MotoGP Kalah Ramai dari F1 Padahal Balapannya Tak Kalah Seru? Davide Tardozzi Bongkar Boroknya!

TMCBLOG.com – Bro dan Sis sekalian, sebuah tamparan realitas yang cukup keras baru-baru ini datang dari dalam paddock MotoGP sendiri. Davide Tardozzi, Team Manager Ducati Lenovo yang terkenal blak-blakan dan ekspresif, melontarkan sebuah opini yang sangat menarik sekaligus menyentil Dorna Sports selaku promotor MotoGP.

Via Speedweek, Tardozzi menyoroti sebuah fenomena yang kontradiktif: Mengapa Formula 1 (F1) bisa begitu ramai, tiketnya super mahal tapi tribunnya penuh sejak hari Jumat, padahal dari segi aksi wheel-to-wheel dan intensitas balapan, MotoGP jelas tidak kalah seru (bahkan sering kali jauh lebih mendebarkan)?

Kegelisahan Davide Tardozzi: “Kita Melakukan Sesuatu yang Salah”

Tardozzi secara jujur mengakui rasa herannya melihat daya beli fans F1 yang luar biasa dibanding MotoGP.

“Saya melihat harga tiket F1 dan tribun yang penuh, dan itu membuat saya berpikir bahwa kita melakukan sesuatu yang salah. Saya terkejut melihat harga tiket Formula 1 dan, tetap saja, melihat tribun penuh sejak Jumat.”

Kalimat ini menunjukkan adanya gap yang besar dalam hal perceived value (nilai yang dirasakan) oleh konsumen. Fans F1 rela membayar berkali-kali lipat lebih mahal hanya untuk menonton sesi latihan bebas hari Jumat. Sementara di MotoGP, jangankan hari Jumat, terkadang memenuhi tribun di hari Minggu saja menjadi tantangan tersendiri di beberapa sirkuit Eropa.

Dilema TV Berbayar vs Kesadaran Publik (Public Awareness)

Salah satu faktor terbesar yang disoroti oleh Tardozzi adalah pergeseran hak siar ke Televisi Berbayar (Pay TV).

“Televisi berbayar tidak membantu. Tetapi industri ini harus bertahan, dan stasiun televisi berbayar membayar sejumlah besar uang, jadi penyelenggara akhirnya condong ke arah itu.”

TMCBLOG melihat ini sebagai pisau bermata dua yang sangat tajam bagi Dorna:

  • Sisi Finansial: Kontrak eksklusif dengan TV berbayar (atau layanan streaming premium) memberikan dana segar yang sangat besar untuk menyuntik tim-tim pabrikan dan satelit agar ekosistem balap tetap sehat.

  • Sisi Popularitas: Efek sampingnya fatal. Ketika balapan hilang dari TV siaran gratis (Free-to-Air), olahraga ini perlahan menghilang dari kesadaran publik jelata.

Kasus nyata terjadi di Italia. Negara yang menjadi benteng pertahanan dan kiblatnya MotoGP ini sempat mengalami penurunan animo penonton yang signifikan ketika akses menonton diubah menjadi berbayar. Anak-anak muda tidak lagi tumbuh dengan menonton aksi heroik pembalap di TV ruang tamu mereka secara gratis seperti zaman Valentino Rossi dulu.

Tantangan Agensi Pemasaran: Menjaga Keseimbangan

Lanskap media memang sudah berubah drastis. Di era digital ini, masyarakat sudah terbiasa berlangganan Netflix, Spotify, hingga aplikasi streaming balap. Namun bagi promotor MotoGP, tantangannya adalah melakukan tindakan penyeimbangan 

Jika MotoGP terlalu idealis mempertahankan Free-to-Air, duitnya tidak cukup untuk membiayai riset motor yang makin mahal (aerodinamika, ride height device, dll). Namun, jika 100% pindah ke TV berbayar, MotoGP berisiko “mati sunyi” karena tidak ada regenerasi fans baru dari kalangan akar rumput.

Apa yang dikatakan Davide Tardozzi adalah alarm bagi Liberty Media (yang saat ini dalam proses mengakuisisi Dorna/MotoGP). MotoGP punya produk yang sangat luar biasa seru. Salip-menyalip terjadi di setiap lap, pemenang sulit diprediksi, dan tensinya sangat tinggi.

Namun, MotoGP kalah dalam mengemas balapan ini menjadi sebuah “kebutuhan gaya hidup” dan tontonan yang eksklusif tapi tetap mudah diakses oleh massa. Menjual tiket mahal bukan sekadar menaikkan harga, tapi bagaimana membuat penonton merasa bahwa datang ke sirkuit sejak hari Jumat adalah sebuah kebanggaan dan pengalaman hidup yang tak ternilai, seperti yang sukses dilakukan F1. Silahkan dikunyah-kunyah opininya, dan bagaimana menurutmu bro sekalian? Apakah kamu sepakat dengan Davide Tardozzi?

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

21 COMMENTS

    • Itu yakin wak ada berita ross brawn bos F1 ke pramac ?? Bener2 meng efwankan motogp

  1. Apa seh sbenere yg di maksud opa tanjidor ini aku kok ga nangkep, berputar2 omongan ya…yg sy tangkep motogp skrg hnya bs di nikmati scr full dr tv berbayar tp apa f1 tidak… Sm sj kan malah kcenderungannya lebih eksklusif, krn ga ada di spotv, tp memang sprtinya fans dua hajatan motorsport ini sprtinya brbeda f1 lbih ke kalangan jetset klo motogp di klngan skuterjet wkwkwk mrk menganggap yg bs beli tiket f1 adlh sbuah hrga kegengsian yg sngat tinggi di antara kaum mreka sndri yg kdang bkan tntang keseruan acr itu sndri,tp trnyta jmlah klangan jetset ini jg bnyak….

    • Saya saja yang dulu selalu nonton live di tv, tapi beberapa musim ke belakang lebih memilih baca berita online, bahkan di rumah sudah tidak memiliki TV, memang zaman semua serba praktis dan canggih, tapi ada konsekuensi yang mesti di bayar

  2. Ha? Di F1 jg hak siarnya dipegang tv berbayar sejak zaman jebot, saat ini dipegang sky tv. Cm 3 negara yg nayangin F1 di tv free to air. Motogp ga bisa kya F1 karena emang dorna nya aja yg fokusnya ngeruk duit tanpa merhatiin kualitas event, makanya pas diambil liberty pun ttp ga ngaruh selama keluarga ezpeleta msh nemplok di situ. F1 bisa sukses karena sejak dulu eclestone udah bangun eksklusivitas, kualitas event selalu ditingkatkan, F1 jg aware sama isu2 global kya inklusivitas atau pemberdayaan perempuan, makanya F1 ttp relevan di mata audiens lama dan bisa narik audiens baru dari gen z bahkan gen alpha. Motogp? Sampe detik ini umbrella girl aja msh ada noh, di saat publik dan audiens balap modern melihat umbrella girl sebagai salah satu bentuk eksploitasi perempuan secara seksual, di F1 udah ga pake umbrella girl sejak 2018 dan diganti dengan grid kids, jauh lebih relevan secara norma dan sosial sekaligus numbuhin calon2 audiens baru di masa depan. Mekanik atau minimal kru paddock cewek di motogp? Kaga ada sama sekali. Di F1 bejibun mekanik cewek, apalagi yg cm kru paddock doang, lebih banyak. Supporting race untuk cewek di motogp? Kaga ada, world wcr malah nemplok di wsbk. Di F1 ada F1 academy sebagai supporting race khusus cewek. Klo mau dijabarin, banyak poin2 yg harus dikejar motogp klo mau setara dengan F1 dalam hal skala dan komersialisasi event supaya bisa narik audiens dalam jumlah masif.

    • bener, to be honest sebagai penonton uzur, sejal jama 2 tak dulu, melihat motogp sekarang ya hambar sekali, terlebih semenjak dominasi absolute pabrikan Eropa, alias Ducati Cup, sebagai orang awam, bau bau pertunjukkan monoton ya pas pabrikan ngga boleh pakai ECU Inhousenya mereka, meski alasan basi tetap saja hal ini mendowngrade pertunjukkan dan daya saing pabrikan Jepang. Mungkin dengan regulasi baru 2027 hal itu bisa diminimalisir, meski masih apatis sih.
      Bedanya dengan F1, orang ngga bakal ribut dengan dominasi Verstappen, Mercedes, atau Ferrari, meski ngga ngikutin lagi F1, tetap saja lebih menarik F1, karena dikemas lebih menarik , balapan baru selesai ngga lama langsung muncul highlightnya. Orang ngga terlalu risau sama dominasi Mercedes karena balapan dan dramanya lebih menarik, pengambilan gambarnya, nuansanya, terus jarang banget sirkuit kosong, mungkin karena masing2 tim punya die hardnya sendiri ya?

  3. Ha? Di F1 jg hak siarnya dipegang tv berbayar sejak zaman jebot, saat ini dipegang sky tv. Cm 3 negara yg nayangin F1 di tv free to air. Motogp ga bisa kya F1 karena emang dorna nya aja yg fokusnya ngeruk duit tanpa merhatiin kualitas event, makanya pas diambil liberty pun ttp ga ngaruh selama keluarga ezpeleta msh nemplok di situ. F1 bisa sukses karena sejak dulu eclestone udah bangun eksklusivitas, kualitas event selalu ditingkatkan, F1 jg aware sama isu2 global kya inklusivitas atau pemberdayaan perempuan, makanya F1 ttp relevan di mata audiens lama dan bisa narik audiens baru dari gen z bahkan gen alpha. Motogp? Sampe detik ini umbrella girl aja msh ada noh, di saat publik dan audiens balap modern melihat umbrella girl sebagai salah satu bentuk eksploitasi perempuan secara seksual, di F1 udah ga pake umbrella girl sejak 2018 dan diganti dengan grid kids, jauh lebih relevan secara norma dan sosial sekaligus numbuhin calon2 audiens baru di masa depan. Mekanik atau minimal kru paddock cewek di motogp? Kaga ada sama sekali. Di F1 bejibun mekanik cewek, apalagi yg cm kru paddock doang, lebih banyak. Supporting race untuk cewek di motogp? Kaga ada, world wcr malah nemplok di wsbk. Di F1 ada F1 academy sebagai supporting race khusus cewek. Klo mau dijabarin, banyak poin2 yg harus dikejar motogp klo mau setara dengan F1 dalam hal skala dan komersialisasi event supaya bisa narik audiens dalam jumlah masif.

    • Saya lebih setuju dengan pendapat ini dibanding mbah tordozi, dan ini jadi alasan utama. Lalu soal hak siar eksklusif ada sedikit pengaruhnya tapi tidak besar. Kemudian soal daya beli ticket, penonton F1 memang punya ekonomi yang lebih baik dari penonton motogp. Dan yang terakhir adalah kualitas dari penyelenggaraan motogp itu sendiri.

  4. Moto GP terlalu brutal dan beresiko, tidak semua penonton menyukainya…akhir pekan buat santai dan hiburan, bukan buat menyaksikan kehororan motoGP. Mungkin gaya hidup juga berpengaruh

  5. Kalau menurut saya balapan moto gp sekarang kurang menarik, silahkan tanya orang yang dulu suka nonton GP sekarang vakum, Pasti jawabanya sama.

  6. Sebenarnya yg mau jadi indikator itu jumlah penonton di tribun, atau penonton di tv (baik yg gratis ataupun bayar)?

  7. Gak gitu, F1 itu identik dengan mobil dan Motogp motor, jadi masyarakat atas akan condong ke mobil dan kurang memandang pada motor, dimanapun.

    • Sport, entertainment dan lifesstyle. Ketiga ini yang tiga tiga nya ga ada di Motogp. Bahas gampangnya kurang bergengsi.

  8. Bisa jadi angka di betting web kurang tinggi, jadi walaupun sebenarnya tontonannya seru tapi tidak terlalu banyak menyedot animo masyarakat. sebenarnya harusnya jadi pembanding itu WSBK, kenapa bisa turun ratingnya secara penggunannya lebih masif di jalan raya untuk produk turunannya.

    Lalu benar soal culture, di eropa tidak semua wilayah adalah culturenya motor. Dan mungkin produksi motor tidak semasif dan modifikasi tidak selonggar dulu. Seandainya Win Sunday, Selling Monday bisa terjadi lagi rasanya animo masyarakat pasti meningkat.

Comments are closed.

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP