TMCBLOG.com – Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa mulai musim 2022 kita akan memulai era baru dalam balapan kelas Intermediate sepeda motor produksi massal World Supersport dan dimulai sejak musim 2022 nanti akan ada banyak tambahan motor yang akan ikut serta, dengan tidak hanya diikuti Yamaha R6, Kawasaki ZX-6R atau MV Agusta F3 765. FIM dan DWO telah merilis secara terbuka dalam sebuah Draft mengenai motor motor apa saja yang diperbolehkan ikut serta pada kategori WSS mulai tahun depan.

Kawasaki ZX-636R

jadi sob, Pada tahun 2022 dua kategori akan hidup berdampingan dikelas Supersport : Model yang telah digunakan sejauh ini  dan Model Model yang akan di Homologasi sebagai Supersport Next Generation, yang mencakup sepeda motor baru.

Secara umum varian motor yang tercantum pada list memang memiliki berbagai macam kubikasi dan platform jumlah silinder dari mesinnya. Yang tertinggi adalah Ducati Panigale V2R yang memiliki kapasitas mesin 955 cc sampai Yamaha R6 yang 600 cc. Pada draft tersebut selain nama Ducati Panigale V2R dan motor motor 600 cc lama, ada pula beberapa motor baru (Supersport Next Generation) lainnya yakni :

  • Kawasaki ZX636R yang menurut dokumen draft baru akan hadir di tahun 2023 nanti. Sementara Kawasaki menurut draft masih akan memakai ZX-6R 600 cc di 2022.
  • MV Agusta yang terlihat akan menghadirkan dua model homologasi yakni F3 800 dan F3 Superveloce yang dua duanya menggunakan mesin 3 silinder 800 cc.
  • Triumph yang akan menghomologasikan Triumph ST765RS yang bermesin 3 silinder 765 cc.
  • Suzuki yang sebenarnya sudah memasukkan GSX-R750 dengan mesin 4 silinder 750 cc, namun status nya sementara ini masih pending.
Triumph ST765RS

Semua sepeda motor yang akan bertanding dengan nama Supersport Next Generation harus dilengkapi dengan throttle elektronik Ride By Wire. FIM menetapkan bahwa setiap pabrikan yang tertarik untuk memasukkan salah satu modelnya ke dalam kategori Supersport Next Generation baru harus mengajukan permintaan resmi yang akan dipelajari oleh FIM dan Organisasi Dorna WorldSBK. Selain itu, peraturan sementara juga menetapkan bahwa pada tahun 2023 semua sepeda motor yang membentuk grid harus berjalan di bawah peraturan Supersport Next Generation.

Silahkan simak deh, kubikasinya sangat beragam. Ini tentu butuh regulasi penyeimbang atau disebut juga equalizer. Dorna WSBK Organization (DWO) ternyata tidak hanya melihat kubikasi mesin sebagai parameter untuk mengukur performa standar dari masing-masing motor yang dihomologasikan untuk regulasi teknis WSS next generation ini.

DWO menggunakan banyak banget parameter untuk menyusun alogoritma pengukur keseimbangan perfroma dari motor. Beberapa parameternya yang bisa TMCblog baca adalah : Laptime relatif dibandingkan kompetitornya, Top Speed yang tertangkap speed trap, hasil balapan, momen saat memimpin balapan dan lain-lain.

Demi menyetarakan performa sepeda motor yang digunakan di kejuaraan World Supersport, Dorna sedang merancang sebuah sistem dan regulasi penyeimbang/equalizer khusus yang memasukkan beberapa variabel berikut ini :

  • Parts konsesi
  • Mapping limiter torsi dengan menghadirkan rev limit
  • Berat minimum
  • Pembatas asupan udara
  • Batas modifikasi

Menurut draft yang TMCBlog baca, faktor dan parameter penyeimbang bisa saja diperbarui di akhir setiap event (seri) ke-3 asalkan setidaknya masih ada 3 seri tersisa di depannya. Dua dari beberapa variabel penyeimbang/equalizer yang akan dipakai adalah pembatas RPM mesin (rev limiter) dan bobot motor.

Draft belum sepenuhnya final, namun sobat bisa lihat dan memperkirakan berapa nanti limit dari motor-motor baru terutama motor dengan kubikasi mesin yang cukup besar seperti Ducati Panigale V2R yang memiliki power lebih besar 35 hp dari R6 dalam Konfigurasi Standar Streetnya terlihat akan dikebiri Oleh Ecu Championship Mectronik MKE7 hingga hanya bisa meraung sampai 11 ribuan Rpm saja.

Sementara mesin mesin 4 silinder 600 cc sepakat di limit sampai 16.400 Rpm. Untuk MV Agusta F3 800 / Superveloce sendiri akan dibatasi pada 14 ribuan Rpm. Sementara Triumph ST765RS akan dilimit juga di 14 ribuan Rpm.

Penyeimbang kedua adalah bobot yang untuk sementara ini pada draft menyebutkan akan hadir 3 jenis bobot yakni Hard Minimum, Soft Maximum dan Bobot Kombinasi Minimum. Bobot Kombinasi Minimum adalah jumlah minimum bobot  pengendara (termasuk perlengkapan balap lengkap) dan sepeda motor yang digunakan. JIKA sepeda motor telah mencapai atau melampaui ‘Soft Maximum’ maka Bobot Kombinasi Minimum perlu tercapai. Namun bobot sepeda motor saja tidak diperbolehkan kapan pun berada di bawah ‘bobot Hard Minimum‘.

Selain rev limit dan bobot, hadir juga regulasi mengenai jumlah alokasi mesin yang rencananya akan berbeda beda di setiap grup (400-600 cc 4 silinder, 601799cc 3 silinder dan 800cc ke atas untuk 2 silinder) Wahh seru nih, namun patut dicatat, yang kita bahas di artikel ini masih berupa Draft yang akan diumumkan finalisasinya di kemudian hari oleh DWO. Silahkan share opinimu untuk draft regulasi ini sob.

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

33 COMMENTS

    • Kalau minimal produksi tiap modelnya harus yang spec on road (bukan race only model macam zx6r atau r6 sekarang) buat ikutan wss 600an ini

      Sedikit banyaknya bisa memancing pabrikan buat masi ngelirik kelas ini sih. Adu aduan gengsi masih ada tempatnya

    • Harusnya gak boleh naked bisa modif bebas balapan.

      Katanya balapan produk masal, ya yg naked gak boleh pake fairing.

      Dan d wsbk juga harus swing arm gak boleh ganti, apa yg d jual, itu yg d balapkan

  1. Petronas FP1 boleh dong ya nyemplung ke kelas GJ ini,mungkin bakal sukses siapa tahu🤷‍♂️

    Motor yg lahir di masa yg salah 😅

  2. Buset 3 silinder 800cc aja mulai kerasa ganjal, 2 silinder 955cc kirain udah lawakan paling wadidaw

    Ini ada wacana 750cc 4 silinder mau dicemplungin juga ? Akwkakwk

    • Paling lawak emg GSX750R ama Ducati V2 sih. V2 kalo dituning pake regulasi wsbk dan dikasih bobot ringan aja diatas kertas bisa kompetitif di wsbk minimal papan tengah. Power std 150 hp kasih tuning maksimal bisa dapet 190 bahkan 200 hp, udah setara ZX10RR ama R1 standar. Kasih bobot ringan kaya regulasi jaman 999R udah bukan mustahil kompetitif ato regulasi motogp jadul yg mana 2 silinder boleh sangat ringan.

      Ini malah dipaksa main kategori ‘menengah’, padahal Ducati sendiri bikin V2 buat di plot jadi superbike ramah, ramah tenaga bagi yg takut buasnya V4 series jg ramah kantong buat yg ga sanggup beli V4 series. Kasarnya V2 adalah alternatif dari V4, bukan ade V4. Adenya ada noh Ducati Supersport, kenapa ga masukin motor itu aja.

      • Iyalah. Gak usah sampe ke HP Om, liat torsi standarnya aja udah nggilani bedanya, sekali gas auto dikentutin semua musuhnya

        Mesin yang kecil kudu gantung gas setinggi angkasa, lalai dikit auto posisi buncit. Itu juga over stressed mesinnya yakin dah 😂

    • Ada kemungkinan ikut kok dimasa depan, KTM lagi bikin RC8 versi murah. Entah cc bakal ditarug berapa, kalo cuma kisaran 600-700cc sih itu masuknya ke Supertwin, masuk supersport jelas empot2an. Tapi kalo cc sama kaua RC8R skrg bahkan lebih tinggi, bisalah bejaban ama motor 2 silinder lain.

  3. Itu dgn bobot sama kayanya sulit R6 dan 600cc klasik lainnya utk kompetitif disaat pabrikan lain ketemu settingannya. Mgkin 600cc 4 cyl bisa tetep bejaban asal dikasih bobot 150an kg, tapi itu kan udah ranah prototipe, selama tangki harus std sulit dapet bobot segitu.

  4. Pertanyaannya…
    Lalu jika sebuah motor TIDAK mencapai soft maksimum, katakanlah 170, apakah TIDAK perlu mencapai bobot kombinasi minimum?

    Kalo iya bukannya malah jadi jomplang ya?

  5. Rumitnya. Enakan buka kelas FFA. Mau ber-charger, nos, jenis trike, atv, skutik, ev, custom pakai mesin F16 pun semua bs ikut..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.