TMCBlog.com – Sobat sekalian, seri MotoGP Inggris di Sirkuit Silverstone akhir pekan ini memang terbukti menjadi tantangan yang amat berat bagi Marc Marquez. Usai finis di posisi ke-7 pada balapan utama hari Ahad—di belakang Alex Marquez, Pedro Acosta, hingga Fabio Di Giannantonio—banyak spekulasi berhembus mengenai performa pembalap tim pabrikan Ducati Desmosedici tersebut.
Apakah ada kendala teknis pada motor? Ataukah masalah manajemen ban belakang seperti saat Sprint Race hari Sabtu?
Ternyata, Marc Marquez secara jujur dan ksatria menepis asumsi teknis tersebut. Pembalap bernomor start 93 ini mengakui secara terbuka bahwa perbedaan hasil antara dirinya dengan pembalap Ducati lainnya murni berasal dari dirinya sendiri.
“Perbedaannya Ada Pada Diri Saya”
Ketika ditanya oleh awak media mengenai perbedaan performa Desmosedici miliknya dibanding Alex Marquez dan Diggia yang berhasil finis di depannya, Marc tidak mencari-cari alasan.
“Tiga pembalap di depan saya telah melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Perbedaan antara motor saya dengan Ducati lainnya adalah saya sendiri; dan hal itu harus bisa diterima,” ungkap Marc Marquez dengan nada realistis.
Marc menambahkan bahwa faktor fisik, khususnya ketahanan bahu dan pemulihan pasca cedera panjang, masih menjadi aspek yang sangat membatasi performanya di sirkuit dengan karakter Flowing, high-speed dan quick direction change seperti Silverstone.
“Yang harus terus saya tingkatkan adalah daya tahan/ketahanan bahu (shoulder endurance). Saya memberikan yang maksimal untuk pulih dari cedera, tetapi tanpa tekanan berlebihan (stress),” lanjutnya.
Tetap Tenang dan Realistis Menghadapi Perburuan Gelar
Meskipun saat ini ia tertinggal 40 poin di tabel klasemen sementara World Championship, Marc mengaku tidak panik. Menurut pembalap asal Cervera ini, Silverstone memang sudah ia tandai sejak awal sebagai salah satu trek terberat musim ini yang harus dilewati dengan strategi bertahan.
“Saya tidak khawatir, karena saya realistis. Saya sudah bertarung cukup keras sepanjang hidup saya dan akan terus melakukannya, tapi dengan tenang. Target utama saya adalah menikmati proses di atas sepeda motor. Satu gelar juara dunia tambahan tidak akan mengubah hidup saya,” tutur Marc.
Mengenai hasil balapan Minggu, Marc juga menyebutkan bahwa posisi ke-7 secara hasil akhir adalah batas maksimal yang bisa ia capai hari itu, meskipun secara Terget kalkulasi kecepatan murni ia mengincar posisi Top 5. Berbeda dengan balapan Sprint di hari Sabtu saat degradasi ban Soft yang mengarah ke Graining mengacaukan skenarionya, pada balapan panjang hari Ahad manajemen ban belakang Medium sejatinya berjalan normal.
Sobat sekalian, seri Silverstone kini sudah ditinggalkan. Kalender MotoGP akan bergeser ke Sirkuit MotorLand Aragon—sebuah trek berlawanan arah jarum jam (anti-clockwise) yang sangat disukai oleh Marc Marquez dan secara historis menjadi salah satu “benteng pertahanan” utamanya.
“Sirkuit ini (Silverstone) memang sudah kami tandai merah (sebagai seri sulit). Namun sekarang akan hadir sirkuit-sirkuit di mana kami harus keluar untuk menyerang, karena saat ini saya tertinggal 40 poin,” pungkas Marc.
Marc Mengakhiri penyataan Bahwa Sejatinya Jika Ia atau Ducati Ingin Mengincar gelar 2027, pembenahan harus dilakukan dan tidak bisa hanya mengandalkan pada sirkuit sirkuit di mana Marc Kuat seperti berikutnya di Aragon
” Sekarang kita harus terus melakukan perbaikan. Jika ingin bersaing memperebutkan gelar juara, kita tidak bisa hanya mengandalkan balapan di sirkuit ‘kandang’. Kita harus tampil maksimal di setiap lintasan, dan saat ini kita belum mencapai level tersebut. “
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog





“Satu gelar juara dunia tambahan tidak akan mengubah hidup saya…”
Tahun-tahun sebelumnya Marc Marquez belum bisa mengatakan hal tersebut di atas.
Targetnya nyamain Rossi udah tercapai, makanya dia bilang gitu
saatnya versenang senang
Shoulder endurance rupanya yg jadi problem. Pantesan di awal race cukup bagus namun perlahan menurun terus.
Aduh masih ada red Mandalika lagi.
sepang juga
Tetap tenang Marc … bisa ayo bisa ….
Bisa finish point aja dah bagus, seperti kata Lorenzo, masih ada beberapa sirkuit yg dia bisa menangkan, dan disanalah lawan2nya harus waspada
Sadar diri dan tidak mencari² alasan 👍🏻
fisik soalnya
Nasib