Kritik Pedas Tardozzi untuk Pecco Bagnaia Usai Aragon: Ini Soal Pendekatan & Mental!

TMCBLOG.com – Bro sekalian, dinamika di dalam garasi Ducati Lenovo tampaknya sedang menghangat usai gelaran Grand Prix Aragon. Di saat Marc Marquez tampil impresif mengamankan kemenangan, situasi di sisi garasi Francesco Bagnaia justru berbanding terbalik. Davide Tardozzi, Team Manager Ducati Lenovo, memberikan tanggapan yang cukup menohok mengenai penurunan performa anak didiknya tersebut.

Pernyataan ini keluar setelah Pecco kembali mengalami akhir pekan yang sulit di MotorLand Aragon—sirkuit yang sejatinya memiliki histori manis bagi pembalap asal Italia itu saat mencetak kemenangan pertamanya di kelas premier pada 2021 lalu.

Penyebab Utama: Masalah Psikologis dan Pendekatan Balap

Tardozzi tidak menutupi fakta bahwa Ducati mengharapkan hasil yang jauh lebih baik dari Bagnaia di Aragon. Langkah-langkah teknis telah dicoba oleh para teknisi Borgo Panigale, namun masalah utamanya dinilai bukan lagi murni soal setup mekanis Desmosedici.

“Kami memperkirakan Bagnaia setidaknya berada di posisi lima besar di sini, tetapi nyatanya tidak. Kami mencoba sesuatu saat pemanasan (Warm-Up) yang tidak berhasil. Dia tidak memiliki kepercayaan diri, tidak mampu menekan, dan kami belum menemukan cara untuk mengatasi masalah ini,” ungkap Tardozzi.

Lebih lanjut, Tardozzi menunjuk aspek psikologis sebagai akar masalah yang membuat performa juara dunia dua kali itu seperti jalan di tempat.

“Saya pikir ini adalah masalah psikologis. Pendekatan (approach) yang dia lakukan terkadang membatasi performanya sendiri. Kami tidak meragukan bahwa dia cepat, tetapi sekarang dia harus melewati garis tipis antara memiliki kepercayaan diri dan ‘memejamkan mata’ untuk terus mencoba,” tegas Tardozzi.

Pencarian Grip Belakang yang Tak Kunjung Usai

Dari sudut pandang teknis pembalap, Pecco Bagnaia sendiri merasa bahwa kendala utamanya sejak seri Silverstone terletak pada hilangnya rear grip secara drastis. Pecco menyebutkan bahwa ban belakangnya mengalami penurunan performa (degradation) yang sangat cepat hanya dalam beberapa putaran saja, meskipun sudah mengubah pemetaan mesin (engine map) ke tingkat tenaga yang lebih rendah.

Kombinasi antara hilangnya sensasi alami saat berkendara dan tuntutan untuk tetap tampil cepat sering kali berakhir dengan insiden crash yang merugikan.

Dampak pada Perhitungan Konstruktor

Situasi Pecco ini jelas menjadi perhatian serius bagi manajemen Borgo Panigale. Mengingat musim depan Bagnaia dipastikan berlabuh ke kubu Aprilia Racing, Ducati membutuhkan kontribusi poin maksimal dari seluruh lini pembalapnya untuk mengamankan poin di klasemen konstruktor maupun membantu peta persaingan di papan atas.

Tardozzi pun tak segan memuji pembalap lain seperti Marc Marquez yang dinilainya tampil sangat cerdas dan matang dalam mengelola strategi balapan di Aragon, serta menyebut Pedro Acosta sebagai prospek masa depan yang sangat menjanjikan.

Melihat dinamika ini, pernyataan Tardozzi merupakan bentuk ‘lecutan’ terbuka bagi Pecco Bagnaia. Dalam balapan level tertinggi seperti MotoGP, ketika perbedaan antar motor makin tipis akibat regulasi aerodinamika dan perangkat elektronik yang makin seragam, faktor kesiapan mental serta mindset saat menghadapi tekanan akhir pekan memang memegang peranan sangat krusial.

Apakah Pecco mampu membalikkan keadaan dan menemukan kembali feeling berkendaranya di seri-seri mendatang sebelum berpisah dengan Ducati? Kita pantau bersama perkembangannya ya, Sob!

Taufik of BuitenZorg | @tmcblog

1 COMMENT

  1. PB dan FQ 2 org pmbalap yg sdh hilang motivasi musim ini.. pdhal pmbalap lain yg akan pindah masih pada semangat juga balapnya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

TERBARU

KONTEN PILIHAN

MOTOGP