TMCBLOG.com – Halo sobat tmcblog sekalian, menarik sekali membaca ulasan teknis dari pakar teknik balap, Kevin Cameron, mengenai dilema desain yang dihadapi para engineer MotoGP saat ini. Kita sering melihat motor MotoGP zaman sekarang terlihat sangat rendah saat di trek lurus (efek ride height device), namun tahukah sobat bahwa secara desain dasar, motor-motor ini justru semakin tinggi dibandingkan era 20 tahun lalu? Mari kita bedah secara analitik “Konflik Desain” ini ala tmcblog.
1. Dilema Grip: Semakin Lengket, Semakin Jangkung
Dahulu, seorang mekanik dari Team Roberts bercerita bahwa seiring meningkatnya traksi ban, sudut kemiringan (lean angle) motor juga meningkat drastis. Saat ini, para pembalap bisa mencapai kemiringan hingga dari garis vertikal.
Masalahnya: Jika motor dibuat rendah, saat miring , komponen motor (seperti fairing bawah atau footpeg) akan langsung menghantam aspal (grounding). Solusinya: Engineer terpaksa menaikkan tinggi motor sekitar 2 inci (sekitar 5 cm) agar motor punya jarak bebas (clearance) saat rebah maksimal.
2. Efek Domino Motor Jangkung: Musuh Akselerasi & Pengereman
Menaikkan tinggi motor (CoG – Center of Gravity lebih tinggi) memang bagus untuk cornering clearance, tapi membawa efek buruk pada aspek lain:
-
Mudah Wheelie: Semakin tinggi motor, semakin mudah ban depan terangkat saat akselerasi. Ini membatasi besaran tenaga yang bisa disalurkan ke aspal.
-
Mudah Stoppie: Saat pengereman keras, motor yang jangkung cenderung membuat ban belakang terangkat, sehingga pengereman tidak maksimal.
Para desainer mencoba mengakali ini dengan memajukan posisi duduk pembalap secara radikal ke depan untuk menekan ban depan agar tidak mudah wheelie. Namun, ini tetap tidak menyelesaikan masalah dasar “Kompromi Lima Arah” milik Stuart Shenton (Eks Tech Manager Suzuki).
3. Evolusi Gaya Balap: Mengompensasi Fisika Motor
Pembalap sadar bahwa motor harus tetap berada di area “daging” ban yang tebal, bukan hanya di tepian (edge) yang tipis dan rentan. Itulah mengapa gaya balap berevolusi:
-
Era 70-an: Duduk manis di tengah (Gary Nixon).
-
Era 80/90-an: Menurunkan lutut dan geser bokong (Mamola).
-
Era Modern: Menurunkan siku (Marquez) hingga bahu (Jorge Martin).
Tujuannya: Memproyeksikan massa tubuh sejauh mungkin ke arah dalam tikungan. Dengan begitu, pusat gravitasi gabungan (motor + pembalap) berada di dalam, sehingga motor bisa tetap sedikit lebih tegak meski sedang melaju kencang di tikungan. Ini melindungi ban dan memberikan clearance lebih.
4. VRH (Variable Ride Height Device): Sang “Shape-Shifter”
Inilah solusi “paling sakti” saat ini sebelum regulasi 2027 berlaku. Karena satu motor harus bisa menjadi lima motor sekaligus (saat ngerem, masuk tikungan, di apex, keluar tikungan, dan akselerasi), terciptalah Variable Ride Height (VRH) Device.
MotoGP saat ini adalah medan pertempuran antara fisika ban yang semakin lengket melawan limitasi desain mekanis. Penggunaan elektronik anti-wheelie sebenarnya hanyalah “pemotong tenaga” agar motor stabil. Namun, menurunkan motor secara fisik (VRH) adalah solusi mekanis nyata yang memungkinkan motor berakselerasi lebih cepat tanpa kehilangan tenaga.
Sayangnya, semua kemewahan teknologi “Shape-shifter” ini akan segera berakhir pada regulasi baru 2027. Para engineer pasti akan kembali merasakan “celana dalam yang kesempitan” (istilah Kevin Cameron untuk menggambarkan ketidaknyamanan kompromi desain). Silahkan dikunyah-kunyah dulu opininya, sob…
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog







Apakah musim 2027 akan menjadi kemunduran kreasi , atau menjadi kemajuan improvisasi? Setidaknya antara 2 kemungkinan tersebut bagi pembalap maupun tim dan pabrikan
Kompromi 5 arah ini chaos donk, sama problematika 3 badan kira kira susah mana ya?
Akan lebih banyak peran pembalap buat menangin kejuaraan di 2027 nanti. Semoga.
Karena mekanik cerdas pasti ada aja cara membuat inovasi baru.
Pantesan pembalap kalo slempangin kaki pas naik motor keliatan susah sampe Aero dan kamera belakang biasanya kudu dipegangin crew biar ga kena tendang,selain karna stego jg karena ditinggiin dimensinya
Pedrosa kalo naik rc16 butuh dingklik ga ya 🙂↕️