TMCBLOG.com- Kemarin saya menerima pernyataan menarik di X dari sobat tmcblog yang pertanyaannya adalah : ” Punya tim balap MotoGP ini punya keuntungan secara finansial gak sih ? Mengingat biayanya sangat mahal, atau tim balap hanya mainan Sultan utk bakar uang atau ajang iklan tim pabrikan? hmm, Pertanyaan yang sangat menarik!
Seringkali kita melihat kemewahan di paddock dan berpikir ini adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Tapi kenyataannya, model bisnis tim MotoGP itu unik dan cukup “berdarah-darah”.
Secara garis besar, memiliki tim MotoGP bisa memberikan keuntungan finansial, tapi jalannya sangat sempit. Berikut adalah bedah dapur finansial tim MotoGP:
1. Tim Satelit: Berjuang demi “Titik Impas” (Break Even)
Bagi pemilik tim independen seperti Lucio Cecchinello (LCR), Herve Poncharal (Tech3), atau Valentino Rossi (VR46), tim balap adalah bisnis murni. Mereka tidak menjual motor ke pasar, jadi mereka harus untung dari operasional tim.
Subsidi Dorna: Dorna Sports memberikan insentif sekitar €6,5 juta hingga €7 juta (sekitar Rp110 – 120 Miliar) per tahun untuk setiap tim satelit. Uang ini berasal dari hak siar TV.
Sponsorship: Ini adalah nyawa tim. Tim satelit harus mencari sponsor (seperti Castrol atau PRO-HONDA di LCR) untuk menutupi sisa biaya operasional yang bisa mencapai €10-15 juta per musim.
Keuntungan: Jika pemilik tim pintar mengelola efisiensi (misal: pengeluaran €12 juta tapi dapat sponsor €14 juta), mereka bisa mengantongi keuntungan bersih. Beberapa bos tim satelit dikenal bisa hidup sangat mapan dari selisih ini, tapi risikonya tinggi—jika sponsor utama cabut (seperti Idemitsu), tim bisa langsung goyang.
Untuk Team Satelit, tmcblog coba buatkan simulasi kemungkinan pengeluaran dan pemasukannya secara general ya . . Untuk menyewa motor dari pabrikan (dalam hal ini Honda), tim satelit seperti LCR tidak bisa sembarangan. Harganya sudah dipatok oleh regulasi agar kompetisi tetap sehat.
Berikut adalah rincian biaya sewa motor Honda RC213V untuk satu musim:
A. Paket Sewa “Leasing” Motor
Berdasarkan aturan Dorna, pabrikan wajib menyediakan paket motor untuk tim satelit dengan harga maksimal sekitar €2,2 Juta (sekitar Rp37 Miliar) per pembalap. Karena LCR punya dua pembalap (Zarco dan Moreira), maka total biayanya mencapai:
Total Sewa: €4,4 Juta (Rp74 Miliar) per tahun.
Penting: Ingat, statusnya adalah SEWA. Jadi, di akhir musim, motor-motor itu harus dikembalikan ke Honda (HRC). Tim satelit tidak memiliki hak milik atas motor tersebut.
B. Apa Saja yang Didapat dari Rp74 Miliar Itu?
Harga tersebut bukan cuma buat “pinjam” motor, tapi meliputi:
2 Unit Motor per Pembalap: Total ada 4 motor siap pakai di garasi LCR.
Update Komponen: Jika Honda merilis fairing baru atau swingarm baru selama musim berjalan (sesuai kontrak).
Technical Support: Engineer resmi dari HRC yang standby di dalam garasi LCR.
C. Biaya yang Belum Termasuk (The “Hidden” Costs)
Ini yang bikin pusing kepala Lucio Cecchinello. Angka Rp74 miliar tadi baru “tiket masuk” punya motor. Biaya operasional lainnya jauh lebih mahal:
Biaya Crash (Kecelakaan): Ini yang paling ditakuti. Jika pembalap crash dan motor hancur, tim satelit harus membayar ganti rugi komponen. Satu set fairing karbon bisa seharga mobil LCGC, dan satu set rem keramik harganya bisa menyentuh ratusan juta rupiah.
Gaji Kru & Logistik: Membayar mekanik, biaya hotel, dan biaya pengiriman kontainer keliling dunia. Total operasional tim menengah seperti LCR bisa mencapai €10-15 Juta (Rp170 – 250 Miliar) per tahun.
D. Kenapa LCR Mau Bayar Mahal ke Honda?
Padahal saat ini Honda lagi “susah” menang, kenapa tidak sewa Ducati saja yang lagi gacor?
Diskon Pabrikan: Biasanya, jika tim satelit bersedia membantu riset (seperti LCR), pabrikan memberikan subsidi atau diskon biaya sewa.
Gaji Pembalap: Seringkali, gaji pembalap top seperti Johann Zarco dibayar langsung oleh HRC (pabrikan), bukan oleh LCR. Ini sangat meringankan beban finansial tim.
Perhitungan Kasar Ekonomi LCR 2026:
Pengeluaran: Sewa motor + Operasional = €14 Juta
Pemasukan: Subsidi Dorna (€7 Juta) + Sponsor Castrol & Pro-Honda (€8 Juta) = €15 Juta
Net Profit: €1 Juta (Sekitar Rp17 Miliar) per tahun.
Untung Rp17 Miliar terdengar besar, tapi itu adalah angka yang sangat tipis untuk bisnis dengan risiko setinggi MotoGP. Sekali ada pembalap yang sering crash parah, keuntungan itu bisa langsung ludes buat beli sparepart.
2. Tim Pabrikan: Ajang Iklan & Laboratorium Berjalan
Bagi Honda (HRC), Ducati, atau Yamaha, tim MotoGP adalah biaya pemasaran (Marketing Expense) dan Pusat Riset (R&D). Mereka hampir tidak pernah “untung” secara langsung dari balapan.
‘Bakar Uang’ : Tim pabrikan bisa menghabiskan lebih dari €40-50 juta per tahun. Hadiah juara dunia pun tidak akan menutupi biaya ini.
Tujuan Utama: “Menang hari Minggu, Jual hari Senin” (Win on Sunday, Sell on Monday). Keuntungan mereka didapat dari meningkatnya penjualan motor masal di seluruh dunia karena citra juara di MotoGP.
Transfer Teknologi: Teknologi winglet, seamless gearbox, hingga manajemen elektronik di motor harian kita saat ini adalah hasil “bakar uang” mereka di MotoGP bertahun-tahun lalu.
Apakah Ini Hanya “Mainan Sultan”?
Untuk beberapa orang, iya. Memiliki tim balap sering kali dimulai dari gairah (passion). Namun, di level MotoGP, ini sudah menjadi industri profesional yang sangat terukur.
Nilai Aset: Memiliki “slot” di grid MotoGP sangat berharga. Dorna membatasi jumlah motor di grid (saat ini 22 motor). Jika seseorang ingin punya tim baru, mereka tidak bisa tinggal daftar, tapi harus membeli slot tim yang sudah ada. Nilai slot ini terus naik, menjadikannya investasi jangka panjang yang menggiurkan jika suatu saat tim dijual (seperti tim RNF yang diambil alih Trackhouse).
Jadi, bagi tim satelit seperti LCR Honda, Tech3, Pramac atau Trackhouse Racing, bergabungnya sponsor baru  bukan cuma soal gaya-gayaan, tapi soal stabilitas bisnis agar mereka tetap bisa menggaji ratusan staf dan menyewa motor dari Honda tanpa harus nombok.
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog










Habis berapa Triliun rupiah ya 🤑
Kalkulasi susah kalo berhadapan dengan kalkulasi ahahaha
Berhadapan dengan passion maksud ane
Rans sebenernya bisa ini
Ada juragan yg kaya raya sdh mulai bikin tim balap loka bro + sponsorin Gresini. juragan ini sdh tidak diragukan lagi kekayaannya, pernah take over kota Paris dan punya jet pribadi.
Tim RNF yg ngenes sih sampai gagal bayar dan numpuk utang, serta konflik internal.
Tim yg cepet naik daun (jaman SRT Petronas dgn Fabio dan Franky), langsung gugur daun beberapa tahun kemudian.
Salahnya pindah ke kâ„¢