TMCBLOG.com – Casey Stoner dan Pecco Bagnaia adalah dua pembalap yang diasuh oleh satu crew chief yang sama yakni Christian Gabaririni. Empat gelar Juara Dunia MotoGP diraih oleh kedua pembalap dimana tiga dengan Ducati dan satu dengan Honda. Adalah menarik ketika Gabarrini bercerita kepada Crash.net mengenai perbedaan Stoner dan Pecco.
“Pecco adalah kebalikan dari Stoner tetapi mirip dengan [Jorge] Lorenzo dalam hal gaya berkendara, pendekatan terhadap kecepatan, dan etos kerja. Gaya berkendara Pecco merupakan evolusi dari Jorge, yang halus, tenang, dan minim gerakan,” kata Gabarrini.
Namun, menurut Cristian, Pecco memiliki ciri khas yang unik. “Pecco adalah orang pertama yang benar-benar membawa kecepatan tikungan tinggi dengan Ducati, pada saat motor itu tidak dikenal dengan kemampuan berbeloknya yang baik,” ungkapnya.
“Cara Bagnaia mengatasi masalah mirip dengan Jorge [Lorenzo], sangat berbeda dengan Casey, yang lebih intuitif.” FYI, intuitif atau intuisi selalu terkait kepada pengetahuan bawah sadar dan kemampuan untuk memahami sesuatu secara naluriah tanpa memerlukan penalaran sadar.
Satu lagi yang cukup signifikan dimiliki Pecco adalah kemampuannya mengendalikan dan menahan amarah. “Saya selalu berusaha untuk bersikap transparan dan jujur ​​dengan para pembalap. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu, jangan pernah berbohong, jangan pernah menutup-nutupi sesuatu. Ini tentang membangun kepercayaan.”
“Ini tidak berarti kami tidak membuat kesalahan. Kami melakukannya. Lebih mudah mengembangkan setup yang cocok untuk semua orang. Mudah bekerja dengan Pecco. Ia cerdas dan jarang marah. Bahkan saat ia marah, itu bisa diatasi,” pungkasnya. – @tmcblog






“Pecco adl org yg pertama membawa kecepatan tinggi di tikungan dgn ducati”
Klo dbanding dgn pembalap biasa saya percaya..
Lah klo dbanding stoner saya masih mikir
Mungkin pertama kali di era baru.
Kalo di era lalu, Jelas Casey lah.
Dimana kondisi Desmo belum sejinak sekrang, rangka juga masih depan doang.
Jelas chatter parah plus capek nahan tenaga segitu dengan topangan frame yg cuman depan aja alias monokok.
@Japan:
Laah, itu yg ngomong kan si crew chiefnya langsung yg dulu megang Stoner dan skrg megang Pecco.
Kok lu gak percayaan sm crew chiefnya? Mank Elu siapanya bro? 🤣🤣🤣
Nah,power sliding stoner ditikungan kan ga ada obat
Menurut saya, maksud perkataannya itu Pecco adalah orang pertama yg membawa motor Ducati bisa mengalir dengan kecepatan tinggi saat melibas tikungan panjang dan cepat.
Dulu…apalagi jaman jaman dulu saat era Stoner, Ducati dikenal sebagai motor yg susah untuk diajak mengalir cepat dgn kecepatan tinggi di tikungan panjang, kebalikan dari motor Yamaha inline-4 yg secara fisika sangat cocok.
Stoner menggunakan skillnya untuk membuat motor celeng bisa bermanuver ngesot-ngesot di tikungan panjang tanpa harus kehilangan momentum kecepatannya.
Saat ini, perangkat aerodinamika-lah yg saya kira membantu motor celeng tetap bisa menikung dgn kecepatan tinggi dgn lebih mengalir tanpa kehilangan momentum kecepatan yg signifikan besarnya.
Pecco itu dari wajahnya emang keliatan nice guy bgt.. GP25 toh lama kelamaan ketauan ada sedikit masalah, bahkan Marquez akhirnya mengakuinya.. he doesn’t deserve any hate..
Emang bener2 nice guy banget si pecco, musuh ga punya bahkan bini nya aja dia milih yang biasa2 aja, padahal kalau mau dia bisa dapet bini yg cantik & supermodel
Setiap orang punya perspektifnya sendiri, apalagi dalam dunia MotoGP yang selalu berkembang. Interpretasi seperti Gabarrini soal Pecco bisa jadi refleksi dari pengalamannya sendiri, tapi bukan berarti itu satu-satunya cara melihatnya.
Yang jelas, Pecco sudah membuktikan dirinya sebagai pembalap yang (dulu) mampu mengoptimalkan Ducati dengan caranya sendiri, terlepas dari apakah dia benar-benar “evolusi” Lorenzo atau bukan, meskipun saat ini dia tampak masih kesulitan “adaptasi kepercayaan diri” dengan GP25 yang kata Forcada karena masalah fork alias garpu depan itu yang berbeda dengan GP24.
Orang Jawa bilang:
“Wit gedhang ora bakal dadi wit jati, nanging yen dirawat apik, bakal ngasilake gedhang sing paling manis.”
Artinya, Pecco memang bukan Lorenzo—dan tak perlu menjadi dirinya. Namun, dengan usaha dan strategi yang tepat, dia bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri, bahkan lebih baik dari yang diduga orang.
Stoner still the best motogp rider period.
karena kekalemannya lah akhirnya di mgp tidak ada drama clash yang membuat olahraga ini jadi pusat perhatian.
Mantabh memang Horhe
Berdasarkan radius (jari-jari), tikungan dibedakan dalam 2 kategori ekstrem :
– Tikungan dgn radius besar + lengkungan panjang
– Tikungan dgn radius kecil + lengkungan pendek
Pada tikungan dgn radius besar + lengkungan panjang, maka motor yg bisa mengalir cepat tanpa banyak kehilangan momentum kecepatan tentu akan lebih unggul.
Ketrampilan power sliding (ngesot) pada tipe tikungan seperti ini tidak terlalu banyak membantu, karena biasanya masih kalah cepat dibandingkan metode mengalir halus.
Berbeda saat ditikungan radius kecil + lengkungan sangat pendek, teknik power slide tentu akan menghasilkan kecepatan lebih cepat dalam melibas tikungan.
Contoh ekstremnya power drifting/ slide pada balap slalom test, drifting.
Pada sirkuit motoGP yg sangat mengalir dan tikungannya cepat, kita sudah tahu pembalap model Jorge Lorenzo yg sangat detail dan presisi racing line-nya akan susah untuk dikejar.
Mantep nih penjelasannya
istilahnya Butter Hammer
Tapi yang ini pake Desmo
tapi klo bukan warisan data hohe, ducati bakal telat 1 2 musim lagi buat jadi butter hammer beneran.
ok jarang marah, cuma pernah aja liat footage dia yg sampe ngelempar gloves, kalo ga salah nendang wall juga? normal
Pathetic.
Kalau dibilang Pecco mirip Jorge, ya iya
Kalau sampe sebut Pecco evolusi dari Jorge ? waduuu kejauhan.