Guenther Steiner Kritik Keras Wacana ‘Satu Motor’ MotoGP 2027: “Saya Tidak Paham Alur Berpikirnya!”

TMCBLOG.com – Bos tim Tech3, Guenther Steiner, melontarkan kritik tajam terhadap rumor regulasi baru MotoGP tahun 2027 yang berencana membatasi setiap pembalap hanya memiliki satu motor siap pakai di garasi. Wacana ini digaungkan sebagai langkah penghematan biaya (cost-saving), namun Steiner menilai aturan tersebut justru menjadi blunder besar yang merugikan finansial sekaligus merusak esensi pertunjukan bagi para penggemar. Steinerpun menghadirkan poin-poin krusial yang membuat mengapa mantan bos Haas F1 ini menolak keras wacana tersebut:

1. Ilusi Penghematan Biaya

Via Crasn.net Steiner menilai argumen menekan anggaran lewat aturan satu motor adalah sebuah kekeliruan. Menurutnya, jumlah suku cadang yang dibutuhkan tetap sama karena risiko kecelakaan tidak berkurang.

“Mungkin saya terlalu bodoh untuk memahaminya, tetapi saya tidak tahu di mana letak penghematannya. Anda tetap membutuhkan motor kedua yang disimpan dalam bentuk pretelan di belakang dinding garasi. Jika terjadi kecelakaan, mekanik justru harus bekerja ekstra keras merakitnya dari nol. Saya dengar ini hanya menghemat biaya satu mekanik per tahun—sebuah keuntungan yang sangat kecil.”

2. Merusak Spektakel dan Momen Ikonik Flag-to-Flag

Salah satu daya tarik terbesar MotoGP saat cuaca berubah adalah balapan flag-to-flag, di mana pembalap masuk ke pit dan melompat dari satu motor ke motor lainnya dengan sangat cepat.

“Apa yang lebih keren daripada melihat seorang pembalap melompat dari satu motor ke motor lain di tengah hujan? Lihat saja statistik di media sosial; saat momen itu terjadi, interaksinya meledak. Penonton menyukainya. Jika kita menghapusnya, itu bukan langkah yang cerdas.”

3. Tekanan Ekstrem pada Mekanik & Kerugian Pembalap

Jika regulasi ini diterapkan, kecelakaan saat sesi latihan (Practice) atau kualifikasi (Qualifying) akan menjadi bencana. Alih-alih langsung menggunakan motor cadangan yang sudah siap di grid, pembalap terpaksa membuang waktu berharga di pit menanti mekanik merakit komponen motor dari 200 bagian terpisah di bawah tekanan waktu yang ekstrem.

4. Solusi Alternatif: Terapkan Budget Cap

Dibandingkan membuat aturan rumit yang mengurangi kualitas kompetisi, Steiner menyarankan MotoGP meniru formula yang sudah terbukti sukses di Formula 1, yaitu pembatasan anggaran (budget cap) atau pengurangan sesi tes.

Kesimpulan: Bagi Steiner, produsen manufaktur yang mendukung wacana ini tampaknya lupa bahwa aset terbesar dari olahraga balap adalah para penggemar. Mengorbankan aksi demi penghematan semu adalah langkah mundur yang diharapkan Steiner bisa segera disadari dan dibatalkan oleh para pemangku kebijakan sebelum regulasi 2027 resmi disahkan.

Taufik of BitenZorg | @tmcblog

5 COMMENTS

  1. Nah, masalahnya kalo dibuat budget cap, gak nguntungin pabrikan yang masih konsesi. Tujuan ada Konsesi kan biar gak ada budget cap. Keuntungannya budget cap emang bagus buat ngerem pabrikan besar, tapi buat pabrikan yang gak terlalu besar juga berasa gak bisa berkembang lebih lagi karena kalo melebihi budget buat pengembangan ya jadi gak bisa.

  2. Dikira Balap F1 dan MotoGP sama kali ya,,terutama tingkat safety nya,kalo diterapkan sama persis kayak F1 bakalan tidak bisa,

  3. Yup, seperti veda di moto3 kemarin gara2 jatuh di awal fp2 dan motornya ga segera beres diperbaiki sangat berdampak jadi tidak bisa melakukan simulasi race yang akhirnya membuatnya kesulitan di kualifikasi dan di balapan. Dan penonton yang ga tau malah bilang bagus kalo vega jatuh karena bisa tau limit motor, bagus apanya yang ada malah merusak balapannya karena motornya ga segera siap dan ga ada motor kedua.

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP