TMCBLOG.com – Bro sekalian, Masalah Yamaha M1 menurut valentino Rossi masih hadir sampai di race kemarin di Brno . ..  namun sejatinya bukan masalah yang membuat Yamaha sulit konsisten berada di barusan terdepan race, hanya masalah yang membuat Valentino Rossi dan Maverick Vianles tidak bisa menyamai Pace Honda dan Ducati saja . . Banyak yang menyangka bahwa sumber masalah adalah karena Yamaha belum bisa memaksimalkan penggunaan Software/ elektronik dari Magneti Marelli, ujung ujungnya menunjuk Muka Honda dan Ducati yang main cerdik agar dapat lebih cepat adaptif dengan memiliki teknisi elektronik jebolan dari Magnetik marelli dalam struktur Team mereka . . Namun akhir akhir ini hadir spekulasi lain dari sumber masalah yang mengelayuti Pabrikan berlambang garputala ini sob . ..  apa itu ? Cekidot deh . .

Half Crankshaft YZR-M1

Informasi ini tmcblog peroleh dari diskusi motomaters dimana Penulis Buku MotoGP technologi, Om neil Spalding mengajukan hipothesis bahwa disinyalir ada sedikit kesalahan dalam proses pembuatan Crankshaft Yamaha M1  . . . Kesalahan tersebut adalah kesalahan dalam penentuan massa atau bobot dari bandul Crankshaftnya sob . .

Half Crankshaft YZR-M1

Om Neil mengatakan bahwa di MotoGP Crankshaft adalah hal no 2 yang paling berpengaruh untuk Performa dari Motor di MotoGP setelah ban. Penentuan Massa dari bandul Crankshaft sangat lah menentukan. Jika Bandul CrankShaft memiliki massa yang tinggi ( berat ) maka akan merepotkan saat berakselerasi. Jika Crankshaft  terlalu ringan dengan inersia yang dihasilkannya akan membuat Ban belakang Spining . . semua ini jelas tentang inersia atau kelembaman dari pergerakan Crankshaft di mana Hampir semua Pabriakan sudah mengadopsi Model backward Rotating Crankshaft . . . . so Om Neil memuarakan opininya ke Crankshaft Yamaha M1 yang terlalu ringan

Crankshaft YZR-M1

Permasalahannya, Jika hipothesis Om Neil Spalding benar adanya, Maka kasus Yamaha di 2018 ini mirip seperti kasus Suzuki di 2017 yang lalu yang salah pemilihan mesin, atau lebih detailnya untuk kasus Yamaha di 2018 ini adalah salah dalam pendesainan komponen jeroan mesin. Patut dicatat  bukan desain bentuk, melainkan aspek lain sepeti bobot ( massa ) dari Komponen Dalam hal ini Crankshaft . . Yang jadi masalah adalah, Yamaha seperti Juga Suzuki di tahun 2017 dilarang merubah apapun dari Crankshaft tersebut karena mesin diBekukan/ disegel . . Harus pakai Pintu lain untuk bisa melawan ( mencounter ) dari efek ‘terlalu ringannya ‘ Crankshaft yamaha M1 2018 ini . . . salah satunya adalah melalui elektronik.

Dari beberapa diskusi, untuk bisa meng-counter efek spin yang diakibatkan Crankshaft yang terlalu ‘ ringan’ butuh Computer ( ECU ) dengan Speed GHz yang lebih tinggi dan ini lah disinyalir Yang jadi handycap selanjutanya secara ECU dan Elektronik MotoGP yang buatan magneti marelli tidak seleluasa Inhouse pabrikan terutama soal CPU speednya . . . Baruah disini hadir kebutuhan mekanik yang lebih dalam ngerti elektronik, dan mamang muaranya bisa jadi ke kebutuhan mekanik jebolan Magneti Marelli

Baca Juga : Fake Firing Yang jadi BackFire Buat Ducati MotoGP di 2017

Cara Lain adalah Via IMU mumpung IMU masih dibebaskan . . Namun jelas akan ada banyak YEN yang harus keluar . .   so apakah yamaha hanya bisa pasrah dalam menjalani race tersisa kedepan sambil berusaha konsisten meraih point sambil menunggu Yamaha M1 MY 2019 dengan update Massa dari crankshaft ? atau mereka akan hantam cara lain no matter it cost ?  silahkan dikunyah kunyah dan  share opinimu sob  . .

Taufik of BuitenZorg

150 COMMENTS

  1. ini baru ilmu Teknik rekayasa … semua ada ukurannya, ada ilmunya …..jadi gak cm modal tangan belepotan oli, pegang bor, main bubut, ngelas sana ngelas sini, bikin cat nge-jrengg, nge-set mesin di jalanan kampung, trus koar2 kerja kreatif 😀

    Guest
    • om Taufik, maksudnya mirip suzuki 2017 kesalahan pemilihan mesin atau masalah yg sama pada mesin terutama bagian crankshaft yg terlalu ringan

      Guest
    • Sepertinya beda dari ngonda hrc 2015.
      Ngonda struggle stelah inhouse software ecu di freeze, ban ganti ke michelin dan rider yg perlu re adjust dgn motornya yg saat itu diotaki mag marelli.
      Klw mesin honda itu bkn yg paling jago topspeed. Tp urusan laptime ya masuk pack terdepan terus bahkan marqus ttppole sitter meski saat race nyari akik

      Guest
    • boigokils
      secara umum bahasanya sama
      Namun sepertinya masalah Suzuki Jauh lebih komplek dan sayangnya suzuki tidak pernah menginformasikan secara detail mengenai apa saja yang bermasalah
      sedangkan Masalah Yamaha jauh lebih kecil . .yakni fokus ke Crankshaft saja
      IMHO

      Administrator
    • mungkin lebih mirip Honda 2017 awal musim yg didera kekurangan power dan aksel ampe rambut Marquez rontok mikirinnya,meskipun paruh musim kedua akhirnya agak bs terobati tapi jangka pemakaian mesin jadi berkurang ampe meleduk di silverstone

      Guest
  2. jika memang ini benar wak, benar2 tingkat tinggi nih jadi tambah pengetahuan juga, tapi masih butuh refrensi lain atau faktor pendukung lainnya karena jelas hanya pihak yamaha yg mengetahui secara pasti

    Guest
    • Yap benar, secara umum thesis Om neil ini sebenarnya thesis umum mengenai penyebab spin ban belakang yang ebrhubungan dengan crankshaft . . artinya mekanik balap biasa pun mungkin seharusnya bisa secara silogisme berfikir ke sana, Bukan sebuah opini yang sangat complicated, imho

      Administrator
    • makasih om penjelasannya, jadi ini thesis secara umum faktor penyebab ban spin, info yg benar2 menambah wawasan hatur nuhun

      Guest
    • you pikir professor-professor gak perlu sumber referensi? mereka juga masih belajar, jgn mentang2 udah punya gelar prof gak belajar lagi. @al gember

      Guest
    • sebenernya juga disinkronkan dengan bagian elektronik, mereka mgkn sudah konsultasi dengan elektronik, bisa gak ngontrol nih bandul jika dibuat lebih ringan, mgkn berdasarkan data yg udah dimiliki elektronik merasa bisa, dibuat tp kenyataannya gak match masih ada eror or bug

      Guest
  3. Hmmm antara terlalu ringan atau berat itu selisihnya berapa gram ya?
    jika memang selisihnya besar.. jelas itu salah insinyur. ceroboh banget dahh perhitungannya

    Guest
    • Bukan masalah penentuan berat doang, variabelnya buanyak mulai dari desain bandul kruk as dan lainnya..
      Mesin motor balap itu kompleks, gak usah main ke jeroan MotoGP deh.
      Bikin mesin sekelas motor bebek road race kejurnas 115-130 cc aja puyengnya minta ampun..
      Karena sebuah mesin adalah sebuah sistem dan bagian dari sistem.
      Jadi perubahan SE-KECIL APAPUN akan berdampak cukup signifikan ke sektor lainnya. Perlu di refresh juga ingatan kita kalau lebih lambatnya sebuah motor MotoGP adalah hitungan sepersekian detik. Bukan lebih lambatnya sebuah Beat dari sebuah Sonic

      So bukan masalah beda berapa gram-salah insinyur-insinyurnya ceroboh-pembalapnya gak bisa milih paket dan lain lain lain lain…

      Editor
    • nahh bener tuh. di motor GP, kalau lebih lambat 0.5 detik maka perbedaan jarak tinggal dikali jumlah lap. misal 21 lap kaya kemarin berarti 0.5 detik/lap * 21 laps = 10.5 detik. gak bakal bisa menang

      Guest
  4. Lbh prefer pendekatan ala Marc… Cost teknologi tggi yg d imbangi dg riset ban dg detail.
    Tp y balik lg, motor mndekati sempurna tp pembalap tdk mmiliki kcerdasan/kmampuan yg ckup y ngaplo… 😅

    Guest
  5. Dugaan saya itu bukan salah desain namun lebih ke arah tujuan perancangan karena tadinya di 2 musim sebelumnya Yamaha kesulitan mengejar top speed Honda & Ducati seperti keluhan racernya, untuk itulah dibuat crankshaft ringan untuk mengejar speed/ akselerasi, hak ini terlihat di musim lalu & sekarang speed/ akselerasi M1 bisa mengimbangi Honda & Ducati di trek lurus. Namun hal ini membawa konsekuensi M1 menjadi brutal, khususnya di buritan, menurut Rossi.

    Guest
    • Seperti yg dikeluhkan vinales…

      Mesin M1 sangat terasa BRUTAL…( wak haji sdh pernah posting ) atau daku baca di arip*ts**p sepertinya…

      Di berita motogp klo di gugling jg pasti ada mengenai keluhan MV25..sptnya setelah race sachsenring…imho

      Guest
    • logis seperti ini. tadinya secara perhitungan elektronik bisa handle masalah spin/over power, ternyata masih belum bisa karena terlalu lama mikir. hasil test juga sebenarnya gk buruk, namun tertinggal dengan yang lain. sementara mengubah engine sudah dibekukan. langkah lain tinggal utak-atik ECU, aerodinamik, geometri dan bobot.

      Guest
    • Betul, setuju banget. Inilah yg menurut saya Yamaha bener2 kehilangan sosok Jorge Lorenzo. Selain skillnya di atas M1, doi pernah blg, kekuatan M1 bukan pd pol2an gas nya. Tapi stabilitas tinggi dan biarkan M1 meluncur mulus di tikungan seperti rel kereta. Kalau dipaksa kencang malah dia jadi lambat.. jgn siksa M1 kalau mau juara. Ibaratnya biarkan dia juara dgn caranya. Dgn hadirnya mesin brutal utk mengejar top speed seolah2 hal ini hanya menghancurkan “bakat alami” M1.. konstruksi M1 yg mungkin tidak cocok dikasih jantung powerfull. M1 dikenal lemot, modalnya cuma jago nikung. Tapi jagonya betul2 jago. bayangkan saja, dgn segudang problem yg mendera factory yamaha masih ada di posisi tertinggi klasemen tim. Bukan musim ini saja, tapi kita tengok tahun2 sebelumnya, artinya motor ini adalah motor juara yang butuh rider berskill juara. Saat tim lain sdh pake
      Seamless Shift Gearbox, M1 masih konvensional (saat itu), yg lain sdh V4 sampe detik ini masih inline4. Dengan teknologi “ala kadarnya” M1 masih motor juara. Ini harus bener2 disadari yamaha mereka punya motor yg emg “gokil”.. lin jarvis jg prnh blg SSG bikin kamu cepat 0,01s tp rider bagus bisa membuat cepat 0,1s. Jgn2 problem yamaha sbnrnya adalah butuh Marc Marquez hehe.. Sorry to say rossi memang hebat di atas M1, tp motor ini butuh rossi usia 25 tahun

      Guest
    • Thesis : a statement or theory that is put forward as a premise to be maintained or proved.

      Thesis juga bisa berarti sbg itu tadi ; karya ilmiah jenjang master kalo di ID. Kalo di US/AUS, Thesis itu karya ilmiah untuk college degree setara S1 – bahasa Indonesianya ; Skripsi.

      Guest
  6. Seandainya Yamaha bisa menyediakan 4 motor spek pabrikan plus test rider yg jenius, mungkin permasalahan ini bisa segera diselesaikan sebelum mesin disegel (winter test).

    Guest
    • Bisa iya bisa juga tidak, karena mesin tidak di ujicoba diseluruh track motogp, bisa jadi cocok di satu sirkuit tpi tidak cocok di sirkuit lainnya. Ketika mesin sudah disegel yg bisa merubah keadaan selanjutnya salah satunya sistem elektronik. Imho

      Guest
  7. yamaha 2018 = suzuki 2017 ??? gak salah nih ?
    suzuki 2017 wajar salah pilih mesin karena pembalapnya baru semua disuzuki jadi belom paham karakter suzuki. lahh kalo yamaha ?? katanya apa dokter kan yang bisa paham dan tau karakter M1 sampe hal terkecil, ko bisa sih salah pilih mesin ? 🤔🤔

    Guest
    • Yes bisa banget.. Kan semua pembalap itu manusia yang bisa salah, bukan levelnya Tuhan.

      MotoGP kan ada pembatasan sesi uji coba, pembalap gak sesering jaman MotoGP 2002-2008 berinteraksi dengan calon motornya di trek.
      Bisa dibayangin kalau para riders akan dihadapkan sama pusingnya beberapa pilihan paket motor dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang mereka sendiri gak akan pernah tau seperti apa jalannya satu musim ke depan, karena riders bukan paranormal macam Mama Laurent atau Ki Joko Bodo..

      2017 Suzuki, 2018 Yamaha, 2019 ??? Bisa jadi junjungan kalian yang terpuruk selama semusim..
      Maka dari itu ejekan, nyinyiran gak ngasih solusi apapun dan tidak membuat pembaca lain menjadi pinter..

      #SaveSmart

      Editor
    • hahahaha ada yang kesindir nih fumi 🙊
      sorry nih dengan ada nya kasus seperti ini yang bilang rossi manusia biasa itu memang benar adanya dan wajar. komentar saya seperti ini hanya ingin menunjukan ke pada fumi garis keras, heyy idola kalian yang kalian tuhan kan itu valentino rossi seorang the doctor pun masih bisa salah. jadi ketika fumi tidak suka kepada pembalap lain karena membuat kesalahan jangan lah kalian memaki. toh seorang rossi yang ada puja puja dan tuhankan pun bisa salah.
      #think smart

      Guest
    • Nah komentar kayak begini justru jelas.. Bukan saling sindir.
      Gue sih gak kesindir boss

      Masih banyak kok fans Rossi, fans Marquez dan fans Jorge yang menikmati MotoGP dengan akal sehat.
      Dan banyak juga komentator blogger yang cerdas gak suka nyinyir, maka jadilah lo dalam salah satunya.

      Editor
    • Masalahnya tes pra musim kebanyakan di asia yg sirkuitnya gede, traksi bagus. Cuma 1x aja di valencia (yg mewakili sirkuit kuno di eropa). Bagus di qatar, sepang, belum tentu bagus di jeres, brno.
      Wajar aja sih kalo ada salah pilih mesin.
      Namun diakui atau tidak, level yfr setelah ditinggalkan paduka hohe. Jauh menurun.

      Guest
    • Mantap om nugie….keplak2 in aja para nyinyiers yang lagi senang junjungannya lagi diatas…giliran junjungannya lagi terpuruk ganti nama deh….hehehehehehe

      Guest
    • @Nugie
      mereka taunya Rossi itu dewa sehingga gak boleh salah, padahal dia juga manusia biasa, yang gak luput dari kesalahan. intinya nyinyir sampe akhir hayat deh

      Guest
    • Nah pada titik itulah akal sehat sudah hilang….
      Kalo ane realistis soal ‘Il Decimo’ nya Vale, pasti diejek “Fans macam apa lu?!” …

      Hehehe 😀

      Editor
    • Oh pantes fan rossi sampe masuk clubnya toh…..pantes suka hapusin komen2…iritasi toh…dulu2 dari jaman nih blog lahir saat yg punya pake ninja sampe blog2 pada main ke pabrikan…nih blog, iwanbeneran, satar itu paling anti deletin komen2…ini yg membedakan dgn yg satu itu yg suka deletin komen krn fia ga bisa tidur diinget2 terus …dari yg sebelumnya “katanya penemu blog” menjadi punah

      Guest
    • Kan gue punya wewenang pak Suryadi yth.
      Dan lu gak tau soal upaya blogger yg pengen nyaring komentar kan?
      Selama komentar gak menyulut gak akan gue hapus.
      Silahkan berpendapat apapun, saya gak peduli, masih bisa tidur nyenyak kok.
      Hihihihi….

      Editor
    • @holyday
      hai cerdas, tugas moderator adalah menjaga diskusi menjadi bersih dan sesuai dengan artikel. kalau isinya nyinyir dan celaan, apa itu masih diskusi? you know kan arti nyinyir? asal bunyi tanpa di-back up dengan fakta. perluas lah wawasan mu nak

      Guest
    • makan tuh yang komen ga cerdas, ketauan ente fans garis keras yang ga tau arti balap sesungguhnya
      Saya juga fans VR46 dengan segala hormat kepada fans lainnya tapi masih dengan akal sehat, mengidolakan bukan berarti menjadikan tuhan, kalau soal berita kaya gini langsung deh fans2 sebelah caci maki bukan di pahami isi beritanya

      Guest
    • ketahuan kualitas ente tong @holyday ckckckc
      beda pendapat dicap fans VR.
      adakah fans VR yang menyinggung nama marquez, gw rasa di sini tidak ada, karena mereka fans normal tidak akan menjelek-jelekkan lawan idolanya. gak ada untungnya nyinyirin orang lain, mending fokus sama diri sendiri dan idola lu aja. cerdas dikit dong

      Guest
    • Wkkk ada yg ikut2an sok bijsk gk inget pa ya puluhan komenya juga sering dihspus karena mantik perselisihan ..#gambling msna komen gambling

      Guest
  8. sebelom seri brno ceko semua orang memuja muja yamaha, yamaha lagi masalah aja bisa gerecokin marquez. apalagi kalo sudah gak ada masalah ?
    tapi semua orang lupa, yamaha konsisten tahun ini bisa podium dan tim movistar nya peringkat 1. itu semua karena musuh utama marquez tahun kemarin yaitu dovi lagi kena masalah mental yang naik turun, si lorenzo beberapa kali salah pilih ban depan. tapi ketika dovi dan lorenzo kembali ke treknya, disitu lah kelihatan aslinya yamaha musim ini. ducati naik turun aja sulit menang, apalagi kalo ducati lagi naik ? inget paruh musim kedua ini banyak trek yang cocok sama honda dan ducati.

    Guest
  9. waduh, kalau salah satu solusi yamaha 2018 ini dengan utak-atik IMU bermodalkan YEN bakal berat wak taufik, coba kalau modalnya DOLLAR, baru deh yamaha mampu.
    #KipasKipasDollar

    Guest
  10. Ane gak ngerti mesin balap, tapi kalau yg ane tahu semakin banyak request Pebalap.. .. semakin puyeng mekanik .. ..!!!!!!

    pppfffftttttt 😂✌😂

    Guest
  11. badul 4 silinder sampe terlalu ringan buat 1000cc bahanya dr apa ini. gak kebayang betapa mahalnya part yg terpasang di mesin Gp

    Guest
    • di mana-mana crankshaft inline 4 pasti lebih berat dari V4, panjangnya aja bisa beda 2 kali lipat

      Guest
    • Mesin V4 memang punya konfigurasi bandul crankshaft yg lebih sedikit dibanding inline 4, mungkin itu kamsudnya ya bro

      Administrator
    • ohh iya, aing bacanya kurang teliti. maaf mbah, yang jelas crankshaftnya pasti forged steel, gak mungkin pakai titanium. soal massa crankshaft kayanya bisa diatur sesuai kebutuhan, tanpa mengurangi kekuatannya.

      Guest
  12. mungkin merubah setingan CoG dari yamaha M1 bisa sedikit mengurangi masalah spin ban belakang…
    kita tahu kalau mesin inline itu cenderung lebih berat ke depan..beda dengan mesin V yang CoG nya bisa dikatakan seimbang…

    Guest
    • yap ini bisa dilakukan, setingan sasis . . secara sasis tidak dibekukan pengembangannya
      cuma memang harus berfikir menyeluruh, perubahan cog bisa jadi akan berefek ke hal lain . . takutnya spin hilang, masalah lain menyusul

      Administrator
    • analisa ngawur saya sih begini…
      yamaha terakhir juara itu di tahun 2015 dimana masih memakai knalpot yang panjang..yang mana kedua pembalapnya sangat kompetitif…

      begitu di tahun 2016 sampai sekarang memakai knalpot pendek (slash cut) justru yamaha malah sering bermasalah dengan traksi ban belakang…dimana saat tahun 2016 paduka hohe juga struggle…

      mungkin yamaha bisa kembali ke knalpot panjang agar menyeimbangkan bobot antara depan dan belakang…

      ini analisa ngawur saja….

      Guest
    • menurut gw, desain knalpot dan mesin sudah disesuaikan, jadi tidak mungkin merubah desain knalpot tanpa mengubah desain mesin.

      Guest
    • Yamaha 2015 bukannya udah pake knalpot slash cut ya? Soalnya seinget ane terakhir Yamaha pake knalpot panjang kan tahun 2014 gan

      Guest
    • Kalau ngubah titik cg, karakter motor akan berubah signifikan, cg sangat berpengaruh, rata2 pusat cg ada di rider, jdi handling motor netral, dan agility bagus, kalau d buat ke belakang, depan jdi nose heavy, susah nurut n cenderung understeer, kalau d buat kedepan, saat nikung buritan jadi liar, dan pengereman keras susah jdi 1 garis, ban belakang menari nari, CMIIW analisa ane aja sih itu
      Memeang gakda motor paling hebat atau apalah, semuanya adalah optimalisasi dan kompromi, karna mungkin power n topspeed honda n ducati terlalu digdaya untuk M1 maka M1 ikut jejak mereka, ternyata bikin masalah baru…
      Sangat make sense komen sebelumnya kalau yamaha memang berusaha mengejar honda n duc d lintasan lurus, tpi dampaknya ternyata negatif

      Guest
  13. Masalahnya tes pra musim kebanyakan di asia yg sirkuitnya gede, traksi bagus. Cuma 1x aja di valencia (yg mewakili sirkuit kuno di eropa). Bagus di qatar, sepang, belum tentu bagus di jeres, brno.
    Wajar aja sih kalo ada salah pilih mesin.
    Namun diakui atau tidak, level yfr setelah ditinggalkan paduka hohe. Jauh menurun.

    Guest
  14. dari dulu saya sudah ngasih comment
    http://tmcblog.com/2018/06/24/penjelasan-pembeda-menang-dan-strugglenya-jorge-lorenzo-yang-hanya-100-an-e-saja/

    Masalahnya Crossplane crankshaft M1 saat putaran tinggi, gaya down forcenya kecil, ini mengurangi traksi ban terutama saat memasuki tikungan. Itulah sebabnya M1 rossi masih struggle & bergantung aero device.

    desain cranksahaftnya yang bermasalah, mau diutak atik elektroniknya kaya gimana juga percuma, tetap saja ban spining coz traksinya kecil…

    Guest
    • Berarti ya yfr harus surrender sampai musim 2018 selesai. Dan motor 2019 harus design ulang di bagian core engine ini…

      Pabrikkan lain sudah bersiap lebih dulu buat 2019…contoh MM93 yg di bekali 1 meain 2019 dr 4 mesin yg ready to use…

      Berat…

      Guest
    • hmmm menarik juga. benar juga yang situ bilang, kalau motor sedang stasioner dan di gas pasti ada gaya yang menggerakan motor, bisa ke samping atau ke bawah. paling gampang sih liat aja BMW R9T, keliatan banget efek dari gayanya.

      yah intinya mesin inline 4 lebih sulit untuk dikendalikan. mau menggunakan crossplane crank untuk membenahi masalah throttle response malah terkena masalah lain seperti M1, kurang downforce. kalau V4 terutama 90 degree memang secara natural sudah mereduksi gaya2 first order, sedangkan crossplane harus menambah balancer yang jelas menambah rugi2 power.

      Guest
    • padahal honda juga backward, berarti sebenarnya asalkan desain tepat counter rotating bukan masalah buat downforce. kalau engine bisa lebih ditidurkan bisa tuh menambah efek downforce ketika berakselerasi. kan muaranya dari akselerasi pembakaran. kalau piston berakselerasi ke bawah, engine (dan chassis serta motor) berlawanan ke atas. mesin V honda dan ducati cuma 2 piston ke atas, yang 2 lagi ke depan. yamaha 4 piston ke atas semua. mau gk mau engine inline 4 paling kecil downforcenya.

      Guest
  15. RC16 bukannya jg pny masalah yg sama, over spin ban belakang? Utk Suzuki, bukannya tahun 2017 msh pakai mesin 2016 era Vinales krn sdh pede dng mesin tsb? CMIIW

    Guest
  16. sebenarnya sich karena kompetitornya kebih kuat aja,

    ducati karena sekarang kebih baik, honda sedikit leboih baik dan karena ada MM

    coba kalu honda dan ducsti spt 2015, yach m1 menang

    Guest
  17. Kelewat pede bereksperimen dengan mesin tanpa memperhatikan kecocokan dengan elektronik, apalagi tahun depan imu pun disegel, apa ga tambah pusing, harusnya bikin hitungan mesin yang sejalan dengan elektronik, biar elektronik bisa handle

    Guest
  18. Saya nebak,yamaha sengaja buat crankshaft ringan biar akselerasi bertambah dan itu terbukti. tapi ecu MM mreka lambat cari ahlinya sehingga tdk bisa fix 100%. Nah apakah yg akan dilakukan yamaha mula balapan depan, biar spin ban blkg bsa ditekan,..klo scr kasar mgkn bs ubah bobot ke rear,bikin agak rendah bagian belakang. Entahlah lagi. The doctor pasti pusing mikirnya,krn dsrh cri ahli ecu dr dulu gak mau. trus tahun dpn imu direset. pasti galau mekanik semua. Mgkn yamaha bakal tetap bersaing di klasement 2,3 musim ini.

    Guest
    • Ducati sudah kompetitif banget nih bro.. Di trek yang mereka sering inferior aja bisa bagus banget progressnya
      Bisa dibilang Yamaha sedang dalam masa paling kelam selama kiprah mereka di grandprix.

      Editor
    • gan, ini cuma hipotesa. orang berpengalaman pasti bisa lah berpendapat seperti itu hanya dengan informasi yang terdapat di media massa

      Guest
    • Yap soal crankshaft ringan yang behubungan dengan spin ban belakang sebenarnya secara inersia adalah sebuah ‘rumus umum’ .. cuma saya juga heran kenapa saya juga baru kepikiran .. kalo mau di terlusurin lagi bisa ke arah jumlah bandul antara inline 4 dan V4 … ini menarik ..

      Administrator
  19. menurut saya emang mungkin hipotesis om neil bener tapi di sisi lain dengan perkembangan ECU yang sekarang sangat mungkin untuk kontrol spin ban dari ECU, dan kalo dari ECU bisa di ubah untuk semua track bisa pake spin atau gak cuma parameter ECU MM super kompleks tidak seperti ECU motor masal paling terbaik adalah belajar terus ECU MM solusi paling baik atau bajak aja kaya sebelah

    Guest
    • Mksud ente duabelah bkn sebelah
      Karena yg disinyalir mbajak kn 2 team.. factory honda dan factory ducati

      Guest
  20. Mesin biasa ? Dari katanya juga sudah “biasa”. Mesin moto gp jauh lebih kompleks. Bobot crankshaft lebih ringan dibilang mesinnya salah? Menjadi salah itu karena tidak bisa dimanfaatkan. Jika bisa menghandle dengan baik yakni penggunaan ecu dengan optimal, saya rasa spinning di ban belakang M1 akan berkurang.

    Guest
  21. solusinya adalah
    bajak orang dalam MM
    atau kembali pakai brigestone😂😂😂
    karena saya merasa sejak michelin datang Yamaha kesulitan

    Guest
  22. Akh yamaha mungkin tinggal pasrah saja dgn otak atik ecu dan imu yng ada dirasarasa kalo hantam ama vulus itu bukan jalan yamaha dan pasti rugi dgn sekelas pembalap vale dan vinales

    Guest
  23. Yamaha tuh g cocok pke michelin krn lemah ban blkg dan honda g cocok pke bridgeston krn lemah ban dpn. nah? apakah lbh baik blh ad 2 pabrikan ban aj dimotogp tahun dpn. info smpat bc diblog.

    Guest
    • 2013 software ecu inhouse
      10 race brturut2 juara pod. 1 jurdun sblm seri berakhir
      2014 jgdemikian sdh jurdun saat di seri jepang.
      Dan itu saat ban nya msh bridgestone.
      Perkara software ecu aja si sbnernya

      Guest
    • Kebalik saya rasa, honda itu netral antara depan belakang, ducati lebih prioritas ban belakang, yamaha di era jorge lebih prioritas ban depan

      Marc di era bridgestone lebih mengutamakan braking, karena ban depan BS bagus, istilahnya fast in slow out

      Nah di era michelin kebalikan dari BS, ban belakangnya bagus tapi ban depannya g sebagus BS
      Sangat menguntungkan ducati yang tidak terlalu memforsir ban depan, honda struggle di awal pake michelin, karena keunggulan braking tidak bisa dimanfaatkan optimal, hingga sedikit2 merubah geometri dan ride style, dari fast in slow out jadi slow in fast out, karena honda netral jadi lebih mudah merubah orientasi pemakaian ban

      Nah, masalah yamaha lebih kompleks,
      Yamaha bisa dibilang menikung dengan ban depan, butuh kepercayaan tinggi kepada ban depan
      Nah ketika ganti ganti ke michelin, yang ban depannya ga sebagus BS, jelas yamaha struggle
      Namun di awal struggle ini tidak terlihat, karena performa honda drop akibat perubahan orientasi
      Ketika honda sudah bisa beralih dengan mengoptimalkan performa ban belakang, baru terlihat performa yamaha yang sebenarnya

      Jadi, honda dan ducati sudah bisa memanfaatkan keunggulan traksi ban belakang michelin, sementara yamaha masih beradaptasi.
      Yap, ramuan power, traksi, dan geometri motor itu harus pas agar bisa mendapatkan akselerasi maksimal
      Ingat honda pernah mengalami spinning di musim 2017, karena ramuan geometri motor gak selaras dengan power dan traksi ban, itulah yang dialami yamaha sekarang

      Guest
  24. to: bro nugie
    bro nugie ini kalau nulis artikel bahasa (dan typingnya) enak diikuti, cenderung pakai EYD gitu (imho), santun, ngalir gak banyak (bahkan hampir gak ada) typo, bahkan kapitalisasi aja diperhatikan. tapi kok kalau pas ikut komen gaya bahasa yg dipakai trus berubah banget gitu ya bro? pakai ‘lu’ gitu. saya tidak bicara boleh gak boleh ya bro nugie, cuman beda aja rasanya.

    Guest
    • Kalau di artikel supaya enak dibaca, dan beberapa pembaca ada dari luar negeri supaya mudah dipakaikan Google translate… Itu pertimbangannya..
      Kalau kolom komentar sih lepas aja, gaya bahasa macam lagi ngobrol sama kawan di warkop mas bro..

      Ente ane, gue elu, saya anda… bebas..

      Editor
  25. Sampai segitunya ya mas, saya jg sdh curiga semenjak m1 mau update mesin. Dr situ bknnya kompetitif mlh jeblok. Msh jos masao furusawa kyknya.

    Guest
  26. Oke itu hanya opini…

    bandul produk massal Yamaha terkenal berat ditunjang dgn Dgn durability yg kuat …

    mungkin juga kalau di motor M1 Yamaha Movistar pakai bandul ringan yg bermuara pd power spinning akselerasi yg berlebih..

    Guest
    • masih mending sih gan, yang pekok2 biasanya otaknya gak sampe untuk diskusi di artikel ginian, soalnya levelnya cuma sekedar hate speech. kalo gitu mah anak sd juga bisa kaleeee

      Guest
  27. Diluar konteks trit ini…gw mau nyinggung sedikit tim KAYA RAYA namun KERAS KEPALA..😂😂😂

    KTM…masih kah keukeuh buat pake teralis pagar buat rangka motogp luh…???😜😂😂

    Ducati menyerah dan liat sekarang hasilnya…!😋

    Semoga cepat tobat…atau kapok..

    Guest
  28. btw … untuk engine 2019 … yfr apa sudah mulai uji coba engine belum yah , kalo ga salah kmarin masih di fairing aja ya ? … banyak banget materi-2 bagus hari ini di TMCblog.com …

    Guest
  29. Yg saya kuatirkan, permasalahan sesungguhnya ada di konfigurasi INLINE yg mungkin memang selamanya gak cocok sama Michelin..

    Nah loh??

    Guest
    • Klo liat hasil record nya sih gk ada madalah dg bsn misel… cumsn kompetitornya sja yg melesat ysmsha jln ditempat

      Guest
  30. Dari semua opini yang telah tersaji di kolom Komentar, tinggal siapa nih yang opininya paling mendekati? Caranya, tes praktek langsung

    Guest
  31. Kayaknya masao furusawa harus turun gunung,krn dialah bapaknya M1..dan dialh yg nyuruh rossi ngetest 4 mesin berbeda awal pindah k yamaha..rossi memilih crossplane ini,yg buat geleng2 masao furusawa rossi memilih mesin yg lambat,yg penting stabil dan mudah dkendalikan..
    Nice info wak haji & masbro nugie cmiww

    Guest
  32. JL99 solusinya buat Yamaha untuk kembangin M1 kearah yg baik. saat ini M1 serasa hilang speed corneer dan akselerasi yg sdh jd ciri khas M1.

    Guest
  33. Kayaknya masao furusawa harus turun gunung,krn dialah bapaknya M1..dan dialh yg nyuruh rossi ngetest 4 mesin berbeda awal pindah k yamaha..rossi memilih crossplane ini,yg buat geleng2 masao furusawa rossi memilih mesin yg lambat,yg penting stabil dan mudah dkendalikan..
    Nice info wak haji & masbro nugie
    Salam gasspooll

    Guest
  34. Suka tidak suka memang sulit untuk melupakan seorang VR.
    FBM selalu membandingkan seorang Marquez dengan VR, kenapa harus VR yang sudah tua sebagai patokan kesuksesan, pasti kata-kata semenjak Marquez masuk MotoGp maka VR puasa gelar, padahal era VR sudah berhenti sebelum Marquez masuk kelas MotoGp.

    Yang jelas ketika duel VR dan Marquez untuk podium 1 maka VR yang menang, tetapi jika duel untuk berebut podium 2 atau 3 maka Marquez yang menang (podium 1 diamankan JL).

    Guest
  35. Kalo waktu tangki bahan bakar dipindah ke belakang waktu itu buat ngatasin spin ban belakang juga bukan wak?atau ada bocoran barangkali selain yamaha ngetes bentuk fairing kemarin2 ini buat ngatasin problem di musim ini?mungkin pemberat2 atau mainin imu gtu wak?

    Guest
  36. Dan feedback Rossi lebih berharga daripada Vinales, kata Meregalli …

    Rossi : Vinales tidak punya sejarah dengan Yamaha, sedangkan aku sangat paham evolusinya. Menurutku M1 2017 kehilangan sesuatu.

    Kayaknya dua-duanya bukan rider yg jago develop motor jaman now. Hehehe

    Meregalli
    Galbusera
    Forcada

    Kayaknya ga kerja maksimal.

    Forcada udah fix ninggalin Vinales. Mudah mudahan aja penggantinya cocok.

    Guest
  37. Masalah yamaha cuma satu, cuma mendengar masukan rossi…
    Jaman vr & jl, malah jl yg sering juara…
    Sejak vr balik ke yamaha jadi manja. Yamaha ga ada bagusnya, selalu ada yg kurang, tapi setelah di update malah tetap vr ga juara…
    Dengan gelar the doctor harusnya malu tuh…

    Tadinya masalah ecu software, sekarang masalah crank…
    Trus masalah ban, nanti masalah apalagi?

    Sebaiknya yamaha udah mulai start membangun motor untuk 2019, percuma memperbaiki yg salah dari awal.
    Rossi mending pensiunlah, ga pantes balapan cuma jadi tontonan ga mutu…

    Guest

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.