TMCBLOG.com – Insiden yang dialami Marc Marquez di Sirkuit Chang, Buriram, pada gelaran MotoGP Thailand 2026 kemarin benar-benar di luar nalar dan mengundang tanda tanya besar di paddock. Bagaimana mungkin sebuah velg magnesium tempa (forged magnesium) yang dirancang untuk menahan beban ekstrem bisa pecah seketika hanya karena melibas kerb? Mari kita bedah secara mendalam dan analitis ala TMCBlog mengenai fenomena “peyangnya” Velg ban belakang Ducati GP26 milik sang juara dunia delapan kali ini.
1. Geometri Kerb dan Sudut Hantam (Angle of Attack)
Berdasarkan pengakuan Marc, ia sedikit melebar di Tikungan 4 dan memutuskan untuk mengambil jalur luar. Secara teori, kerb di Buriram dirancang cukup ramah (flat). Namun, masalah muncul bukan saat ia naik ke kerb, melainkan saat ban belakang Ducati GP26 miliknya kembali menapak ke aspal dari sisi pinggir kerb.
Ada kemungkinan terjadi “Point Loading”—di mana seluruh beban motor seberat 157 kg (plus beban aerodinamika/downforce dan berat badan pembalap) terkonsentrasi pada satu titik tajam di bibir velg.
2. Karakteristik Velg Magnesium vs. Tekanan Ban
MotoGP menggunakan velg berbahan Magnesium Alloy. Material ini sangat ringan dan kaku, namun memiliki sifat mekanis yang lebih getas dibandingkan aluminium.
-
Dugaan Analisis: Jika tekanan ban belakang Marc berada pada batas bawah regulasi (misal di angka 1.65 bar atau lebih rendah untuk mencari traksi), maka dinding ban (sidewall) akan lebih fleksibel.
-
Saat menghantam tepian tajam, ban “terjepit” sampai habis (bottoming out), sehingga bibir velg langsung menghantam beton/aspal secara frontal tanpa diredam oleh udara di dalam ban. Inilah yang menyebabkan velg pecah (rim crack) dan udara langsung keluar seketika (efek “meledak”).
3. Faktor Aero-Load Ducati GP26
Jangan lupa, Ducati GP26 adalah monster aerodinamika. Pada kecepatan tinggi di sektor tersebut, perangkat downforce (winglet depan, side pods, hingga diffuser belakang) menekan motor ke bawah dengan gaya ratusan kilogram. Beban statis motor yang bertambah secara dinamis akibat aerodinamika ini membuat dampak benturan dengan kerb menjadi berlipat ganda dibanding motor GP era 5 tahun lalu.
Kronologi Kegagalan Marc Marquez di Buriram
Sebelum insiden tersebut, Marc sebenarnya menunjukkan performa yang cukup menjanjikan:
-
Potensi Podium: Marc sudah mengamankan posisi ke-4 dan mulai memburu duo Aprilia serta Pedro Acosta.
-
Manajemen Ban: Marc mengaku melakukan tire management di paruh pertama balapan untuk melakukan late charge.
-
Data Lap: Kecepatannya konsisten untuk bisa finis di posisi ke-2, menyalip Raul Fernandez dan Acosta yang mulai kepayahan dengan degradasi ban belakang.
Namun, satu kesalahan kecil di Tikungan 4 berujung fatal secara teknis. “Apa yang terjadi pada saya belum pernah terjadi sebelumnya,” keluh Marc. Memang aneh, karena selama sesi latihan, para pembalap melibas titik yang sama ratusan kali tanpa masalah.
Kejadian pecahnya velg Marc Marquez di Thailand adalah kombinasi dari “Unfortunate Geometry” (sudut hantam yang tidak pas) dan beban Downforce GP26 yang sangat tinggi saat menghantam benda keras. Ini menjadi alarm bagi pemasok velg dan tim teknis Ducati untuk mengevaluasi batas toleransi material mereka terhadap impact lateral di sirkuit-sirkuit dengan kerb yang punya transisi tajam.
4. PENJELASAN MICHELIN
Piero Taramasso, kepala MotoGP Michelin, mengkonfirmasi bahwa kebocoran terjadi ketika pembalap melewati kerb, menyebabkan pelek penyok/rusak. “Itulah yang dikatakan Marc kepada kami. Dia berkata, ‘Satu-satunya kesalahan yang saya buat adalah melebar.’ Dia menabrak kerb, velg roda bengkok, kempes, dan ban terlepas. Sayang sekali baginya, karena saat itu dia adalah yang tercepat di lintasan.”
Bahkan, hal itu sudah terjadi di balapan sprint dengan Jorge Martín, meskipun situasinya tidak cukup serius untuk memaksanya mundur. Namun, dia tidak terbebas dari penyelidikan tekanan ban, dan dia berhasil menghindari penalti karena melebihi batas tekanan minimum.
“Kami mengalami masalah ini sepanjang akhir pekan; banyak ban yang bengkok dalam perjalanan kembali ke tenda kami karena cuacanya sangat panas. Materialnya sangat lunak, dan trotoarnya sangat tajam. Misalnya, hilangnya tekanan pada ban depan yang dialami Jorge Martín kemarin sama: dia menabrak trotoar, ban depan bengkok dan kempes. Jorge mengalami penurunan tekanan secara perlahan, dan Marc kehilangan semua udara sekaligus,” Begitu Taramasso mengakhiri penjelasannya
Kini, fokus beralih ke Brasil, Jika Ducati GP26 milik Marc bisa tampil kuat di sana, maka insiden Buriram ini hanyalah sebuah kesialan statistik. Namun jika masalah teknis kembali muncul, Ducati harus mulai waspada terhadap dominasi Aprilia yang terlihat sangat solid di Thailand.
Taufik of Buitenzorg | @tmcblog




Oz menyimak data
Info dari micelin banyak velg yg peyang ketika mereka mengganti ban para pembalap motogp
Ngeri….ngeri….
coba balapa di jalananan sini yg banyak tambalan dan lubang dijalan, dijamin …… hahaha
Peko pernah gembos jg bane tp pelk ga peyang
Pecco nginjek sampah bekas crash
Unfortunate geometry.
1000 banding siji wak
Kalo tdk sial, minim podium 3 tuh marc dan bisa dog fight sampai last lap ama pedro, bad luck marc
Well, Ducati lg dihabisi sama Aprilia di Buriram ini.
Pacenya Bez oke banget.
Pedro juga dah mulai jd Hiu pemburu lagi.
Bakalan seru 2026 ini dan sebagai fans Marc akan lebih excited lihatnya krn Marc ga akan pakai mode “Santai aja bisa kali”
Dan untungnya case pecah ban dan velg hancur ga bkin highside.
Typo: “Ducati GP26 milik sang juara dunia delapan kali ini”
Juara dunia 9x atau juara dunia motoGP 7x
Bukan typo tapi AInya ga update
Bukankah aero yg dipakai Marquez pakai setup 2024 ya?
Aeronya aja yg 24. Sisanya ya terbaru
Apakah motogp musim ini seperti f1 musim lalu? Redbull yang sebelumnya dominan, setelah paruh musim 2024 tiba-tiba kalah development dibanding mclaren, dan momentum ini berlanjut sampe musim 2025, meskipun di paruh musim Redbull beri magic upgrade bikin max bisa sedikit kasih perlawanan. Mirip sekali, meskipun musim ini baru berjalan 1 seri. IMHO
Marco menang GP buriram dengan waktu 39.36 detik sedangkan tahun sebelumnya marrques menang dengan waktu 39.37 detik
Berdasarkan analisa waktu,jelas ducati mengalami kemunduran sedangkan aprilia ada kemajuan,terutama di aerodiamika nya yang balance
keknya lebih dari seratusan KG karena ada momentum tumbukan