Ternyata Hubungan Pecco Bagnaia dan Marc Marquez di Ducati Jauh Lebih Adem dari Bayangan Kita!

TMCBLOG.com – Dunia balap sering kali digambarkan sebagai arena “perang dingin”, apalagi jika dua singa berada dalam satu kandang. Begitu pula yang kita bayangkan saat Marc Marquez bergabung dengan Francesco ‘Pecco’ Bagnaia di tim pabrikan Ducati pada musim 2025 lalu. Banyak yang memprediksi tensi tinggi, mengingat Pecco adalah “anak emas” VR46 Academy dimana pemilik sekaligus mentornya punya sejarah kelam dengan Marc.

Namun, dalam sebuah wawancara mendalam di podcast Gianluca Gazzoli baru-baru ini, Pecco membuka tabir yang mengejutkan. Ternyata, hubungan mereka jauh lebih harmonis dan profesional daripada yang selama ini digosipkan di media sosial.

Mari kita bedah poin-poin menarik dari pengakuan Pecco Bagnaia ini:

1. Menepis Isu Sabotage: “Ducati Tidak Pilih Kasih”

Pada musim 2025, ketika Pecco terlihat kesulitan mengimbangi kecepatan Marc yang begitu dominan dengan GP25, banyak spekulasi liar bermunculan. Ada yang bilang Ducati sengaja memprioritaskan Marc. Pecco dengan tegas membantah hal ini:

“Tim sangat mendukung saya. Tidak ada alasan bagi mereka untuk mempersulit hidup saya. Itu akan sangat gila,” tegas Pecco.

Menurutnya, perbedaan performa murni karena masalah teknis. Marc memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, terutama pada karakter Desmosedici yang sangat kuat saat melakukan pengereman (braking push)—sebuah area di mana Marc memang ahlinya.

2. Marc Marquez yang “Suka Memberi Saran”

Ini adalah bagian yang paling menarik, Mas Bro. Alih-alih saling tutup mulut, Marc ternyata cukup terbuka dengan Pecco. Pecco mengakui bahwa Marc adalah sosok yang sangat cerdas secara intelektual dan emosional.

  • Tukar Ide: Keduanya sering bertukar pikiran mengenai pengembangan motor.

  • Memberi Nasehat: Yang mengejutkan, Marc tak segan memberikan beberapa saran teknis kepada Pecco untuk membantunya keluar dari kesulitan performa di musim lalu.

3. Melepas Beban Sejarah “Rossi vs Marquez 2015”

Sebagai murid terdekat Valentino Rossi, Pecco sadar betul bahwa ia membawa beban sejarah perseteruan 2015. Ia merasa sering menjadi sasaran “pembenci” atau pendukung fanatik dari kedua belah pihak.

Namun, Pecco memilih untuk bersikap dewasa. Bagi Pecco, Marc (dan Vale) adalah pebalap terbaik dalam sejarah, dan berada satu tim dengan pebalap sekaliber Marc adalah kesempatan langka untuk belajar setiap hari, bukan beban untuk dibenci.

4. Belajar Menghargai Hasil (Nasehat dari Sang Maestro)

Satu hal yang Pecco sesali di masa lalu adalah sikapnya yang terlalu keras pada diri sendiri. Ia bercerita bahwa Valentino Rossi pernah menegurnya karena Pecco sering terlihat marah meskipun berhasil naik podium (finis ketiga).

“Vale menyarankan saya untuk lebih menikmati hasil yang diraih. Salah satu kesalahan saya adalah terlalu kesal bahkan saat meraih posisi ketiga,” ungkapnya.

Kini di musim 2026, Pecco kembali berjuang meski masih berada di bawah bayang-bayang dominasi Marc di Ducati. Namun, dinamika ini akan segera berakhir. Seperti yang kita tahu, Pecco sudah dipastikan akan pindah ke Aprilia di akhir musim 2026 nanti, sementara masa depan Marc dengan Ducati masih dalam tahap negosiasi.

Persaingan di lintasan tetaplah panas, namun di balik paddock, Pecco dan Marc menunjukkan kedewasaan luar biasa. Hubungan mereka membuktikan bahwa di level tertinggi, rasa hormat antar juara dunia jauh lebih penting daripada drama masa lalu.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

7 COMMENTS

  1. Wkwk.. Rossi sok menasehati gitu k pecco…. pdhl Rossi sendiri g bs menerima g bs nmbh gelar juara dunia…😄😄😄😄😄😄

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP