TMCBLOG.com – Kabar mengejutkan datang dari garis depan medis MotoGP. Sebuah wawancara eksklusif El Periódico yang mengungkap tabir kesaksian dari Dr. Samuel Antuña—spesialis bedah ortopedi dan traumatologi di Rumah Sakit Ruber Internacional Madrid—mengenai kondisi paling update dari lengan kanan sang juara dunia 9 kali, Marc Marquez.
Jujur bro, fakta medis yang dibeberkan sang dokter bedah ini benar-benar bikin mengelus dada sekaligus makin kagum dengan daya juang Marc di atas Ducati Lenovo Team. Dokter Antuña secara gamblang menyatakan bahwa kondisi lengan kanan Marc pasca-insiden crash di Mandalika 2025 memang tidak akan pernah bisa kembali sama seperti semula.
Titik Balik Insiden Mandalika 2025
Sebelum insiden crash di Mandalika pada musim 2025 lalu, kondisi lengan kanan Marc sejatinya sudah mencapai level fungsi yang cukup memuaskan. Walau tidak pernah 100% simetris atau sekuat lengan kirinya akibat deretan operasi humerus dan bahu terdahulu, Marc kala itu sudah bisa membalap tanpa rasa sakit dan tanpa batasan yang signifikan.
“Kekuatan yang bisa ia salurkan dengan lengan kanan memang tidak sebanding dengan lengan kirinya. Namun, sebelum kecelakaan di Indonesia, dia dalam keadaan baik. Dia bisa membalap, tidak merasa sakit, dan tidak mengeluhkan apa pun. Kecelakaan di Indonesia itu mengubah segalanya,” ungkap Dr. Antuña.
Dislokasi, Cedera Saraf, dan Operasi Ke-7
Secara rinci, insiden crash keras di Mandalika 2025 tersebut menyebabkan dislokasi acromioclavicular yang disertai fraktur pada basis prosesus korakoid. Butuh waktu sekitar empat bulan untuk pemulihan dislokasi tersebut. Namun, problem paling krusial justru muncul belakangan.
Kecelakaan itu ternyata meng-geser fragmen tulang yang dulu pernah ditanam bertahun-tahun lalu untuk menstabilkan bahunya. Akibatnya, saat Marc memaksa tetap membalap, fragmen tulang tersebut secara dinamis menjepit/menekan saraf radial (radial nerve) di area brachial plexus!
“Dalam posisi tertentu saat balapan maupun latihan, Marc bisa kehilangan kendali penuh atas lengan kanannya secara mendadak. Itulah alasan utama mengapa ia kerap mengalami kecelakaan yang seolah tak masuk akal,” jelas sang dokter.
Hal ini memaksa Marc harus kembali naik meja operasi untuk operasi ketujuh pada lengan dan bahu kanannya, berkolaborasi dengan spesialis saraf perifer, Dr. Andrés Maldonado. Dokter membuang fragmen tulang penekan saraf serta melepas beberapa sekrup.
Fungsi Lengan Tidak Normal
Meskipun gejala penjepitan saraf sudah teratasi dan ada perbaikan signifikan, dampak dari deretan operasi berulang tetap meninggalkan bekas permanen. Dr. Antuña menjelaskan bahwa Marc mengalami atrofi dan anomali mekanis pada beberapa otot utama seperti latissimus dorsi, teres major, hingga penurunan kekuatan yang masif pada otot biceps.
Jika dirata-rata, kapasitas performa lengan kanan Marc saat ini diperkirakan tinggal separuh dari fungsi normalnya. ” Kekuatan lengan-nya sangat terbatas, terutama pada bagian bisep. Menurut saya, kekuatannya hanya sekitar lima puluh persen dari kapasitas normal.”
“Lengan itu sama sekali bukan lengan yang normal, dan tidak akan pernah menjadi normal kembali. Marc bahkan kesulitan hanya untuk bermain padel. Jika dia seorang Carlos Alcaraz (petenis profesional), dia sudah pasti harus pensiun,” cetus Dr. Antuña menggambarkan betapa terbatasnya fungsi fisik lengan tersebut.
Melihat fakta teknis medis di atas, jujur makin bikin bergidik bro. Di usianya yang menginjak 33 tahun, proses regenerasi dan pemulihan jaringan tubuh jelas tak secepat saat ia masih berusia 22 tahun. Namun, bagaimana seorang pebalap bisa terus meraih kemenangan di kasta tertinggi MotoGP hanya dengan mengandalkan kapasitas lengan kanan yang berada di kisaran 50%?
-
Adaptasi Riding Style Ekstrem: Marc secara konstan mengompensasi keterbatasan fisik dengan mengubah body position, redistribusi beban tubuh saat braking, serta teknik eksekusi apex yang tidak lagi bertumpu murni pada kekuatan biceps kanan.
-
Kondisioning Fisik & Mental: Kompensasi otot tubuh bagian kiri dan punggung dipaksa bekerja ekstra keras untuk menutupi defisit fungsi lengan kanan.
-
Talenta & Feeling: Di saat atlet cabang olahraga lain mungkin sudah memilih pensiun dini akibat cedera seberat ini, Marc Marquez membuktikan bahwa kombinasi paddock IQ, adaptasi gaya balap, dan determinasi tinggi mampu mengalahkan keterbatasan fisik yang terbilang ekstrem.
Sungguh sebuah kesaksian medis yang membuka mata kita semua bahwa apa yang ditampilkan Marc Marquez di atas lintasan saat ini adalah sebuah aksi kompensasi fisik tingkat tinggi yang amat luar biasa.
Taufik of BuitenZorg | @tmcblog





Makin salut sama marq, cedera terakhir gara² marcobez 😔
Dari sini sdh jls, memang levelnya jauh berbeda. Pasien obat jalan msh bs ngimbangin bahkan ngalahin atlet yg seger bugar.
Kasus marc ini yg akhirnya jadi pelajaran berharga bagi atlet2 balap lainnya agar tidak terburu buru comeback ketika mengalami cedera karena beresiko cedera yg lebih besar.