MCBLOG.com – Bro sekalian, selain update regulasi konsesi yang heboh kemarin, ada satu isu politik teknis yang gak kalah panas di paddock Sachsenring kemarin. Ini mengenai wacana pembatasan jumlah motor, di mana pembalap hanya boleh menggunakan satu motor saja di dalam box garasi khusus untuk sesi latihan (Jumat dan Sabtu), mirip-mirip regulasi di WorldSBK. Rencananya, dua motor baru boleh disiagakan saat Sprint dan Main Race.
Ide ini awalnya digulirkan oleh Aprilia dan didukung penuh oleh Ducati dengan alasan penghematan biaya (cost containment) menyambut era baru 850cc di 2027. Sampai beberapa pekan lalu, proposal ini sudah hampir matang dan siap divoting. Tapi, plot twist terjadi pasca GP Jerman! Kabar terbaru dari paddock menyatakan wacana ini resmi menemui jalan buntu akibat pecahnya suara di internal MSMA (Asosiasi Pabrikan).
KTM Jadi “Batu Sandungan” Utama
Usut punya usut, yang bikin proposal ini berantakan adalah pabrikan asal Austria, KTM. Meskipun sempat terlihat melunak saat pertemuan di Balaton Park (GP Hungaria), manajemen Mattighofen secara tegas menarik dukungannya saat seri Assen kemarin.
KTM menilai, jika jumlah motor dibatasi hanya satu saat sesi latihan, efeknya bakal domino. Selain KTM, tim-tim independen (satelit) juga kompak menolak karena mereka tidak melihat ada sisi positif dari aturan ini. Sementara itu, kubu Honda (HRC) memilih posisi netral alias ikut suara mayoritas saja, dan Yamaha belum memberikan keputusan final.
Karena untuk membawa proposal ke Grand Prix Commission (GPC) dibutuhkan suara bulat dari internal pabrikan di MSMA, maka mundurnya KTM otomatis meruntuhkan rencana tersebut.
Alasan di Balik Penolakan: Takut Kalah Start di Era 2027!
Bro sekalian, kalau kita bedah lebih dalam secara serius, penolakan dari KTM dan tim satelit ini sebenarnya sangat logis. Ada dua alasan kuat yang mendasarinya:
-
Taktik Politik Teknis: Banyak pihak curiga bahwa Aprilia dan Ducati ngotot mengajukan aturan ini karena mereka pede prototipe motor 850cc mereka untuk tahun 2027 sudah lebih maju. Dengan membatasi rival hanya memakai satu motor saat latihan, maka proses development dan pencarian data kompetitor (seperti KTM, Honda, Yamaha) otomatis akan berjalan jauh lebih lambat.
-
Faktor Risiko Pembalap: Bagi pembalap, hanya memiliki satu motor siap pakai di garasi saat latihan adalah sebuah “kegilaan” (delirio). Bayangkan kalau pembalap mengalami crash di awal sesi Practice. Mekanik butuh waktu lama untuk membangun ulang motor, dan pembalap bakal kehilangan waktu berharga di lintasan.
Meskipun salah satu petinggi paddock di Sachsenring mengatakan status regulasi satu motor ini “belum sepenuhnya mati, tapi jalannya sangat terjal”, TMCBLOG melihat peluang proposal ini untuk lolos sudah sangat kecil—bisa dibilang mendekati 0%.
Retaknya kesepakatan di Sachsenring kemarin juga dipicu karena absennya dua tokoh kunci, yaitu Gigi Dall’Igna (Ducati) dan Paolo Pavesio (Yamaha). Kabarnya, obrolan panas ini akan kembali dilanjutkan tiga pekan lagi di Sirkuit Silverstone, Inggris. Tapi melihat penolakan keras dari KTM dan keluhan para pembalap, sepertinya di 2027 nanti kita tetap akan melihat dua motor standby dengan selimut penghangat ban di depan garasi sejak hari Jumat. Silahkan dikunyah-kunyah opininya, dan semoga mencerahkan!
Taufik of BuitenZorg | @TMCBLOG





Tim hemat semangat
Balapan prestis (prototipe), budget kempis.
Setuju masuk kotak bila perlu kotak sampah
Balap proto begini harusnya jangan membatasi budged la.. sdh diatur ketat secara teknis pun… hilang kesan mewahnya prototipe.
Iyalah.aneh aturan gituan ya kalo motornya bagus eh ridernya tukang dlosor ya apes soanjang musim
Yam.aha.
Ands
Fri
Ends
Comu
Nity
Kan emang bener, seperti juga kata Steiner, itu hanya penghematan semu, nyatanya malah mekanik lebih kerja keras juga, ditambah kalo jumlah mekanik dikurangi, ya berarti harus lembur, dong. Kalo gak boleh lembur ya pembalap terancam gak bisa ikut di QP bahkan Sprint Race.
Tim Satelit kan juga mkir gak ada bedanya, malah emang memberatkan mereka karena jumlah mekanik mereka gak sebanyak tim pabrikan.
Kalo soal data jelas sangat ngaruh.