan masuk ke ranah teknis yang cukup mendalam mengenai masa depan 2027 kelas primer MotoGP. Meski musim 2026 baru akan dimulai, namun di balik paddock, para insinyur sudah “pusing tujuh keliling” memikirkan tahun 2027—tahun di mana regulasi teknis akan berubah total.

Salah satu sosok yang angkat bicara secara detail adalah Fabiano Sterlacchini, Direktur Teknis Aprilia Racing yang baru, dalam acara presentasi tim di Milan baru-baru ini.

Mari kita bedah secara teknis apa yang disampaikan Sterlacchini mengenai transisi mesin dari 1.000 cc ke 850 cc. Silahkan dikunyah-kunyah dulu informasinya mas bro…

Power Drop: Hilang 45 Horsepower!

Poin utama yang menjadi headline adalah penurunan performa mesin. Sterlacchini secara lugas menyebutkan bahwa perpindahan ke kubikasi 850 cc akan membuat mesin kehilangan sekitar 15 hingga 20 persen tenaga dibandingkan mesin 1.000 cc saat ini.

Jika kita asumsikan mesin MotoGP 1.000 cc saat ini sanggup memuntahkan tenaga di kisaran 290-300 hp, maka penurunan 15-20% itu setara dengan kehilangan sekitar 45 horsepower. Sebuah angka yang sangat signifikan untuk sebuah motor balap prototipe.

Namun, ada catatan menarik dari Sterlacchini:

“Level awal (power) yang akan dicapai oleh mesin 850 cc nanti akan tetap lebih tinggi dibandingkan saat awal era 1.000 cc dimulai (tahun 2012).”

Ini menunjukkan betapa pesatnya kemajuan ilmu metalurgi, manajemen elektronik, dan efisiensi pembakaran selama 15 tahun terakhir. Artinya, meski kapasitas mesin turun, teknologi internal combustion sudah jauh lebih matang.

Mengapa Harus 850 cc? Mengapa Tidak Membatasi Bahan Bakar Saja?

Mungkin sobat bertanya-tanya, kenapa harus mengecilkan kapasitas mesin (bore atau stroke yang dikurangi)? Kenapa tidak membatasi jumlah bensin saja agar tenaga turun secara alami?

Sterlacchini menjelaskan dilema di balik meja perundingan MSMA (asosiasi pabrikan). Menurutnya, jika regulasi hanya membatasi volume atau densitas bahan bakar tanpa mengubah kapasitas mesin, maka biaya riset akan membengkak gila-gilaan.

Kenapa? Karena para insinyur akan dipaksa mencari cara mengekstraksi tenaga maksimal dari jumlah bensin yang sangat sedikit. Ujung-ujungnya, pabrikan akan menggunakan material eksotis (yang sangat mahal) pada komponen internal mesin untuk mengurangi gesekan dan meningkatkan efisiensi termal.

Dengan menurunkan kapasitas menjadi 850 cc (di mana diameter piston atau bore akan mengecil dari maksimal 81 mm menjadi 75 mm), secara mekanis tenaga sudah tereduksi tanpa memaksa pabrikan “bermain-main” dengan material ruang angkasa yang harganya selangit. Ini adalah langkah pragmatis untuk mengontrol biaya (cost control).

Perubahan Karakter Motor

Dengan hilangnya 45 hp, tentu gaya balap akan sedikit berubah. Kecepatan puncak (top speed) di lintasan lurus seperti Mugello atau Lusail dipastikan akan turun. Namun, dengan absennya perangkat pembantu seperti holeshot/ride-height device di 2027, fokus pengembangan akan beralih kembali ke mekanikal grip dan kelincahan motor.

Sterlacchini mengakui bahwa mencapai kesepakatan regulasi 2027 ini sangat sulit karena setiap pabrikan punya kepentingan masing-masing. Namun, keputusan 850 cc dianggap sebagai jalan tengah yang paling obyektif untuk menjaga tontonan tetap seru tapi tetap lebih aman dan berkelanjutan secara ekonomi.

Regulasi 2027 bukan sekadar memangkas cc, tapi sebuah upaya “merestart” persaingan. Ducati, Aprilia, KTM, Yamaha, dan Honda akan mulai dari kertas kosong yang sama untuk mesin 850 cc mereka. Kehilangan 45 hp mungkin terdengar banyak, tapi dengan bobot motor yang mungkin juga akan disesuaikan dan aerodinamika yang lebih simpel, MotoGP 2027 diprediksi akan tetap menjadi ajang balap tercepat di muka bumi.

Bagaimana menurut sobat sekalian? Apakah penurunan tenaga ini akan membuat balapan makin seru karena faktor rider lebih dominan, atau sobat tetap lebih suka melihat motor 1.000 cc yang liar dengan tenaga hampir 300 hp? Semoga bermanfaat!

Taufik of BuitenZorg| @tmcblog

13 COMMENTS

  1. Intinya perundingan MSMA pabrikan jepang tetep kalah, klo mslh irit2an bbm jelas hnd n ymh jagonya, klo mslh ecu inhouse tetep aja pabrikan jepang jagonya, biaya riset n metalurgi kelas wahid hanya alasan aja, krn non jepang ga mau teknologi manajemen mesinnya ngikut jepang n kudu belajar lg atau bhkn hire dgn gelontorkan dana buat culik insinyur2 jepang
    Kenyataannya skrg jepang dpaksa buat mesin dgn menajemen ala non jepang sampai2 insinyur ktm d hire hnd buat mesin yg lbh bertenaga d topend

  2. untuk bensin ron 101 apakah bakaln masih di pake 2027 elf atau lain gitu, sejujurnya gue penasaran dengan wanginya bensin ini

  3. Numpang nanya para suhu?

    1. Kalo 500cc 2 tak dulu, tenaganya berapa hp ya?

    2. Seinget saya, sebelum jadi 1000cc, dulu sempat shifting ke 800cc. Nah, jaman itu, estimasi tenaga berapa hp ya? Ada yg inget kah?

  4. rapopo.. ttp kebut2an.. kehilangan 45hp itu kecil, coba tunggu aja riset 5-10 tahun, paling juga bakal balik lagi top speednya sprti skrg..

  5. Lebih suka kl menghidupkan kembali gp 500cc , mgkn diperbesar ccnya jadi 750cc, ingat king keny Roberts pernah geber tzr750cc dirt track 300kpj di track lurus, itu tahun 70an, . Skrg sudah ada mesin 2tak injeksi tanpa oli samping, pasti lebih kencang, polusi sm rendah

  6. Saya kira 45 hp memang tidak signifikan. Dan saya kira dengan pengalaman era 800cc serta kemajuan teknis beberapa tahun ini akan mudah bagi pabrikan menyesuaikan dan mencapai performa saat ini. Seperti di F1,dimana mesin menjadi 1500 CC dan silinder dibatasi pun mereka bisa mencapai top speed yg tinggi. Belum lagi posisi riding juga pasti berubah. Dan motor yg agak liar akan menarik buat kita

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP