TMCBlog.com – Bro sekalian, nasib apes dan pilu seolah tak berhenti menimpa juara dunia MotoGP 2021, Fabio Quartararo. Sudah berjuang setengah mati menunggangi Yamaha YZR-M1 yang musim 2026 ini masih terseok-seok mengejar ketertinggalan teknis dari pabrikan Eropa, El Diablo malah harus merelakan poin berharganya hilang begitu saja setelah balapan GP Silverstone, Inggris.
Dan penyebabnya? Bukan karena insiden balap, bukan karena tekanan ban yang terlalu rendah secara disengaja, melainkan karena blunder teknis alias kesalahan prosedur administratif internal tim Monster Energy Yamaha sendiri!
Kronologi Kejadian: Sensormu Mana, ID-nya Mana?
Pada balapan yang berlangsung di sirkuit Silverstone, Fabio Quartararo sejatinya berhasil menyentuh garis finish di posisi ke-12. Hasil tersebut memang jauh dari kata memuaskan untuk ukuran seorang mantan juara dunia, namun di tengah situasi balapan yang sulit dan ban yang terdegradasi parah (“pure survival mode” kata Fabio), tambahan poin tersebut sangat berarti bagi moral tim.
Namun, beberapa jam setelah balapan usai, motor YZR-M1 bernomor start 20 milik Quartararo dipanggil oleh Technical Control FIM untuk pemeriksaan rutin pasca-balap. Di sinilah petaka berawal! Hasil inspeksi FIM MotoGP Stewards menemukan bahwa data tekanan ban depan milik Quartararo tidak terdeteksi maupun terekam sama sekali selama balapan berlangsung.
Kenapa bisa tidak terekam? Apakah sensornya rusak terkena lemparan batu gravel? Ternyata bukan, bro! Berdasarkan rilis resmi dan laporan teknis, penyebab hilangnya data tersebut adalah kesalahan konfigurasi pada onboard receiver (penerima data) di motor Yamaha.
Sebelum balapan dimulai, crew atau teknisi Yamaha lupa mendaftarkan / meregistrasikan ID unik dari sensor tekanan ban (Tyre Air Pressure Sensor / TAPS) depan yang terpasang pada velg ke dalam sistem database receiver di motor.
Akibatnya, meskipun sensor di roda depan menyala dan memancarkan sinyal, onboard receiver di motor tidak mengenali sinyal tersebut. Walhasil, tidak ada satu pun data tekanan ban depan yang tercatat di log system Stewards selama 20 lap balapan di Silverstone.
Sesuai regulasi ketat MotoGP modern, penggunaan sensor TAPS serta perekaman data tekanan ban secara real-time hukumnya wajib (mandatory). Karena tidak ada data yang bisa diverifikasi oleh FIM, Regulasi Protokol Penalti Tekanan Ban langsung dijatuhkan secara mutlak: Penalti waktu 16 detik ditambahkan ke catatan waktu total balapan Quartararo!
Dampak dari penalti 16 detik tersebut sangat fatal, bro. Fabio Quartararo yang tadinya finish di P12 dan berhak mengantongi 4 poin, langsung meluncur bebas ke posisi 16 (posisi paling buncit dari pembalap yang menyentuh finish). Artinya, perjuangan mati-matian Fabio di Silverstone menguap begitu saja menjadi NOL POIN.
Bayangkan perasaan El Diablo, bro. Sudah motornya kurang power dan kalah traksi dibanding Ducati maupun Aprilia, begitu berhasil membawa motor ke garis finish membawa poin, poinnya harus melayang akibat keteledoran teknisi timnya sendiri yang lupa input kode ID sensor.
Regulasi Tyre Pressure Control yang diterapkan FIM dan Dorna memang terbilang sangat ketat dan tanpa ampun. Dalam kasus Quartararo, Stewards tidak mau tahu apakah tekanan bannya secara fisik sesuai atau tidak—prinsip mereka sederhana: Tidak ada data yang terdeteksi = Pelanggaran Teknis Prosedural.
Ini menjadi pukulan telak dan tamparan keras bagi jajaran manajemen Monster Energy Yamaha. Di era MotoGP modern di mana detail sekecil apa pun sangat menentukan, kesalahan input ID sensor sebelum balapan adalah bentuk human error yang seharusnya tidak terjadi di tingkat tim pabrikan papan atas sekelas Yamaha.
Semoga ini jadi evaluasi total bagi crew garasi Garpu Tala agar prosedur check-list sebelum motor keluar dari pitbox diperketat lagi di seri-seri berikutnya. Bagaimana tanggapansobat sekalian melihat insiden penalti “konyol” yang menimpa El Diablo ini?
Taufik of BuitenZorg | @TMCBlog



