TMCBLOG.com – Pengumuman resmi dari Dorna bahwa Yamaha secara resmi ditunjuk menjadi pemasok mesin tunggal untuk kelas Moto3 mulai musim 2028 hingga 2033—dengan basis mesin CP2 seperti yang digunakan pada Yamaha R7—tentu saja memicu gempa tektonik di seluruh paddock Grand Prix. Langkah ini menandai berakhirnya era mesin kompetisi prototipe 250cc silinder tunggal yang selama ini diisi oleh persaingan sengit antara Honda (NSF250RW) dan KTM beserta groupnya.
Namun, di tengah riuh rendahnya pembahasan regulasi baru ini, satu pertanyaan krusial yang langsung menyeruak di kalangan pencinta balap global maupun tanah air adalah: Bagaimana nasib tim seperti Honda Team Asia (HTA) di kelas Moto3 mulai tahun 2028 ketika motor mereka harus menggendong dapur pacu dari rival abadi mereka, Yamaha? Apakah mereka akan mundur karena gengsi korporat?
Bercermin pada Preseden Moto2: Ketika Honda Digantikan Triumph
Untuk menjawab pertanyaan masa depan ini dengan jernih, kita tidak perlu berspekulasi terlalu jauh. Mari kita tengok kaca spion sejarah dan melihat apa yang telah terjadi di kelas intermediate Moto2 beberapa tahun ke belakang.
Situasi Moto3 tahun 2028 nanti sebenarnya adalah deja vu dari apa yang terjadi di kelas Moto2 pada musim 2019. Seperti yang kita ingat bersama, sejak kelas Moto2 pertama kali dibentuk pada tahun 2010 untuk menggantikan kelas 250cc 2-tak, Honda adalah pemasok mesin tunggal eksklusif menggunakan basis mesin legendaris CBR600RR. Selama periode tersebut, Honda Jepang mendirikan Honda Team Asia untuk berpartisipasi penuh di kelas tersebut.
Ketika Dorna memutuskan untuk memindahkan kontrak pemasok mesin tunggal Moto2 ke Triumph (pabrikan asal Inggris) dengan mesin 3-silinder 765cc mulai musim 2019, apakah Honda Team Asia memilih mundur karena motornya tidak lagi menggunakan mesin Honda? Jawabannya adalah TIDAK.
Idemitsu Honda Team Asia tetap kokoh bertahan di grid Moto2 hingga detik ini. Mereka tetap mendaftarkan tim, tetap menggunakan sasis komersial (seperti Kalex) yang disesuaikan untuk menggendong mesin Triumph, namun dibalut dengan livery ikonik merah-putih serta penamaan tim yang membawa bendera besar Honda. Logika operasional dan ketahanan komersial inilah yang diyakini tmcblog akan kembali diterapkan oleh Honda di kelas Moto3 pada musim 2028 nanti.
Esensi Utama Moto3: Koridor Sistem Pengembangan Talenta (Talent Feed System)
Mengapa pabrikan raksasa sekelas Honda mau menurunkan ego korporat mereka dan membiarkan timnya berkompetisi menggunakan mesin dari rivalnya? Jawabannya terletak pada esensi dan visi dasar dari keikutsertaan mereka di kelas semenjana (Moto3 dan Moto2).
Bagi pabrikan, kelas Moto3 bukanlah panggung utama untuk membuktikan superioritas engineering murni atau sarana jualan motor komersial secara instan. Sejak awal dibentuk, partisipasi aktif Honda melalui proyek Honda Team Asia—yang dipimpin oleh mantan pebalap dunia Hiroshi Aoyama—memiliki misi tunggal yang sakral: sebagai wadah pembinaan dan pengembangan talenta calon-calon pebalap masa depan Honda (Talent Feed System).
