Analisis: Mengapa Ramon Forcada Sebut Yamaha Belum Punya “Basis” untuk MotoGP 2027?

TMCBLOG.com – Dunia MotoGP sedang menanti transisi besar di tahun 2027 saat regulasi mesin berubah dari 1.000 cc ke 850 cc. Bagi banyak pabrikan, tahun 2026 adalah jembatan untuk membangun fondasi. Namun, sebuah opini tajam datang dari Ramon Forcada, mantan crew chief legendaris yang membawa Jorge Lorenzo meraih tiga gelar juara dunia bersama Yamaha. Forcada menilai bahwa saat ini Yamaha sedang dalam posisi yang sangat riskan karena mereka dianggap “tidak memiliki basis” untuk menyongsong era 850 cc tersebut. Mari kita bedah secara mendalam apa yang dimaksud oleh Forcada ini . .

Transisi V4: Langkah Maju yang Terasa Seperti Langkah Mundur?

Seperti yang kita ketahui, Yamaha telah mengambil keputusan fundamental dengan beralih dari mesin Inline-4 ke konfigurasi V4. Logikanya sederhana: mesin V4 yang lebih ramping memberikan ruang lebih bagi pengembangan aerodinamika pada side fairing, yang akan menjadi sangat krusial di tahun 2027 saat ukuran winglet mulai dibatasi.

Namun, realitanya di lintasan pada tiga seri awal musim 2026 ini cukup pahit. Yamaha hanya mengantongi 9 poin di klasemen konstruktor. Di Thailand, Fabio Quartararo tertinggal 30 detik. Di Brasil, Alex Rins tertinggal 23 detik meskipun jarak tempuh balapan dipangkas. Bahkan di Austin, rookie Toprak Razgatlioglu yang menjadi pembalap Yamaha terbaik (posisi 15) tetap mengeluhkan ketertinggalan 25 detik.

Masalah “Basis” yang Dimaksud Forcada

Forcada menyoroti perbedaan mencolok antara Yamaha dengan pabrikan lain seperti Aprilia atau Ducati.

  1. Pabrikan Lain (Aprilia/Ducati): Mereka sudah memiliki motor 1.000 cc V4 yang sangat matang dan kompetitif. Ketika regulasi 2027 datang, mereka tinggal “mengecilkan” kapasitas mesin ke 850 cc dengan basis sasis dan elektronik yang sudah teruji.

  2. Yamaha: Mesin V4 mereka masih sangat “hijau”. Forcada menyebut Yamaha berada dalam dilema: jika mereka mengejar performa (kecepatan), mesinnya rentan jebol. Jika mengejar reliabilitas, motornya jadi lambat.

Menurut Forcada, Yamaha tidak bisa begitu saja mengabaikan motor 2026 ini. Mereka harus menemukan sesuatu yang bekerja pada mesin V4 saat ini agar bisa ditransfer ke mesin 850 cc tahun depan. Tanpa basis yang solid di tahun ini, pengembangan motor 2027 akan seperti membangun rumah di atas pasir.

Kendala Budaya dan Keamanan

Forcada juga memberikan contoh menarik pada tes musim dingin di Sepang. Yamaha sempat berhenti total selama satu hari karena ada kecurigaan pada batch komponen mesin. Di sini terlihat benturan budaya: meskipun struktur tim sudah mulai “Eropah”, keputusan akhir tetap di tangan insinyur Jepang yang sangat konservatif terhadap isu keamanan (safety).

Bagi Forcada, waktu adalah musuh utama. Yamaha butuh waktu untuk mematangkan konsep V4, sementara regulasi baru sudah mengetuk pintu.

Faktor Pembalap dan Motivasi

Mantan pembalap Yamaha, Carlos Checa, juga memberikan opininya yang senada. Ia melihat adanya penurunan motivasi pada pembalap utama seperti Fabio Quartararo, yang kita tahu sudah menandatangani kontrak dengan tim lain untuk musim 2027.

Satu-satunya titik terang saat ini justru datang dari Toprak Razgatlioglu. Meskipun baru bergabung, Toprak menunjukkan determinasi luar biasa. Checa menyebut bahwa melihat seorang pendatang baru menjadi pembalap Yamaha terbaik di Austin adalah sebuah anomali yang seharusnya tidak terjadi jika pembalap utama memiliki motivasi dan dukungan teknis yang tepat.

Yamaha sedang bertaruh besar. Tahun 2027 mereka akan diperkuat oleh duet maut Jorge Martin dan Ai Ogura di tim pabrikan. Namun, secanggih apa pun pembalapnya, jika “basis” motor 850 cc yang dirancang nanti tidak memiliki akar kuat dari data tahun 2026, maka tantangan Yamaha untuk kembali ke puncak akan sangat terjal.

Kuncinya adalah seberapa cepat Yamaha bisa menyelesaikan masalah reliabilitas pada mesin V4 mereka tanpa mengorbankan performa, agar data tersebut bisa menjadi fondasi bagi proyek 850 cc.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

20 COMMENTS

  1. Berani juga ya, ai ogura mempertaruhkan karir balapnya di pabrikan juru kunci. Atau dia memang sudah kehilangan motivasi jadi pembalap cepat, dan hanya mengejar uang?

