TMCBlog.com ā Sobat sekalian, gelaran tes pra-musim di Sirkuit Sepang, Malaysia, selalu menjadi ujian fisik dan mental yang brutal, terlebih lagi bagi seorang rookie yang baru naik kelas. Inilah yang dirasakan langsung oleh Diogo Moreira. Pembalap muda Brasil yang kini berseragam Pro Honda LCRĀ ini baru saja menyelesaikan maraton enam hari yang intensātiga hari di Shakedown khusus debutan, dan tiga hari tes Sepang kolektif bersama para raksasa MotoGP.
Bagaimana rasanya menjinakkan motor MotoGP yang terkenal liar di tengah panasnya Sepang? Ternyata, tidak mudah sama sekali, sob!
Belajar dari ‘Ciuman’ Aspal dan Menjaga Ketenangan
Moreira tidak menutupi fakta bahwa ia sempat merasakan kerasnya aspal Sepang di hari pertama tes kolektif. Bahkan, ia menyebutnya sebagai “kecelakaan tercepat” dalam kariernya sejauh ini. Welcome to MotoGP, Diogo!
Namun, mental pembalap jempolan tidak mudah runtuh. Alih-alih ciut, Moreira justru menunjukkan grafik peningkatan yang positif. Di hari terakhir (Kamis), ia berhasil mencatatkan waktu 1:58.476, menempatkannya di posisi ke-19. Meskipun secara timesheet masih di papan bawah dekat dengan sesama rookie 2026 Toprak Razgatlioglu ābagi Moreira, di tahap ini catatan waktu bukanlah prioritas utama.
“Saya pikir kemajuannya sangat bagus. Hari demi hari, sensasinya semakin baik. Sore di hari terakhir bahkan lebih baik lagi,” ungkap Moreira kepada awak media.
Pelajaran terbesar yang ia petik selama seminggu di Malaysia bukanlah soal teknis semata, melainkan mental. Kuncinya adalah: Tenang. “Pada akhirnya, (harus) tenang. Kami punya waktu sepanjang tahun untuk berkembang dan belajar. Kami harus terus seperti ini, hari demi hari, balapan demi balapan,” tambahnya dengan bijak.
Fisik Terkuras dan Tantangan Tikungan Panjang
Berbicara kepada DAZN, Moreira memberikan sedikit bocoran teknis mengenai adaptasinya. Ternyata, perpindahan ke motor MotoGP benar-benar menguras energi.
Ia mengaku di hari terakhir sudah terlalu lelah untuk melakukan simulasi balap jarak jauh (long run). Fisiknya belum siap 100% untuk gempuran tenaga kuda MotoGP dalam durasi lama.
Moreira juga blak-blakan bahwa ia masih merasa agak “tegang” di atas motor dan belum mendapatkan “flow” yang ia inginkan. “MotoGP punya tenaga yang sangat besar, Anda harus menegakkan motor dengan sangat cepat (saat keluar tikungan) dan mengendalikannya dengan gas,” jelasnya.
Menariknya, Moreira merasa cukup percaya diri di area pengereman (hard braking), namun ia masih sangat kesulitan menaklukkan tikungan-tikungan panjang dan cepat yang menjadi ciri khas Sirkuit Sepang. Ini adalah PR besar bagi seorang rookie.
Berguru Langsung di Belakang Marc Marquez
Nah, ini bagian yang paling menarik, sob. Sebagai pembalap baru di kubu Honda, kepada siapa Moreira melihat referensi? Meskipun ia mengakui motor Honda terlihat bagus di tangan Joan Mir dan Luca Marini, Moreira menunjuk satu nama besar sebagai referensi utamanya: Sang juara bertahan (menurut narasi teks sumber), Marc Marquez.
Di tengah jadwal tes yang padat di mana sulit untuk sekadar mengobrol, Moreira memanfaatkan momen di lintasan untuk ‘mencuri ilmu’.
Ia menceritakan momen emas saat sesi latihan start. Setelah melakukan start, pembalap harus menyelesaikan satu putaran penuh untuk kembali ke pit. Di situlah Moreira sengaja menempel ketat di belakang Marc Marquez.
“Dia (Marc) pasti cuma pakai setengah gas, sementara saya nge-push habis-habisan,” aku Moreira sambil mungkin sedikit tersenyum kecut.
Meskipun Marc mungkin tidak sedang dalam mode time attack, momen mengikuti sang maestro itu memberikan pencerahan luar biasa bagi Moreira, terutama soal pemilihan jalur balap (racing line).
“Saya melihat dia mengubah banyak jalur yang biasa saya pakai, dan menunjukkan jalur yang (seharusnya) saya ambil,” pungkasnya. Sebuah pelajaran berharga yang didapat langsung dari praktik di sirkuit, bukan sekadar data telemetri.
Perjalanan Diogo Moreira masih sangat panjang. Adaptasi dari motor yang lebih ringan ke monster MotoGP membutuhkan waktu, fisik prima, dan yang terpenting, kemauan untuk terus belajar dari referensi terbaik. Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya di tes Thailand nanti ya sob!
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog








Mantap ya Marc
Acosta, ogura adalah slah satu dr roki motogp yg di seri2 prtma bs lima besar,klo diego bs, artinya adaptasinya bgus dn bs kompetitif d ms dpan
Mungkin kedepannya jg bakal dapat bantuan Marc karena dia termasuk murid Mm93 academy,kayak quiles
Blog ini semakin kesini semakin kehilangan marwah tulisannya karena sangat bergantung pada AI. Good luck lah.
gpp laaah, toh banyak membantu. Tulisan asli perlu banget editor yg paham gaya tulisan wak haji kalo mau rapih.
Pantesan baca blog ini belakangan kek ada yang beda. Walaupun cuman sekedar tulisan tapi yang riil ketikan manusia sama hasil AI ketauan mana yang ada soulnya dan mana yang soulless.
“…dan menunjukkan jalur yang seharusnya saya ambil”, murah hati sekali seorang juara dunia membantu rookie di pengalaman pertama melaju diatas motor motogp
Tak ada yang instan selain indomie.
Indomie juga ngga instan. Butuh waktu minimal 5 menit.
5 menit itu instan gak sih hehehe….
Instan untuk waktu adaptasi motogp.
Tapi kalo untuk mie, itu lama. Ada yg hitungan detik udah mateng loh..
zeus55
enak ya kayaknya kalau jadi pembalap yg punya skillnya lumayan, langganan top 5 atau top 10, sesekali podium modal hoki, karir aman, mental gk dipush media, fans dan hater, model pak rt lah dulu.