Mari kita lihat piramida pembinaan balap berjenjang yang telah dibangun oleh Honda secara masif dan terstruktur selama puluhan tahun, khususnya di wilayah Asia:
-
Asia Talent Cup (ATC): Menjaring bakat-bakat muda dari sirkuit lokal.
-
FIM JuniorGP / Asia Talent Team: Mengasah mental dan adaptasi di sirkuit Eropa.
-
Moto3 (Honda Team Asia): Gerbang pertama mencicipi atmosfer Kejuaraan Dunia (Grand Prix).
-
Moto2 (Idemitsu Honda Team Asia): Pematangan tingkat akhir sebelum naik kasta.
-
MotoGP (HRC Honda Castrol / LCR Honda): Destinasi akhir dari para talenta terbaik.
Jika Honda memutuskan untuk menarik diri dari grid Moto3 pada tahun 2028 hanya karena masalah pasokan mesin tunggal Yamaha, maka mata rantai emas pembinaan talenta muda yang telah mereka investasikan dengan biaya luar biasa besar ini akan terputus di tengah jalan.
Pebalap muda lulusan ATC atau JuniorGP akan kehilangan jembatan logis untuk naik ke kejuaraan dunia di bawah naungan payung pabrikan mereka sendiri. Efek domino ini jelas akan merugikan strategi jangka panjang Honda dalam mencari suksesor di kelas MotoGP.
Oleh karena itu, opini tmcblog meyakini secara kuat bahwa mulai tahun 2028, kita masih akan tetap melihat motor-motor dengan livery merah-putih kebanggaan Honda Team Asia menderu di grid Moto3. Di balik fairing motor tersebut, akan tertanam mesin 2-silinder berbasis Yamaha CP2, namun di atas joknya, akan duduk pebalap-pebalap muda berbakat masa depan Honda Asia.
Di level Moto3 dan Moto2, persaingan komersial antar-pabrikan harus dikesampingkan demi kepentingan pembibitan generasi penerus. Gengsi sejati antar-brand dan perang teknologi murni biarlah disimpan dan ditumpahkan sepenuhnya di tempat yang semestinya, yaitu di kelas para raja, MotoGP.
Silahkan dikunyah-kunyah sob, Semoga analisis ini memberikan sudut pandang yang komprehensif bagi kita semua dalam menyongsong era baru balap motor dunia.
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog





Trus ntr ATC Pake motor apa ya?
pake cbr 400 rr
Nah itu… Diartikel sblumnya wak haji smpet bhas bhwa balap pendukung sprti atc dn junior gp akan jg menggunakan mtor sjenis yg di pake dimoto3 dgn spek downgrade…kok keknya aneh klo smuanya krus brjlan sprti biasa tp pake msin rival…skrg aja br di moto2 ada team yamaha, moto3 kagak ada
Kudunya seh terbuka aja untuk smua pabrikan tp cost di batasi, pake basis motor mreka sndri yh di sesuaikan dgn chasis prototype
dari CC ny aja saya pribadi udah gk setuju.
Ramadipa harus segera dibeliin cp2 di Karawang buat latihan intensif sebelum naik ke moto3
Soalnya kemungkinan era dia pas naik ke Moto3(kalo berjalan lancar)
ktm di moto2 jg masih tetep eksis sampe sekarang.
Wak, kenapa kalau pakai mode mobile web ini gambarnya ga keluar ya? Kalau masuk mode desktop baru keluar
Ada berita apa ya kok paddocknya pakai ky tenda kawinan gitu??
Sejak diambil alih Liberty, Paddock permanen cuma eksklusif buat tim tim MotoGP doang,biar orang awam pun tau kelasnya emang berbeda
mantap memang crossplane no proto
lama-lama kok gini amat ya..one make one make..
ban sudah one make tyre
ecu one make juga
moto2 moto3 one make engine
moga2 sasis tidak one make juga
kalo seru-serunya masih jaman era non one make
sekarang liat moto2 aja hambar rasanya meski motornya lebih kencang dari motor GP500 era dulu