    • Kalo di yamama masuk ke tim factory kenapa tidak? Di aprilio tim satelit, kalo masuk onda paling juga di tim satelit.

    • Mungkin faktor kalo pilihannya salah minimal karirnya berakhir jadi kaya Nakagami yg jadi test rider pabrikan Jepang.

  2. Dulu sizuki di motogp menggunakan mesin v4 sampai akhirnya mundur di tahun 2011, waktu mereka comeback di 2015 sizuki berganti mesin baru menjadi i4 dan jadi lebih kompetitif. Sekarang yamama berganti mesin dari i4 ke v4 tanpa mundur dari motogp (bisa riset berjalan berkat konsesi) bisa ga ya dalam 1 musim ini menyempurnakan mesin v4 1000cc nya dan tinggal mengecilkan ukurannya untuk tahun depan meskipun terlambat.

    • Apakah juara MotoGP musim covid bisa dijadikan acuan kalau suzuki kompetitif😅,kalau sekedar kompetitif,taro sudah terbukti gendong yamama inline sampai jurdun

    • 90% mustahil.
      Suzuki ada waktu 4 tahun utk comeback di 2015 dng i4, hasil signifikan baru terlihat di 2019-2020, dng catatan aero blm sesignifikan saat ini.
      Kultur eropa ada KTM dng dompet Red Bull plus koneksi dng RBR F1 utk urusan aero, tp blm jg temukan formula yg tepat.
      Sesama kultur Jepang, ada Honda yg pny dompet tebal dan sdh pny basis kuat v4 tp toh jg blm dpt formula hingga saat ini, apalagi Yamaha yg mulai dari 0…

    • ini lah yang selalu dibanggakan dari fans nya suzuki ga dimana dimana.. istilahnya zaman dulu.

  3. Faktanya beralih dari mesin inline ke v4 membutuhkan waktu buat kompetitif,mimpi kalau pengen instant,sekelas KTM sj sampai sekarang hanya mampu bertarung dibarisan depan, sementara Aprilia butuh berapa tahun sampai sekarang mampu bersaing buat jurdun, sebesar apapun SDM yamama semua butuh waktu

  4. Berada di rock bottom sampai tak terlihat dan terlupakan, bisa membuat para sponsor pergi tinggal polos biru aja lo
    Hati hati, financial jadi berat nantinya
    Tapi semoga saja tidak dan semuanya baik bajk saja

  5. “jika mereka mengejar performa (kecepatan), mesinnya rentan jebol”…quote nya FORCADA Lo ini ya…..

    Udh tau mau bangun engine yg speed nya ga memble,ealaaahhh malah rider yg mampu all-out malah dipanas2 in biar cepet chekout….
    All Rider disuruh bungkam
    2026-2028 goodbyeeeeeeee😁🥱

  6. Masalah reliabilitas mesin bisa diatur tergantung bagaimana insinyur memahami perkembangan dinamika paket motornya..
    Masalahnya ymh ga bajak insinyur tetangga buat akselerasi paket motornya, kalo dh faham paketnya tinggal mau ambil mesin yg seberapa/bgmn powernya..
    Di zaman sekarang rasanya kurang msk akal klo pabrikan masih aja dianggap belajar bikin mesin

    • Kecuali pabrikan jepang yg satunya, udh bener culik insinyur mesin trieb eh malah masih aja kolot bikin mesin ala mrk, yah goodbye honhon

    • “Masalah reliabilitas mesin bisa diatur tergantung bagaimana insinyur memahami perkembangan dinamika paket motornya..”

      RELIABILITAS….? PERKEMBANGAN DINAMIKA ..? rata2 speed n time lawan dah tau dari taon lalu, nah ini SPEED DARI AWAL FREE TEST AMPE TANDING RESMI(MALAH KELIATAN LAWAKNYA TU ENGINE M1V4) DI CIRCUIT GA ADA “PERKEMBANGAN DINAMIKA nya”- apa nya yg mau diliat “dinamika perkembangan nya”….. Dan lawaknya, dah tau punya rider skill mumpuni malah dikipas2 isu buat checkout…jadi point nya, tu pabrikan kekurangan dana, ambil jalur tol, 2027 baru bisa full bangun karna dah ada penghematan dari sisi gaji rider….imho✌️

  7. Lawak aj sih,kalo beneran sekelas pabrikan yamama turun balap dunia MotoGP, membangun mesin balap masih aja materialnya bisa jebol,bukankah insinyur pabrikan paham membuat material logam yg tahan banting,bandel

  8. MotoGP Era Rossi dulu dengan sekarang beda banget. Kalau Rossi, kenapa lebih milih big bang drpd sceamer karena lebih mudah dikendalikan. Apalah dulu kencang kl berbelok butuh teknik tinggi bahkan sekelas alien.

    sekarang MotoGP tidak hanya motor yang mudah dikendalikan. Motor kencang pun bisa dikendalikan dengan bantuan elektronik dan aerodinamika. Sayangnya Yamaha belum punya insinyur yang mampu bikin motor kencang dan bisa dikendalikan. Dan tugasnya bukan 1 orang insinyur, tapi banyak orang dibutuhkan. Semoga bisa menemukan insinyur yg tepat

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP