TMCBLOG.com – Dunia MotoGP saat ini sedang menyaksikan sebuah drama “perceraian” yang disinyalir akan terasa berjalan lambat, menyakitkan, dan mulai terasa menyesakkan. Kita bicara soal Fabio Quartararo dan Yamaha. Jika biasanya sebuah perpisahan antara pebalap juara dunia dengan pabrikan yang membesarkannya dan memberikan gelar Juara Dunia diakhiri dengan pelukan dan air mata bahagia, narasi yang berkembang saat ini justru sebaliknya: Toxic.
Berdasarkan analisis tajam dari The-Race, ada indikasi kuat bahwa sisa musim 2026 ini akan menjadi periode yang sangat brutal bagi kedua belah pihak. Mengapa demikian? Mari kita bedah pelan-pelan.
1. Rahasia Umum: Tiket Menuju Honda 2027
Meskipun belum ada pengumuman resmi yang sifatnya “hitam di atas putih” untuk konsumsi publik, kepindahan Fabio Quartararo ke HRC (Honda) untuk musim 2027 dan 2028 sudah menjadi open secret atau rahasia umum di paddock.
Masalahnya, dengan kontrak yang sudah “terikat” di tempat lain untuk masa depan, Fabio dan Yamaha masih harus menjalani sekitar 19 seri sisa di musim ini. Ini seperti dua orang yang sudah sepakat cerai, tapi masih harus tinggal satu atap selama delapan bulan ke depan. Canggung, dan berpotensi meledak.
2. Kebuntuan Teknis yang Membuat Frustrasi
Di Circuit of The Americas (COTA) kemarin, terlihat jelas betapa lebarnya jurang pemisah antara harapan dan realita. Yamaha M1 terbaru—meskipun sudah banyak melakukan perubahan—masih tertinggal sekitar 1 detik per lap. Dalam standar MotoGP modern, jarak 1 detik itu bukan lagi “jarak”, tapi “jurang”.
Fabio sempat berujar dengan nada sangat putus asa: “Tidak peduli ban apa yang kami pakai atau sirkuit mana, perasaannya tetap sama. Kami tidak mengerti bagaimana motor ini bekerja. Kami bisa mengubah motor menjadi panjang, pendek, rendah… tapi rasanya tetap sama.”
Yang paling mengkhawatirkan adalah pernyataan Fabio bahwa dia tidak melihat adanya perbedaan hasil meskipun tim melakukan perubahan besar. “Bahkan jika itu menjadi lebih buruk, setidaknya ada perbedaan yang terlihat. Tapi kami tidak bisa melihatnya.”
3. Fabio yang Mulai “Checked Out”
Indikasi paling nyata dari hubungan yang mulai toxic adalah ketika seorang pebalap mulai kehilangan antusiasme untuk terlibat dalam pengembangan. Di COTA, Fabio menyebut momen terbaiknya di akhir pekan tersebut adalah “nongkrong” bareng bintang Motocross, Jett Lawrence. Sebuah kode keras bahwa kebahagiaannya sudah tidak lagi ditemukan di atas motor M1.
Dia juga memberikan pernyataan yang mengisyaratkan bahwa dia sudah lelah berbicara: “Saya pikir sekarang saya mencoba untuk sedikit keluar dari pengembangan (development), karena saya sudah mengatakan apa yang kita butuhkan. Saya tidak akan mengulanginya setiap saat.” Ini adalah sinyal bahwa secara mental, Fabio sudah “cabut” dari proyek Yamaha, meskipun fisiknya masih berada di atas motor biru tersebut.
4. Statistik yang Berbicara: Titik Terendah
Angka tidak pernah bohong, Sob. Setelah tiga putaran, Fabio baru mengantongi 6 poin. Ini adalah awal musim terburuk sepanjang kariernya di kelas premier. Sebagai perbandingan, poin terendahnya setelah tiga seri tahun lalu masih berada di angka 16.
Yamaha memang sedang melakukan reset besar-besaran, termasuk transisi ke mesin V4 yang sedang dikembangkan. Namun, masalahnya adalah Fabio tidak akan menjadi bagian dari masa depan Yamaha lagi. Dia akan pergi tepat saat Yamaha mungkin baru mulai menemukan ritmenya kembali di era regulasi 2027.
Sangat disayangkan jika memang kita harus melihat hubungan yang pernah menghasilkan gelar Juara Dunia 2021 ini harus berakhir dengan suasana yang keruh. Yamaha tidak bisa memberikan motor pemenang, dan Fabio—yang dibayar sangat mahal—mulai kehilangan kesabaran dan simpati dalam komentarnya di media.
Ke depannya, 19 seri sisa ini bukan lagi soal mengejar podium, melainkan bagaimana kedua belah pihak bisa bertahan tanpa saling menyakiti lebih dalam di depan publik. Sebuah “perceraian” yang sepertinya memang tidak akan berakhir bahagia.
Jadi apakah memang Quartararonya yang sudah mulai malas-malasan dengan Yamaha, atau Yamaha yang sudah mulai mencoba membuat jarak dengan Quartararo dengan tidak memberikan lagi kesempatan pebalap Perancis ini menjadi bagian dari development Yamaha M1 V4?
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog






White Flag sebelum pindah ke Honda
musim yang nanggung buat semuanya.
dari sisi yamama, mau dikembangin kayak gimanapun, m1 versi sekarang pasti pensiun akhir tahun.
dari sisi taro, mau jungkir balik koprol nggak akan bisa nutup gap 1 detik per lap.
Bisa. Suruh diet kurangin bobot 3 kg
Saya pikir keduanya sudah saling ilfil sih,, semoga tidak kejadian seperti Vinales dengan Yamaha, atau Zarco dengan ktm sih
kalau kasus zarco sih kyknya di cuma komplain. tp terlalu kasar komplainny. ktm kan batu pede banget sama teralisnya. walaupun pasca zarco dimodif dikit teralis pipih
korban 1 tahun, untuk hasil yg lebih baik ditahun2 selanjutnya, yamaha pasti akan kembali kompetitif
Sayang, hanya mjd Vinales kedua
sebaiknya dibekuin aja… kasih kesempatan ke augusto
Ngga banyak yang putus tapi baik2, salahsatunya marc dan honda.
Marc emang profesional, dewasa dan jujur. Akhirnya honda malah yang gak tega ngelihat megabintangnya menderita. Keduanya pun ikhlas pisah demi kebaikan bersama.
Suruh gardening leave aja,biar ga makin menyakiti satu sama lain
tukar saja dengan agusto fernandes kandangin aja si quartararo udah ga guna di yamaha juga
Kasus ketiga stlh jarko dan vinales. Brikut nya raro.
Selesaikan kontrak sebagai pebalap profesional yg sudah dibayar, tanpa ngomong apapun ke media sampai akhir musim.
Jangan sampe salah ngomong apalagi ngrusak motor.
Dua2 nya masih punya masa depan cerah.
g dipungkiri taro pembalap yang sangat bertalenta, hanya yamaha harus ganti konfigurasi ke V4 kan emang salalu jadi permintaan dia, dan ganti konfigurasi g kaya goreng kerupuk yang langsung jadi, pasti perlu pengembangan dan semua pembalap harusnya sadar itu,,
permasalahan yamaha dari jaman rosi belum pensiun juga sama, yaitu traksi ban belakang,,
klo masalah speed mesin inline g bisa kompetitif, buktinya suzuki sebelum cabut lagi bisa kok secara top speed mengimbangi motor dengan mesin V4,
Kalo ngimbangi top speed semua pabrikan jg bisa, endingnya susah belok,roda spin,Yamaha sudah pernah pakai teknik itu jg
Solusi terbaik buat dua pihak sih,tp Blunder buat Yamaha jika rider selevel Fabio sampai lepas, sekelas neng April sj butuh waktu 5 tahun lebih biar motornya perform sampai sejauh ini, yakin yamama v4 bisa perform secara instant
Udah gak usah ngikutin ngembangin, musim depan juga gak make M1🤣
Silahkan cabut toh dari 2021 juga gk greget ni pembalap cuma menang gaji gede doang .
V4 baru seumur jagung mo di target besar2an 😅
Vinnales pernah, Rossi juga pernah digituin kok..
jadi inget perpisahan Marc dan HRC
Dl juga markes uda ogah ogahan ama honda. Tp lumayan diplomatis jawabannya. Ya intinya dia ketuntut profesionalisme ,kemakan janji manis pabrikan