Marc Marquez sempat Lupa Me-Non aktifkan Ride Height Device di Awal Race MotoGP Aragon 2026

TMCBlog.com – Bro sekalian, kemenangan Marc Marquez di balapan utama MotoGP Aragon baru saja menyajikan drama luar biasa. Si Semut dari Cervera yang mengawali balapan dari posisi kedua sukses mel Melakukan outbraking terhadap pemegang pole position Marco Bezzecchi di Tikungan 1 (T1) untuk merebut pimpinan balapan. Namun, tidak berselang lama, situasi berbalik drastis dan Marc malah merosot tajam di lap pertama.

Banyak yang bertanya-tiga: Apa yang sebenarnya terjadi pada Ducati Desmosedici nomor 93 itu hingga kecepatannya mendadak drop di sektor awal? Berdasarkan pengakuan Marc Marquez yang dilansir dari Speedweek, insiden tersebut murni berakar dari kesalahan fatal (huge mistake) teknis dalam hal pengoperasian Rear Ride Height Device.

Kronologi Kesalahan Fatal: Lupa Mematikan Perangkat Rendah Suspensi Belakang

Bro sekalian, mekanisme rear ride height device dirancang untuk menurunkan bagian belakang motor guna menekan wheelie serta memaksimalkan akselerasi saat keluar tikungan. Namun, perangkat mekanis berbasis hidrolik/pneumatik ini harus di non aktifkan secara manual Oleh Pebalap Via tombol/ tuas di bagian handlebar agar sistem dapat melepas kuncian (disengage) dan mengembalikan tinggi suspensi belakang ke posisi normal.

Nah, insiden di Aragon terjadi persis setelah Marc keluar dari T1.

  1. Lupa Melepas / Deaktivasi Sistem: Marc mengungkap bahwa ia lupa menonaktifkan/melepas kuncian rear device saat meluncur dari T1 menuju T2.

  2. Suspensi Terkunci Sangat Rendah: Dampaknya, bagian buntut Ducati miliknya tetap amblas penuh (bottomed out) ketika ia berakselerasi melalui T2 dan T3 dan kita bisa lihat percikan Bungan api sempat keluar di T2 karena sentuhan Logam dan Asphal sirkuit.

  3. Kehilangan Kecepatan & Tercecer: Karena posisi motor yang terlampau rendah dan geometri yang berubah tak sesuai karakter tikungan beruntun, Marc tidak bisa melaju dengan akselerasi optimal. Alhasil, laju motornya menjadi sangat lambat hingga dengan mudah di-overtake oleh beberapa rival di belakangnya.

“Tentu saja lepas T1 saya memimpin, tetapi saya membuat kesalahan sangat besar karena lupa menonaktifkan rear ride-height device. Motor saya tetap dalam kondisi amblas dari Tikungan 1 ke Tikungan 2 dan 3, sehingga akselerasi saya sangat lambat dan disalip banyak pembalap,” aku Marc Marquez.

Menariknya bro, begitu menyadari kesalahan konyol namun fatal tersebut di atas motor, mentalitas pembalap bernomor 93 ini teruji. Alih-alih hilang fokus atau frustrasi, Marc langsung mengatur ulang pola pikirnya di dalam helm.

Ia menyadari bahwa kepanikan hanya akan membuat balapan kandas. Marc segera membebaskan perangkat tersebut pada momen pengereman berikutnya dan langsung beralih ke strategi recovery mode untuk membangun kembali ritme balapannya lap demi lap hingga akhirnya sukses merangsek naik kembali dan mengamankan podium tertinggi.

Bro sekalian, kasus pengoperasian Ride Height Device manual oleh rider memang menjadi pisau bermata dua di era MotoGP modern. Di satu sisi memberikan margin akselerasi yang dahsyat, namun di sisi lain menambah beban kerja mental (mental workload) pembalap di atas motor saat melaju pada kecepatan ekstrem melebihi 300 km/jam. Bahkan seorang pembalap sekelas Marc Marquez pun tak luput dari kesalahan manusiawi (human error) dalam menekan atau mengaktifkan tuas mekanis tersebut.

Bagaimana pendapat masbro sekalian mengenai kejadian ini? Apakah sudah saatnya perangkat ride height device dibatasi atau bahkan dilarang penuh untuk mengurangi beban kerja pembalap di lintasan? Silakan tulis analisis bro sekalian di kolom komentar di bawah!

Taufik of ButenZorg | @TMCBlog

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP