[Tech Talk] Kepoin Paten Variable-Geometry Swingarm Yamaha : Bisa Jadi Pengganti Ride Height Device?

tmcblog.COM – Halo sobat sekalian, selamat datang kembali di artikel bedah teknis ala TMCBlog. Kali ini kita akan ngunyah-ngunyah sebuah informasi menarik dari jagad paten otomotif. Baru-baru ini, Yamaha tertangkap kamera (eh, tertangkap dokumen maksudnya) mendaftarkan sebuah desain yang cukup revolusioner: Variable-Geometry Swingarm.

Kalau biasanya swingarm itu bersifat statis—dalam artian titik pivot dan panjangnya tetap—Yamaha mencoba mendobrak pakem tersebut. Yuk, kita bedah pelan-pelan apa sih tujuannya dan bagaimana cara kerjanya. Cekidot!

Apa Itu Variable-Geometry Swingarm?

Logikanya begini, Sob. Dalam desain sepeda motor, geometri swingarm sangat menentukan karakter handling.

  1. Swingarm Panjang: Membuat motor stabil di kecepatan tinggi dan saat akselerasi (mencegah wheelie), tapi motor jadi kurang lincah di tikungan sempit.

  2. Swingarm Pendek: Membuat motor sangat lincah (agile) dan mudah bermanuver, tapi berisiko tidak stabil saat dipacu kencang.

Nah, paten Yamaha ini memungkinkan motor untuk memiliki “dua kepribadian” tersebut dalam satu paket yang bisa berubah secara dinamis atau on-the-fly. Hmm ini adalah karakter dari Sebuah ” Shape Shifter “

Bedah Teknis Mekanismenya

Berdasarkan gambar paten yang dirilis (via Cycle World), sistem ini tidak hanya sekadar memajukan atau memundurkan as roda belakang (seperti setelan rantai biasa). Yamaha menggunakan mekanisme yang lebih njlimet di area pivot (titik tumpu swingarm ke sasis).

  1. Actuator & Linkage: Yamaha menempatkan sebuah motor listrik atau actuator yang terhubung dengan mekanisme linkage di titik pivot swingarm.

  2. Perubahan Titik Pivot: Actuator ini bisa menggerakkan titik pivot naik-turun atau maju-mundur.

  3. Efek Anti-Squat: Ini yang paling teknis, Sob. Dengan mengubah posisi pivot, Yamaha bisa mengatur gaya Anti-Squat. Anti-squat adalah gaya yang menahan bagian belakang motor agar tidak ambles (squat) saat kita buka gas pol. Kalau anti-squat bisa diatur secara dinamis, traksi roda belakang ke aspal akan selalu optimal di berbagai kondisi.

Kenapa Yamaha Mengembangkan Ini?

Mungkin sobat bertanya, buat apa sih repot-repot bikin swingarm yang bisa berubah? Ada beberapa alasan kuat:

  • Aplikasi MotoGP: Kita tahu di MotoGP, holeshot device dan ride height device sudah jadi standar sampai akhir 2026. Paten ini bisa jadi adalah evolusi berikutnya untuk mendapatkan traksi maksimal saat keluar tikungan tanpa mengorbankan kelincahan saat masuk tikungan, atau jangan jangan solusi ketika RHD diharamkan nantinya ??

  • Motor Elektrik (EV): Motor listrik punya torsi yang instan dan sangat besar. Tanpa manajemen geometri yang baik, motor gampang wheelie atau kehilangan traksi. Dengan Variable-Geometry, komputer (ECU) bisa menyesuaikan panjang motor secara otomatis berdasarkan besarnya torsi yang keluar.

  • Sport Touring: Bayangkan motor yang bisa memanjang saat di jalan tol demi kenyamanan dan stabilitas, lalu otomatis memendek saat sobat masuk ke jalanan pegunungan yang berliku (twisty). Menarik, bukan?

Tantangan Berat

Tentu ide ini bukan tanpa tantangan. Menambahkan mekanisme motor listrik dan linkage di swingarm artinya menambah bobot (un-sprung weight) dan kerumitan perawatan. Selain itu, sistem ini butuh sensor IMU yang sangat presisi agar pergerakan geometri tidak mengganggu keseimbangan rider.

Yamaha memang salah satu pabrikan yang paling rajin bereksperimen dengan sasis dan suspensi (ingat suspensi depan GTS1000 atau Niken?). Paten Variable-Geometry Swingarm ini menunjukkan bahwa masa depan motor bukan cuma soal adu tenaga mesin (HP), tapi soal bagaimana tenaga tersebut bisa disalurkan ke aspal dengan cara yang paling cerdas.

Akan kah teknologi ini turun ke produksi massal seperti R1 atau MT-10 di masa depan? Atau akan gantikan RHD di prototipe MotoGP? Kita pantau terus perkembangannya, Sob!

Silahkan dikunyah-kunyah dulu informasinya, dan jangan lupa tulis pendapat sobat di kolom komentar. Apakah fitur ini benar-benar dibutuhkan atau malah bikin motor terlalu rumit?

Taufik of BuitenZorg| @tmcblog

12 COMMENTS

    • Habibi antum salah paham.
      Ini domain pembicaraannya teknik paten/mekanisme mencakup panjang pendek swing arm yg menjadi bagian Dari sasis.
      Bukan hanya suspensi naek turun Dan keras empuk

      • Beliau gak baca om. Baca judul terus baca satu paragraf awal lalu menyimpulkan. Begitulah literasi umumnya warga konoha.

    • Maaf saya mau komen dengan segala ke-sok-tahuan saya ya,.. ini sekali lagi pake analisa sok tahu saya aja..
      Pada bagian bawah itu ada KODE:
      AR ; Arm Rebound
      SR: Suspension Rebound
      BR: Brake Rebound

      yang mana bagian2 tsb akan saling bertautan dan akan memiliki sensornya masing2, sehingga akan memberikan efek memanjang dan memendek pada ARM, dan masalah mengendur atau menegangnya rantai akan dikendalian oleh TEFLON berbentuk bulat yg akan menahan dan menanggung rantai (ini kayak kalo kita beli penegang rantai after market) yg sering dipasang di swing arm itu loohhh…

      Tapi sekali lagi, ini mah saya cuma sok tau aja ya… mohon di per-sorry…..

  1. Yg jadi pikiran selanjutnya mekanisme panjang pendek ini bikin masalah baru di “berapa mata rantai yg optimal ga ?”

  2. Klo saya liat nya ini ada 2 peran wak

    Macam salad box : dengan adjuster pinter tapi mekanis, dihentakan power variabel tertentu, jadi shock absorbing.

    Mirip unsprung weight : jadi variasi panjang pendek arm nya nanti, jadi downforce tersendiri, apalagi di era ke depan yang peran sayap sayapan di arm pada disuruh copot, kan.

  3. Saya sudah mengerti dengan paten mekanisme ini, tapi saya ngga mau cerita Kalau saya sudah mengerti 😅

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP