Full Pembicaraan Pecco – Digia :
https://t.co/xiBEDv4Y2d https://t.co/YomZtXtk1I pic.twitter.com/DldyMIn3P6— tmcblog (@motoupdate) September 15, 2026
TMCBLOG.com – Sebuah percakapan menarik yang tertangkap kamera penyiaran DAZN di paddock Misano mendadak menjadi sorotan hangat. Percakapan santai namun krusial ini melibatkan dua pembalap penunggang Ducati Desmosedici GP24: Francesco ‘Pecco’ Bagnaia dan Fabio Di Giannantonio.
Di tengah periode sulit yang sedang dihadapi Bagnaia—termasuk rentetan hasil minor dan keluhan konsisten mengenai minimnya rear grip pada motornya—Diggia terlihat memberikan masukan teknis. Pembalap tim Pertamina Enduro VR46 tersebut menyarankan agar Pecco mencoba menggunakan pendekatan setup dasar (basic setup) yang lebih standar seperti yang digunakannya.
Dalam rekaman tersebut, Di Giannantonio sempat mempertanyakan penggunaan perangkat aerodinamika di bagian buritan motor Pecco:
“Kenapa kamu memakai benda kecil itu di bagian belakang?” tanya Diggia.
Pecco Bagnaia memberikan jawaban yang cukup mengejutkan:
“Itu adalah masalah yang paling kecil. Saya cuma memasang apa yang mereka minta untuk saya gunakan. Saya sudah mencoba segalanya… Bagi saya, mau pakai ban depan Soft atau Medium tidak ada bedanya, rasanya sama saja. Bahkan ban Soft bekas di pagi hari atau ban baru untuk kualifikasi pun terasa sama. Rasanya seperti saya menarik tuas kopling begitu mulai mengerem.”
Mendengar hal tersebut, Diggia kembali menekankan:
“Saya paham, tapi menurut saya, kalau kamu memakai setup yang lumayan normal seperti milik saya… Set-up saya benar-benar dasar (basic), menurut saya…”
Namun, respon penutup dari Pecco justru memicu beragam spekulasi di kalangan pengamat paddock:
“They won’t let me do it” (Mereka tidak mengizinkan saya melakukannya).
Pernyataan singkat tersebut mengindikasikan adanya batasan atau arahan teknis tertentu dari pabrikan Borgo Panigale terhadap kombinasi setup serta konfigurasi aerodinamika pada Desmosedici GP26 spesifikasi pabrikan milik Bagnaia.
Pernyataan Pecco ini tentu mengundang tanda tanya besar. Pasalnya, klaim tersebut terasa janggal jika ditarik beberapa hari ke belakang. Tepat setelah hasil buruk di Aragon, Bagnaia sendiri sempat memberikan pernyataan resmi kepada media saat jumpa pers:
“Saya sudah mencoba setup milik Marc maupun Alex, dan saya juga melakukan hal yang sama pada pengaturan elektroniknya, tetapi hasilnya tetap sama saja.”
Pernyataan di Aragon tersebut membuktikan bahwa Borgo Panigale sebenarnya memberi kebebasan bagi Pecco untuk merombak konfigurasi motornya dan mencoba setup pebalap lainnya. Lantas, mengapa kini timbul narasi “tidak diizinkan”? Jelas Hanya Pecco yang bisa menjelaskan . . Mungkin tidak diizinkan Untuk Penggunaan race ?
Kendala Engine Brake dan Efek Kopling
Terlepas dari kontradiksi klaim setup tersebut, Pecco kemudian membeberkan masalah utama yang tengah menderanya saat ini. Persoalan engine brake (rem mesin) menjadi babak baru dari deretan kendala teknis yang dirasakannya.
Pecco menjelaskan bahwa ia sangat kesulitan menghentikan laju motor. Saat tuas rem ditekan, rasanya persis seperti saat kopling sedang ditarik. Secara teknis, ketika pembalap melepas gas sebelum mengerem dan kopling terinterupsi, motor akan “memanjang” (lengthens) karena kehilangan efek engine brake yang seharusnya bekerja secara otomatis saat throttle ditutup.
Situasi ini tentu membingungkan. Bagaimana mungkin tim terbaik MotoGP saat ini belum menemukan jalan keluar untuk masalah yang relatif terisolasi pada satu motor? Padahal, manajemen engine brake di Ducati berada sepenuhnya di bawah kendali pembalap melalui pemetaan (mapping) khusus yang bisa disesuaikan dan dimodulasi lewat tombol di setang saat balapan berlangsung.
Hingga kini, teka-teki mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada paket peranti elektronik dan aerodinamika Desmosedici GP26 milik Bagnaia masih menjadi topik hangat yang terus dianalisis para insinyur Ducati Corse.
Balik lagi . . Meskipun dinamika eksperimen teknis merupakan hal lumrah dalam pengembangan motor prototipe, kalimat “tidak diizinkan” dari seorang juara dunia bertahan tentu menarik perhatian. Hingga saat ini, Ducati Corse terus berupaya keras menganalisis data telemetry untuk menemukan akar permasalahan rear grip yang dialami Pecco agar sang pembalap kembali menemukan performa terbaiknya.
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog




Wak, typo terus wak..
Di paragraf awal tertulis GP24..
Yah, tidak mengurangi esensi beritanya sih, tapi ada rasa yang mengganjal ketika membacanya..
-,-
Sepakat, apalagi narasi juara bertahan. Padahal yg taon lalu jadi jurdun kan Marc. Harusnya narasinya diganti jurdun 2x atau gimana gitu biar enak bacanya
Karena pakai AI. AI banyak yang pakaibdata pelatihan 2024.
t AI mcblog dot kom mueheehehe…
i hate AI things
Mungkin krn tim Factory, ada tuntutan kpd rider utk jg melakukan R&D terhadap update apapun dari pabrikan, shg berhasil/tidak update tsb hanyalah demi pengumpulan data.
Salah satu rahasia Ducati mendominasi mungkin meniru pendekatan di F1, dng memanfaatkan simulasi dng komputer. Makin diperkuat dng kemitraannya dng Lenovo yg kmrn memberi upgrade thd kemampuan komputasi yg diperlukan.
Mungkin part aero tsb secara simulasi memberi dampak positif, dan sepertinya berhasil utk Marc. Di Pecco tdk, mungkin berhubungan dng beda karakter balapnya. Tentu Pecco akan trs diminta menggunakan demi R&D, apalagi sejak awal Pecco blm klik dng GP26, lalu tahun depan toh pindah ke Aprilia, dan krn Ducati jg pny agenda membangun motor yg dpt digunakan sebanyak mungkin karakter balap yg berbeda.