TMCBlog.com – Bro sekalian, rasanya baru kemarin sore kita melihat seorang bocah ajaib berusia 20 tahun asal Spanyol mengobrak-abrik tatanan kelas para raja dan merengkuh gelar juara dunia MotoGP pertamanya. Namun, realita menghantam keras: itu terjadi 13 tahun yang lalu. Waktu berjalan begitu cepat. Kini, anak ajaib itu telah bertransformasi menjadi pria matang berusia 33 tahun, seorang juara dunia sembilan kali (tujuh di antaranya di kelas premier).
Dan, meskipun menyakitkan bagi kita semua penggemar balap motor untuk mengakuinya, Marc Márquez kini mulai mengakui bahwa dirinya pun memiliki “tanggal kedaluwarsa”.
Realita Fisik yang Tak Bisa Berbohong
Hanya beberapa minggu yang lalu, dalam sebuah acara bersama Estrella Galicia 0,0 di Madrid, Marc sempat berujar bahwa rencana pensiun jangka panjang tidak bisa dibuat secara kaku. Baginya, hanya sang atlet sendiri yang bisa merasakan kapan momen itu tiba. Namun, tampaknya pemikiran Marc mulai mengerucut pada sebuah angka pasti.
Faktor utamanya? Tentu saja kondisi fisik. Pukulan telak cedera bahu kanan pada tahun 2020 di Jerez telah mengubah segalanya. Enam tahun berlalu, dan operasi demi operasi terus menumpuk di area yang sama (terakhir setelah kecelakaan di Indonesia Oktober lalu, meskipun tidak berdampak langsung pada cedera lama).
“Semuanya harus dievaluasi, saya baru 33 tahun,” aku Marc dalam wawancara terbaru dengan Kantor Berita EFE saat berada di Sao Paulo, Brazil. Pembalap Ducati ini menegaskan keinginannya untuk menunda momen perpisahan tersebut sejauh mungkin. Namun, ia bersikap sangat realistis. “Saya berharap bisa memperpanjangnya selama mungkin, tapi saya juga membawa cukup banyak operasi di tubuh saya, dan itu juga sulit dikelola dalam kehidupan sehari-hari.”
Tidak Akan Mengikuti Jejak Rossi
Inilah poin krusialnya, bro. Marc Márquez memberikan penegasan yang cukup mengejutkan mengenai batasan usia maksimalnya di lintasan balap. Jika rival terbesarnya, Valentino Rossi, mampu membalap hingga usia 42 tahun, Marc memastikan dirinya tidak akan menempuh jalan yang sama.
“Saya tidak akan sampai ke usia 40, tenang saja,” tegas Marc.
Pernyataan ini seolah memberikan deadline yang jelas. Berdasarkan ucapan Marc sendiri, skenario terbaiknya adalah kita hanya bisa menikmati aksi The Baby Alien di lintasan MotoGP maksimal tujuh tahun lagi.
Fokus Jangka Pendek: Kontrak Ducati dan Tes Fisik di Brazil
Namun, sebelum kita melihat terlalu jauh ke tujuh tahun ke depan, prioritas utama Marc saat ini adalah mengunci perpanjangan kontrak dengan Ducati, hal yang sangat dinantikan oleh seisi paddock. Marc memastikan negosiasi berjalan di jalur yang benar. Sebenarnya, kesepakatan itu sudah ada, tinggal menunggu momen yang tepat untuk diumumkan. Delay ini terjadi atas permintaan Marc sendiri; ia tidak ingin menandatangani kontrak saat sedang cedera, mengingat kondisi fisiknya pasca GP Thailand belum kembali 100%.
Marc kini menatap balapan di Brazil (Goiania) sebagai ajang untuk melupakan momen buruk di Thailand dan menguji sejauh mana kesiapan fisiknya yang baru. Tantangannya tidak mudah, karena mereka harus beradaptasi dengan sirkuit yang sama sekali baru.
“Sulit untuk mengatakan ekspektasi konkret, karena pertama-tama kami harus mengenal sirkuitnya, mengetahui bagaimana sirkuit itu beradaptasi dengan gaya berkendara kami, dengan motor kami, dan dari sana, mari kita lihat apa yang bisa kami perjuangkan,” jelas Marc. Targetnya tetap ambisius: bertarung untuk posisi depan dan selalu berada di lima besar.
Mengenai insiden di Thailand (sanksi sprint dan ban bocor hari Minggu), Marc menganggapnya sudah berlalu dan tidak mendefinisikan musimnya. “Kita harus menunggu tiga, empat balapan, dan dari sana, lihat di mana posisi kita.”
Pernyataan Marc Marquez ini adalah sebuah tamparan realita bagi kita semua. Musuh terbesar seorang pembalap bukanlah rival di lintasan, melainkan waktu dan cedera. Dengan menetapkan batas di bawah usia 40 tahun, Marc tampaknya ingin pensiun dalam kondisi yang masih kompetitif dan tidak ingin memaksakan diri hingga melampaui batas kemampuan fisiknya.
Setiap balapan yang dijalani Marc Marquez mulai sekarang, bro, adalah balapan yang harus kita hargai lebih dari sebelumnya. Karena perlahan tapi pasti, hitungan mundur menuju akhir era salah satu pembalap terhebat sepanjang masa ini telah dimulai. Silakan dikunyah-kunyah informasinya, bro, dan sampaikan pendapatmu di kolom komentar!
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog




Bisa jadi ini kontrak terakhir Marc, soalnya cukup logis untuk pensi di umur 35. Umur yang gak setua VR dan gak terlalu cepat juga.
Omongan Marc itu jangan ditelan mentah-mentah. Dari dulu doi kan mmg punya dua kepribadian: liar di lintasan, humble di ujung mikrofon. Dia akan terus balapan jika masih kompetitif, jangan pernah masukkan variabel usia.
2 tahun lagi udah cukup untuk jadi legenda hidup. Menikmati nonton balapan, atau jadi super test rider, atau jadi pelatih seperti paduka mungkin.
Normalnya memang seperti itu, contoh Rossi, sehebat apa dia dulu, hebat banget kan, tapi setelah tiba masa kadaluarsanya jadi bulan2an pembalap muda….setiap orang ada masanya, tiap masa ada orangnya
masalahnya rossi gak terimo dan gak sadar diri
Mungkin di rumahnya ga ada cermin bro 😄
berarti waktu itu saya berusia 21 tahun… ohh sedihnyaaa
talent + hardwork + humble
kalo di bola mah kayak CR7 dah
Manusiawi
ego diredam
Pake helm balap, umurnya balik ke 27an lg..
Engga Kaget bahkan kalo musim ini terakhir. Kalo cidera nya emang bikin menurun meski pada level yg tipis sekali, ya buat apa nambah resiko cidera lain.
Ga masalah kalo udahan, Marc udah legend.
Saya malah berburuk sangka sama marc, jangan2 cuma akal2an dia aja yg mau balik ke pangkuan redbull n hadno yg penuh banget cuannya
Bagi saya aneh aja katanya kmrn baik2 aja kok skrg dkeluhkan kurang ok lagi
kalo mikir cuan doang..ngapain march pindah ke tim satelit dulu.gosip nya ga digaji tp masih dapet dari sponsor mungkin…dia udh banyak duit.cuma pengen juara dan juara
Kata akal-akalan sangat tidak cocok ditujukan untuk seorang Marc Marquez