TMCBLOG.com – Bro sekalian, bagi kalian yang menyaksikan gelaran Sprint Race MotoGP Silverstone 2026, tentu timbul pertanyaan besar di kepala: Mengapa kecepatan Marc Marquez mendadak melorot sangat tajam di pertengahan balapan hingga hampir gagal meraih poin?
Mengawali balapan dari grid ke-6, pembalap pabrikan Ducati ini sejatinya melakukan start yang sangat apik. Pada lap-lap awal, Marc bahkan sudah berhasil merangsek naik ke posisi ke-4 setelah melewati Marco Bezzecchi. Namun, memasuki lap ke-4 dan ke-5, pace Marc Marquez mendadak melorot tajam—bahkan perbedaan antara lap tercepat dan lap terlambatnya mencapai kisaran 5 detik!
Dari posisi bersaing di zona podium, Marc merosot hingga finis di P9 dan hanya sanggup menyelamatkan 1 poin terakhir dengan keunggulan amat tipis 0,027 detik dari Diogo Moreira. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi pada Desmosedici GP26 milik Marc Marquez?
Bukan Kerusakan Biasa, Tapi ‘Graining’ Ban Belakang yang Masif!
Seusai balapan, Marc Marquez secara terbuka menjelaskan situasi sulit yang dialaminya kepada media. Marc mengungkapkan rasa kecewanya karena masalah ban belakang yang ia hadapi di balapan Sprint sama sekali belum pernah muncul atau terdeteksi selama sesi latihan bebas (Free Practice maupun Practice).
“Saya merasa kecewa karena kami mengalami sensasi baru di balapan Sprint, yang mana saat sesi latihan kami sama sekali tidak pernah mengalami drop ban belakang seperti itu,” ungkap Marc Marquez.
Marc menegaskan bahwa penurunan performa ini bukan sekadar degradasi usia ban biasa (tyre degradation), melainkan fenomena graining pada permukaan ban belakang.
Graining terjadi ketika lapisan karet ban terkelupas (melepuh) akibat gesekan gaya gesek (shear force), namun robekan karet tersebut menempel kembali ke permukaan tapak ban karena suhu permukaan yang belum ideal. Hal ini membuat permukaan ban menjadi tidak rata dan kehilangan daya cengkeram (grip) secara ekstrem.
“Masalahnya bukan karena degradasi ban, melainkan graining. Ketika Anda mengalami graining, karet ban seperti tidak bekerja di rentang temperatur yang tepat,” tambah Marc.
Sudah Terasa Sejak Lap Ke-4: Bertahan Agar Tidak Crash
Sebagian pembalap lain sejatinya juga mengalami degradasi ban di Silverstone, tetapi pada Marc Marquez efeknya terasa jauh lebih cepat dan berat.
“Sejak lap keempat, saya sudah merasakan penurunan performa yang sangat masif (massive drop), dan setelah itu saya hanya berusaha untuk bertahan hidup (survive) sampai garis finis,” ujar Marc.
Marc menambahkan bahwa saat meliuk-liuk bertahan di posisi 6 dan 7, ia harus mengambil risiko yang sangat tinggi untuk terjatuh (crash). Mempertimbangkan selisih poin antara finis P6 dan tidak mendapat poin sama sekali (P10 ke bawah) hanya berjarak 3–4 poin, Marc memilih untuk menurunkan ritme demi mengamankan motor hingga melintasi bendera finish.
Bahkan di putaran-putaran akhir, imbas grip ban belakang yang hilang membuat motor Marc mengalami goyang/shake yang sangat keras. Saking kerasnya guncangan tersebut, sensor keselamatan pada baju balapnya menganggap Marc sudah terjatuh sehingga airbag dalam baju balap Marc Marquez sempat mengembang di tengah balapan! Beruntung Marc masih sanggup mengendalikan motornya hingga finis.
Menghadapi balapan utama hari Minggu yang menempuh jarak dua kali lipat, Marc Marquez bersama tim teknis Ducati Corse harus bekerja ekstra keras mencari jalan keluar. Namun Marc tetap bersikap realistis. Opsi berpindah ke penggunaan ban belakang kompon Medium untuk balapan Sunday Feature Race belum tentu menjadi solusi ajaib. Marc menjelaskan bahwa karakter ban Soft dan Medium Michelin di sirkuit Silverstone memiliki spesifikasi yang cukup mirip:
“Secara teori di atas kertas, ban Soft dan Medium sangat, sangat mirip. Senyawa sisi kiri sama, dan senyawa sisi kanan berada dalam keluarga yang sama, hanya satu tingkat lebih keras. Jadi tidak ada perbedaan yang terlampau jauh antar kompon,” jelas Marc.
Bro sekalian, Silverstone dengan karakter tikungan mengalir (flowing High-Speed Corner) membutuhkan keseimbangan grip dan manajemen suhu ban yang sangat presisi. Ketika fenomena graining menyerang bagian shoulder ban belakang lebih awal, pembalap otomatis tidak bisa membuka gas (opening throttle) dengan optimal saat keluar tikungan (corner exit).
Dengan jarak poin klasemen yang kini terbentang 29 poin dari Jorge Martin di puncak, menarik untuk ditunggu bagaimana engineer Ducati meramu setup elektronik (TC/Anti-Wheelie) dan geometri suspensi Desmosedici GP26 milik Marc untuk meredam timbulnya graining pada balapan utama nanti. Apakah Marc Marquez sanggup membalikkan keadaan di balapan GP hari Ahad ini, ataukah dominasi Aprilia bakal makin tak terbendung? Mari kita tunggu bersama bro sekalian!
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog






Aprilia mantap..semoga jurdun
Belum ada update wak yg ngikutin active aeronya Aprilia?